Loading...

Rindu Dalam Diam, Dalam Doa Yang Tak Putus

Cita-cita hidupnya tidak muluk, ia hanya ingin menginjakkan kaki ke Baitullah. Rindunya ke tanah haram membuncah, luruh bersama tangis d...



Cita-cita hidupnya tidak muluk, ia hanya ingin menginjakkan kaki ke Baitullah. Rindunya ke tanah haram membuncah, luruh bersama tangis di setiap sujud panjangnya.

Anaknya sepuluh, jumlah yang tak sedikit. Egois pikirnya, jika hanya untuk mewujudkan mimpinya, ia biarkan anak-anaknya tak makan, walau kewajiban nafkah tak ada di pundaknya. Toh sama saja, suaminya yang seorang petani pun tak bisa menjanjikan untuk mewujudkan mimpi istri tercinta.

Anak gadisnya putus sekolah, masalahnya klasik, tak ada biaya. Sepertinya ia harus merelakan mimpinya tetap menjadi mimpi. Begitu banyak ujian hidup yang harus dilaluinya, dua anaknya meninggal, rumahnya rata tersapu tsunami, di saat yang sama, mendadak penglihatan suaminya bermasalah, suaminya terserang katarak akut, nyaris buta.

Memang bukan hal yang mudah mendampingi suami yang sering sakit-sakitan ditambah sedikit agak rewel pada menu santapan harian.

Usianya kian menanjak tua, perlahan hidupnya membaik, rumahnya dibangun kembali oleh pemerintah setempat, salah satu anaknya diterima sebagai PNS, anaknya yang lain mendapat beasiswa melanjutkan kuliah tingkat sarjana di ITB, anak yang lain menyusul diterima beasiswa program pascasarjana di Surabaya.

Suaminya pun bisa menjalani operasi mata dengan lancar, setelah hampir lima tahun gelap setia menemani harinya, kedua matanya kembali bisa melihat dunia. Alhamdulillah, pujinya tak henti kepada yang Maha Kuasa.

Melihat kondisi ekonomi anak-anaknya mulai membaik, ia merasa semakin dekat dengan mimpinya. Ah... tapi sungkan rasanya meminta anaknya untuk mewujudkan mimpinya, anaknya sudah pada berkeluarga, dikunjungi sesekali oleh mereka saja bahagianya tak terkira.

Melihat anaknya mulai membeli tanah, membangun rumah, membeli mobil, sesekali liburan ke luar negeri, rasanya mereka punya cukup uang untuk memberangkatkan emaknya ini ke tanah suci. Ah, sudahlah, dianggap lancang mungkin nanti oleh mereka ketika emaknya ini menginterupsi hidup anak-anak yang terlihat mapan itu.

Belum lagi mereka telah bersuami atau beristeri, apa rida nanti pasangan hidupnya begitu tahu permintaan seorang renta ini. Mereka pasti punya segudang alasan, mengingat usianya sekarang 73 tahun, alasan kesehatan dan fisik yang tak lagi prima saja sudah cukup untuk mematahkan impiannya.
Biarlah rindu berkunjung ke tanah haram tetap menjadi rindu dalam diam, dalam doa yang tak putus.

Tapi tidak demikian halnya dengan langit, langit mencatat setiap pintanya, menyaksikan kesabaran yang terindah yang pernah mereka saksikan. Kekuatan menerima segala takdir yang telah ditetapkan, masih bisa tersenyum penuh kesyukuran atas segala ujian hidup yang menimpa.
Allah…

Jika saja kalian ada di sana, menyaksikannya menangis menatap Kakbah nan agung. Melaksanakan thawaf nan syahdu bersanding dengan putra tersayang. Ah… Malaikat pun tersenyum menyaksikan episode yang menyenangkan ini.

Berkali-kali ia menghapus airmatanya, seakan tak percaya mimpinya diwujudkan Tuhan. Binar matanya tak bisa berbohong, kalaulah berteriak di masjidil haram diijinkan, maka inilah teriakannya, “Terimakasih ya Rabb, saksikan seorang miskin, renta dari kampung yang jaraknyanya ribuan kilometer dari kiblatmu, hari ini hadir di sini karena kekuatan doa.”

Duhai kalian yang masih ragu akan kekuatan doa, lihatlah aku, apakah ragu itu masih ada?

Lhokseumawe, 14 Januari 2014

By: Fri Okta Fenni
Pegawai KPP Pratama Lhokseumawe
Hikmah 2500295802881344380

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan