Loading...

De’ Zee

            Ramadhan tahun lalu menjadi salah satu ramadhan paling penting bagi hidup saya dan keluarga. 3 Ramadhan, 12 Juli 2013. Tuhan...



            Ramadhan tahun lalu menjadi salah satu ramadhan paling penting bagi hidup saya dan keluarga. 3 Ramadhan, 12 Juli 2013. Tuhan melimpahkan karunia rezekinya dengan kelahiran anak kedua saya, babinian lagi. Alhamdulillah, semua ucapan syukur terangkat dari lisan untuk Ar-razzaaq, sang pemberi rezeki. Betapa bahagianya melihat wajah sang bayi. Merah, lucu, imut, tembem, dan bungas. “ah gemas kali kau nak !”. Saya dan istri sepakat memanggilnya De’ Zee. Ramadhan membawa kebahagiaan, De’ Zee menghadirkan keceriaan.

            Ikterus Patologis, Jaundice, Bayi Kuning. Beberapa istilah medis yang menyertai kelahiran De’ Zee. Memaksa De’ Zee ber-ramadhan lebih lama di rumah sakit. Sendirian, dalam inkubator dengan sinar biru, berkelambu ungu, mata yang tertutup plester berbahan kasa, pampers newborn yang masih kebesaran, tanpa boleh dikenakan pakaian agar sinar membaluri sekujur tubuhnya. Saya yakin Al-Jabbar, Sang maha kuat sedang menguatkan De’ Zee, dan juga Saya. Ramadhan menuntut kesabaran, De’ Zee mengajarkan keikhlasan.

            Saya memahami tidak semua dari anda menemui, atau memiliki figur De’ Zee. tapi bereaksi terhadap situasi yang menuntut kesabaran dan keikhlasan tidak harus selalu dengan kehadiran figur. seringkali anda cukup berada dalam situasinya, bukan berhadapan dengan figurnya. Dalam bahasa yang sederhana saya ingin mengatakan saat ini adalah momentum yang tepat untuk anda melatih dan menyempurnakan determinasi keikhlasan anda. Ramadhan, bulan penuh keistimewaan. Inilah situasi yang anda butuhkan.

            Berbicara ramadhan, saya rasa inilah satu-satunya fase kumpulan hari dalam durasi 30 hari yang dinantikan sebagian besar penduduk dunia. berbagai predikat melekat secara default kepada ramadhan. Mulai bulan penuh hikmah, bulan penuh rahmat, bulan kemuliaan, dan lain sebagainya. Saya yakin tidak ada satupun muslim yang tidak bersyukur Allah menyediakan ramadhan dalam satu siklus tahunan satu kalender. Pahala yang berlimpah, ampunan yang terserak, inflasi yang tinggi, potensi PPN yang meningkat. Dan saya juga yakin anda semua lebih faham dibandingkan saya tentang mengapa ramadhan begitu istimewa.

            Salah satu hal spesifik yang hanya ada dalam ramadhan adalah kewajiban berpuasa didalamnya. Ibadah wajib yang tertera dalam sila ketiga rukun islam. Ibadah yang lebih efektif dan efisien dalam proses internalisasi corporate value kementerian keuangan dalam hal nilai-nilai integritas. Ini adalah dasar asumsi saya bahwa ramadhan adalah moment yang anda butuhkan untuk belajar ilmu ikhlas. Premis mayornya adalah karena ada kewajiban shaum, berpuasa dibulan ramadhan.

            Tentu menjadi pertanyaan mengapa berpuasa di bulan ramadhan menjadi fase yang dibutuhkan dalam proses menuju keikhlasan? Saya rasa hadist berikut bisa membantu proses berfikir kita. “Bukanlah berpuasa dari makan dan minum, sesungguhnya puasa yang sebenarnya adalah dari Al Laghwu (Perbuatan sia-sia) dan Ar Rafats (Perkataan kotor, atau perkataan yang berkaitan dengan pergaulan lelaki dengan perempuan, dan seluruh kata yang mengandung syahwat), dan jika seorang mencelamu atau mengajak bertengkar denganmu maka katakanlah : “Sesungguhnya aku seorang yang berpuasa, sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

            Salah satu kesimpulan hasil kajian dari hadits diatas, bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat perfectionist. Berpuasa tidak hanya melakukan seperti denotasi dari kata puasa itu sendiri. Tapi berpuasa ternyata merupakan perihal yang lebih kompleks. Berpuasa juga menuntut anda berlepas dari setidaknya dua hal, Al Laghwu dan Ar Rafats. Dan menuntut upgrading level kesabaran anda dengan menghindari pertengkaran dengan closing statement yang diajarkan, “Sesungguhnya aku seorang yang berpuasa, sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.”

            Dalam hadits lain yang bernuansa sufistik, dikatakan bahwa “Jika kamu berpuasa maka berpuasalah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan hal-hal yang diharamkan dan tinggalkanlah menyakiti tetangga, dan bersikaplah penuh wibawa dan ketenangan pada hari puasamu dan janganlah kamu jadikan hari berbukamu dan puasamu sama” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

            Kedua hadist diatas secara jelas menyimpulkan bahwa berpuasa sangat menuntut kesempurnaan. Berpuasa tidak sebatas menikmati sensasi haus dan dahaga, tapi justru mengawal perilaku dan naluri dasar manusia. Maka adalah wajar ketika sebagian besar dari kita berpuasa hanya mendapati rasa haus dan perihnya lapar tanpa memperoleh pahala setimpal dari apa yang telah dilakukan.

            Menjadi hal yang lumrah ketika suatu ibadah berat dikerjakan, sebagai umat menuntut imbalan pahala yang setimpal. Tetapi dogma ini tidak berlaku untuk ibadah puasa. Dalam satu hadits dijelaskan bahwa “setiap amalan anak Adam dilipatkan, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuhratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman : “kecuali puasa, karena sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya, (karena) ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

            Sekilas anda akan melihat ibadah puasa mengandung sifat anomali, ibadah berat tapi dengan ganjaran pahala yang tidak jelas kalkulasinya. Saya sependapat dengan anda yang mengatakan agama dan ibadah bukanlah hal yang bersifat matematis. Tapi disinilah hal paling substansial dari ramadhan dan shaum-nya dibutuhkan. Keikhlasan !!!

            Saya mengambil definisi ikhlas (keikhlasan) dari ulama ibnul Qayyim Rahimahullah. “Ikhlas adalah kamu tidak menuntut seorang yang menyaksikan atas amalanmu selain Allah, dan tidak mencari yang memberikan ganjaran atas amalanmu selain-Nya.” Definisi diatas saya rasa cukup jelas untuk menjelaskan harfiah kata ikhlas. Namun, saya juga mempunyai metode pemahaman terhadap definisi ikhlas dengan menarik benang merah dengan definisi Pajak dalam Undang-Undang KUP, khususnya pada kalimat kontraprestasi. Secara sederhana kalimat kontraprestasi, alih-alih menuntut kesadaran seyogyanya juga menuntut keikhlasan dari Wajib Pajak dalam membayar pajak. Sehingga simpulan Saya perbuatan yang tidak menuntut imbal balik secara langsung sejatinya termasuk dalam definisi ikhlas.

            Tentu akan menarik membahas seperti apa kedudukan ikhlas dalam kajian teologi islam. Dalam beberapa literatur dan kajian mengatakan bahwa ikhlas adalah pokok dasar kesuksesan dan kemenangan dalam mencapai cita-cita didunia dan diakhirat. Ikhlas diibaratkan pondasi dasar dari sebuah rukun suatu ibadah. Jika kita korelasikan Ramadhan, puasa (shaum) dan ikhlas. maka ramadhan dan kewajiban berpuasanya mempunyai andil besar dalam membentuk kepribadian muslim menuju gelar mukhlisin. Sehingga sifat ikhlas mampu tertanam sebagai pondasi untuk rangkaian ibadah selanjutnya dalam proses aktualisasi diri sebagai muslim. Ketika suatu amalan ibadah yang dilakukan terlepas dari mentauhidkan Allah, dan ikhlas beramal hanya kepada-Nya. Maka Allah menjadikannya sebagai sesuatu seperti yang tidak ada. Allah berfirman : “dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqan : 23)

            Dan Ramadhan tahun ini, figur De’ Zee kembali menghias ramadhan Saya. Akhir pekan lalu De’ Zee merayakan milad pertamanya. Saya tidak berfikir memberinya sebuah kado. Hanya sepotong kue kecil hello kitty dengan cream putih dan biru yang saya siapkan. Justru De’ Zee yang memberikan kami kado, beberapa hari terakhir tingkahnya lebih lasak dibandingkan sebelumnya. Selalu berontak ketika di gendong, memaksa berdiri didekat tembok, menegakkan kaki dan tubuh sempoyongan, lantas mulai berjalan beberapa langkah. De’ Zee memberikan kado berupa “kebisaannya” mulai berjalan. Ah memang ramadhan penuh keceriaan. De’ Zee menyempurnakan keceriaan.






___________________________________

Solok, 14 Juli 2014
M. Indra Gunawan
KPP Pratama Solok
Ramadhan 4187695172217199786

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan