Loading...

Bentuk Ibadah Seorang Pegawai Negeri

“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembah)-Ku” QS. Adz-Dzariyat; 56 Merenungi ayat tersebut membuat ...

“Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembah)-Ku”
QS. Adz-Dzariyat; 56

Merenungi ayat tersebut membuat hari-hariku dipenuhi kebimbangan. Saat itu belum ada panggilan dari Kementerian Keuangan untuk penempatan alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara lulusan tahun 2012. Banyak hal yang kukhawatirkan, apakah menjadi PNS adalah pilihan yang terbaik? Waktu kerja yang full day, bekerja di balik meja dan melakukan hal-hal administratif akan mengurangi banyak waktu ibadahku. Sementara, aku bisa melakukan hal lain yang lebih bernilai di mata Allah swt., seperti mengajar anak dhuafa yang mana juga merupakan hobiku, misalnya. Sedangkan duduk di balik meja? itu bukan cita-citaku.

Beberapa kali aku merencanakan untuk resign dari ikatan dinas STAN menggunakan uang rapelan gaji nantinya. Namun kembali urung ketika teringat akan harapan orang tua dan keluarga besar untuk melihat anaknya bekerja di Kementerian Keuangan. Mereka sangat bangga denganku, terlihat dari wajah mereka saat bercerita dengan rekan sejawat ataupun tetangga sejak aku masih berkuliah di STAN. Ketika mereka ditanya “anaknya kuliah dimana?” “di STAN”, jawab mama papa dengan senyum berkembang. Duhai, anak mana yang tega melihat kebahagiaan orang tuanya pudar bahkan ketika anak itu belum bisa memberikan kebahagiaan lain untuk orangtuanya. Maka, kubulatkan tekad untuk menapaki jalur ini sambil memohon pada Allah agar diberikan keberkahan atas pilihanku.

Sekarang, di sini lah aku, duduk di balik meja di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Aku resmi bekerja di sini setelah muncul pengumuman definitif untuk penempatan angkatan kami. Alhamdulillah, rasa senang dan syukur kupanjatkan atas rezeki-Nya, meski belum sepenuh hati. Kujalani setiap harinya bekerja dengan baik dan profesional mulai pukul 07.30 WIB sampai malam hari, kebetulan aku mendapat amanah untuk bekerja di bagian dengan workload yang cukup tinggi dan menuntut loyalitas yang baik pada atasan, sehingga jam pulangnya juga tidak sama dengan rekan-rekan yang lain. Sampai suatu hari Allah pun memberikan petunjuk untuk kebimbanganku...

Aku mendapatkan atasan seorang yang –insyaallah- shalih dan tidak segan memberikan nasihat pada anak buahnya. Dari hari pertama aku dan temanku melapor ke ruangannya, beliau sudah berpesan, “niatkan bekerja di sini sebagai ibadah. Sambil ngetik tu sambil dzikir, terus ingat sama Allah”. Kalimat itu diulang berkali-kali setiap beliau datang ke ruangan kerja kami. Beliau juga sering berpesan untuk jangan penah meninggalkan shalat dhuha “minimal 2 rakaat, lebih bagus lagi kalau 4, tapi rutin”. Selain itu, Bapak kami ini juga memberikan teladan bagaimana menjadi pegawai negara yang baik sekaligus menjadi hamba Allah yang taat. Sebagai pegawai, beliau memimpin unit kerjanya dengan baik, perbaikan-perbaikan terus dilakukan, mengayomi bawahan serta berinteraksi dengan baik terhadap atasan. Di samping itu, beliau juga rajin shalat 5 waktu di mesjid dan berdiri di shaf paling depan, mengaji dan berdzikir, serta mengingatkan rekan-rekan kerjanya dalam beribadah kepada Allah swt. Beliau telah memberikan inspirasi dan contoh nyata dalam bekerja dan beribadah secara seimbang.

Dulu, beliau juga pernah berpesan, “bila perlu lantai 5 itu dingajiin aja”, kami pun tersenyum menanggapi guyonan beliau. Masa’ ngaji di ruangan, kan nggak enak dilihat pegawai lain, batinku. Tapi ternyata sekarang nasihat beliau menjadi kenyataan. Memasuki bulan Ramadhan, pekerjaan kami tidak berkurang, sedangkan kami harus tetap memuliakan bulan Al-Quran ini, bulan dimana para ulama menghabiskan waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan Al Qur’an. Sehingga, sekarang kami pun tidak segan mengaji di meja kerja ketika sedang tidak ada kerjaan.
Selain memaksimalkan ibadah di tengah-tengah jam kerja, pekerjaan yang kulakukan juga diniatkan ibadah. Karena sejatinya pekerjaan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, adalah untuk mendukung tujuan negara dalam menyejahterakan masyarakat. Sekeras apa pun kita bekerja sebagai PNS, itu bukan sebuah kerugian karena kita telah bekerja untuk negara. Berbeda jika kita bekerja di perusahaan swasta, kerja keras yang kita lakukan, adalah untuk menambah keuntungan pemilik perusahaan. Dengan mindset ini lah aku menjadi yakin kalau aku harus bekerja dengan baik karena kerjaku juga merupakan ibadah.




__________________________________
REFITA PUTRIANA
Bagian Umum


Inspirasi 2794429648536448150

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan