Loading...

Bijak Mengatur Waktu, Jadikan Hidup Lebih Bermakna

“ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan naseha...



Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(QS Al ‘Ashr : 1-3)

Penjelasan Surat
Surat yang mulia ini berisi penjelasan global tentang kiat untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kiat untuk lepas dari kesengsaraan dunia dan akhirat, kiat untuk memperbaiki diri dan masyarakat, serta kiat untuk meraih ridha Allah yang menjadi tujuan dan dambaan setiap insan mukmin.

Ulama menjelaskan tinjauan kebahasaan Surat Al-‘Ashr ini, bahwa Allah mengawali surat ini dengan kalimat sumpah (qasam) yaitu Wal ‘Ashr. Maknanya, surat ini seyogyanya mendapatkan perhatian lebih dari umat manusia. Kata Al-‘Ashr berasal dari kata ‘ashara. Kata ini berarti “menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam dari padanya nampak ke permukaan atau keluar”. Atau singkatnya:  “memeras”.

Maka bila dilihat dari cakupan isi yang telah disebutkan tadi, didapati bahwa surat ini telah memuat intisari dari risalah keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk menghambakan dirinya secara benar kepada Allah yang berpenghujung pada sampainya mereka kepada kebahagiaan abadi yang menjadi impian dan dambaan setiap yang menginginkan perjumpaan dengan Allah dan kenikmatan di hari akhirat. Olehnya sangat wajar jika kemudian surah ini menjadi bahan wasiat para sahabat ketika mereka bertemu dan hendak berpisah. Abu al Madinah ad Daarimiy –radhiyallahu ‘anhu- berkata;
“Dahulu bila ada dua orang sahabat Rasulullah SAW berjumpa dan keduanya hendak berpisah, maka salah seorang dari mereka membaca surah al Ashr, lantas ia mengucapkan salam, kemudian keduanya pun berpisah.”
Imam as Syaafi’e –rahimahullah- berkata; “Andai saja tidak turun satupun surah melainkan surah ini, niscaya cukuplah surah ini bagi manusia.”
Allah -mengawali ayat ini- bersumpah dengan menyebutkan waktu “Ashar” yang merupakan bagian dari masa. Hal ini mengisyaratkan urgensi waktu dalam kehidupan manusia, dimana kualitas mereka di sisi Allah adalah tergantung sejauh mana efisiensi pemanfaatan waktu mereka di dunia ini. Bila mereka dapat memanfaatkan usia mereka di dunia ini dengan hal yang diridhai oleh-Nya, maka baiklah yang akan mereka tuai di akhirat kelak. Tetapi jika sebaliknya, niscaya penyesalanlah yang kelak akan mereka dapatkan.


Arti Pentingnya Waktu
Para ulama menyepakati kata ‘Ashr pada ayat pertama surah Al-ashar berarti waktu, manusia terikat erat dengan waktu akibat pergantian siang dan malam. Kesadaran mereka tentang waktu terbagi dalam bentuk detik, menit, jam, hari, bulan, tahun dan seterusnya. Sekali waktu melewati anak manusia, saat itu pula ia hilang dan tak pernah kembali. Karena itu, waktu adalah modal utama bagi manusia. Bila waktu tidak diisi dengan kegiatan bermanfaat dan mendatangkan hasil, ia akan berlalu begitu saja. seketika itu pula, jangankan memperolah keuntungan, modal pun tak kembali.
Tentu bukan tanpa maksud ketika Allah setelah bersumpah “demi waktu“ pada ayat pertama surat Al-Ashr, kemudian melanjutkan ayat kedua “sesungguhnya manusia berada dalam kerugian,” ini karena manusia memang harus selalu diingatkan soal penggunaan waktu, mereka sernig lalai mengaturnya.

“Dua nikmat yang sering dilupakan (disiakan-siakan) banyak manusia: kesehatan dan waktu,” demikian Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya.
Rasulullah SAW pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau memegang pundaknya lalu bersabda ; “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.”
Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah SAW memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau SAW mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy)

‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita ;
 “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”
(HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)
Bijak dan Pandai Mengatur Waktu
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW bersabda ; “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim);

Al Munawi mengatakan :
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup)
barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.”

Pandai mengatur dan menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam.

Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk mengatur dan menjaga waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.

Waktu adalah kehidupan, karenanya barang siapa yang menyia-nyiakan waktunya maka sungguh dia telah menyia-nyiakan hidupnya. Manusia mengira bahwa waktu luang adalah waktu untuk bersantai sehingga mereka membiarkannya. Sungguh mereka inilah orang-orang yang tertipu dan yang mendapatkan kerugian di dunia dan terlebih lagi di akhirat, karena semua waktu luang yang dia miliki akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.

Para ulama kita menyatakan bahwa di antara sebab terbesar menyimpangnya seseorang adalah tatkala dia mempunyai banyak waktu luang yang tidak dia manfaatkan dengan baik. Karena di antara jalan masuknya setan untuk menggelincirkan manusia adalah pada waktu luang ini dimana hati kosong dari kegiatan. Ulama as-salaf berkata, “Jika hati kosong dari zikir kepada Allah maka akan diisi oleh zikir kepada syaitan, dan itu pasti.” 

Hassan Al-Basri mengatakan, "Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, mala akan hilang pula sebagian  dirimu." Ja'far bin Sulaiman berkata bahawa dia mendengar Ro'biah menasihati Sufyan Ats Tsauri, "Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hapir-hampir sebagian harimu berlalu, lau hilanglah seluruh dirimu (mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah. Imam Asy-Syafi'e rahimahullah pernah mengatakan "Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidak mendapatkan pelajaran darinya selain dua perkara :
Dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkan), maka dia akan memotongmu (membahayakanmu). Dan Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik (haq) pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, "Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan azab yang pedih. ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan. Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah kepada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya dianggap seperti kehidupan binatang ternak. Jika waktu hanya dihabiskan untuk perkara-perkara yg membuat lalai, untuk sekadar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan ( sia-sia ), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya."

Ibnu Quddamah r.a menasihati kita untuk selalu menghargai waktu. "Ketahuilah, waktu hidupmu terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desah nafas akan mengurangi sebagian dari dunia. Setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tidak ada bandingannya," Demikian ucap Ibnu Quddamah. Dia melanjutkan bahwa satu desah nafas bila digunakan untuk kebaikan, akan bernilai ribuan tahun dalam kenikmatan. Tapi sebaliknya, satu desah nafas bisa menciptakan kesengsaraan ribuan tahun. Jika kita memiliki mutiara dunia, pasti kita sangat terpukul saat mutiara itu hilang. Tentu kita akan terpukul ketika mutiara itu hilang, yaitu saat kita menyia-nyiakan jam demi jam dari waktu-waktumu. Dan bagaimana kita tidak bersedih bila kehilangan usia sia-sia kita tanpa ada yang bisa menggantikannya?
***




# buletin salahuddin KPDJP
Hikmah 5253357710154231944

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan