Loading...

Curi Saja Uangnya, Halal!

Sore itu, saya dipaksa oleh seorang teman untuk mendampingi sebuah majelis ibu-ibu dengan kisaran usia paruh baya menjelang renta. Tempa...



Sore itu, saya dipaksa oleh seorang teman untuk mendampingi sebuah majelis ibu-ibu dengan kisaran usia paruh baya menjelang renta. Tempatnya di daerah pesisir pantai. Awalnya saya menolak, karena belum berpengalaman menghadapi ibu-ibu.

Dan kemudian saya tahu, andai sore itu langkah kaki saya tak sampai ke rumah dua tingkat di sudut gang sempit itu, maka saya lah yang merugi. Karena ternyata ada begitu banyak pelajaran berharga dari kisah mereka.

Jumlah mereka sekitar dua puluhan, saya disambut oleh tatap mata penuh semangat. Menyalami mereka satu persatu, saya gugup. Sebisa mungkin saya tepis rasa itu, toh manusia sekaliber nabi Musa juga pernah merasa gugup. Doanya nabi Musa saya jadikan bekal.

“Ustadzah, kalau suami kita pelit, duitnya terus aja dihitung-hitung, diulang-ulang, hitung lagi, lagi.. gitu terus, tapi untuk belanja hari-hari susah banget ngeluarin duit, itu kalau saya nyuri aja duitnya gimana ya?”

Apaaaa? Ustadzah? Ampuuuuuuun, saya malu dipanggil begini, ilmu saya masih dangkal banget. Apalagi terakhir saya baru tahu kalau di Arab sono, gelar ustadz atau ustadzah itu melekat pada mereka yg sudah professor. Nah loh…

Tapi demi mendengar pertanyaan itu, rasa malu tadi menguap, terganti dengan rasa geram, gemes, dan saya bener-bener terbawa perasaan, saya marah!

“Halal Bu, gapapa curi aja”. Tegas saya mantap.

“Iya ustadzah, memang selama ini saya curi aja uangnya”

“Yak.. bagus!”

Saya memperhatikan ke sekeliling, kelihatan dari mimik muka peserta yang lain agak bingung mendengar penjelasan singkat saya. Baru kemudian saya mendengar kepenasaran seorang ibu “Bener boleh mencuri ya?” Tanya nya polos.

Emosi saya sedikit mereda berganti dengan senyum demi mendengar tanya polos itu. Allah… sayangi mereka.
Para ulama’ telah menetapkan kewajiban bagi seorang suami untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Kewajiban memberi nafkah ini didasarkan pada beberapa dalil, diantaranya firman Allah:

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

“Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya” (Q.S. Ath-Tholaq : 6)
Dan firman Allah;

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara yang baik” (Q.S. Al-Baqarah : 233)

Karena itulah, apabila seorang suami yang mampu tidak memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, maka diperbolehkan bagi istrinya untuk mengambil uang suaminya tanpa sepengetahuannya. Ketentuan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah A’isyah radhiyallahu ‘anha;

أَنَّ هِنْدَ بِنْتَ عُتْبَةَ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ، فَقَالَ: «خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ، بِالْمَعْرُوفِ

“Sesungguhnya Hindun binti Utbah berkata, "Wahai Rosululloh, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang pelit, ia tidak memberikan kecukupan nafkah padaku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya dengan tanpa sepengetahuannya." Maka beliau bersabda: "Ambillah dari hartanya sekadar untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga anakmu." (Shohih Bukhori, no.5364)

Namun diperbolehkannya seorang istri mengambil uang suaminya hanya sebatas nafkah yang wajib bagi suami untuk istri dan anak-anaknya dan tidak diperbolehkan lebih dari itu. Sedangkan kadar nafkah yang wajib adalah sebatas kecukupan pada umumnya sebatas dari kemampuan suami, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah;

. لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (Q.S. Ath-Tholaq : 7)

Dan hendaknya hal ini hanya dilakukan jika memang sudah tidak bisa lagi dirundingkan baik-baik dengan suaminya, demi menjaga ketentraman dan keutuhan rumah tangga.

Benarlah nasihat pernikahan dari guru ngaji saya saat memulai proses menuju pernikahan. “Dek.. pilih suami jangan yang pelit, capek hati. Mending pilih yang boros, gapapa deh, bisa kita yang jadi remnya”

Karena kemudian seorang ibu yang lain bercerita tentang pertanyaan titipan temannya yang suaminya seorang ustadz, sering wara-wiri ngisi pengajian, segala lakunya baik, uangnya banyak, kecuali satu, pelit! Karena tau istrinya berpenghasilan, si suami tiap bulannya hanya menyediakan beras thok saudara-saudara!

Si ibu menanyakan pendapat saya.

“Curi saja Bu, Halal. Kalau pencurian tak berhasil, ya sudah di meja makan nanti hidangkan saja beras itu, jangan dimasak ya Bu..”

“Loh.. kenapa ga dimasak?”

“Uang darimana untuk memasak? Masak pake penanak nasi itu perlu ada aliran listrik, dan tagihan listrik yang datang tiap bulan gak bisa dibayar dengan beras”

Masya Allah.. saya benar-benar geram, ada ya ternyata di dunia model suami seperti ini. Diluar sana ada satu milyar pria di muka bumi, untuk yang masih lajang, inget itu, jangan pilih suami yang pelit!

Referensi :
1. Al-Fiqhul Manhaji Ala Madzhabil Imam Asy-Syafi’I, Juz : 4 Hal : 170 – 173
2. Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 9 Hal : 508 – 509

Lhokseumawe, 13 Januari 2015
Keluarga 7057309165805041541

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan