Loading...

Keteguhan Akhlak

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”   (QS Al Qalam : 4) Di sudut pasar Madinah ada seorang pen...



“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”  
(QS Al Qalam : 4)

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abu Bakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan adalah merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah itu?”, tanya Abu Bakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?” Abu Bakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadah di hadapan Abu Bakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Kisah di atas adalah sebagian dari contoh betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Membicarakan akhlak Rasulullah SAW, itu artinya seperti menimba kesejukan dari oase yang tiada akan pernah ada habisnya.

Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita, bahwa misi utamanya adalah menyempurnakan akhlak mulia. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Bukhari).
Matinul khuluq (akhlak yang kokoh) merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an.
Di antara sifat-sifat mulia yang perlu untuk dimiliki oleh seorang muslim sebagai bekal berakhlakul karimah sesuai dengan keteladanan Rasulullah SAWA adalah sebagai berikut :

Wara’ (Berhati-hati dari Syubhat)
Seorang Muslim hendaknya menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan mengambil jarak dari hal-hal yang syubhat. Rasulullah SAW dalam bersabda :
“Yang halal itu telah nyata, yang haram juga telah nyata dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat itu, berarti ia telah membersihkan Din-nya dan kehormatannya. Barangsiapa yang melakukan hal-hal yang syubhat itu, sungguh ia telah melaksanakan yang haram. Seperti seorang gembala yang menggembala di sekitar tempat terlarang, mungkin terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tempat terlarang. Ingatlah larangan Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam itu ada segumpal darah yang apabila ia baik maka baik pulalah seluruh jasadnya dan apabila rusak, maka rusak pulalah seluruh jasadnya. Itulah hati!” (Muttafaq ‘Alaih)
Adapun tingkat wara’ yang paling tinggi adalah seperti disebutkan Rasulullah: “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat Muttaqin sehingga ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak mengandung dosa untuk menjaga diri dari hal-hal yang mengandung dosa.” (HR At-Tirmidzi)

Menjaga Lidah
Bahaya lidah sangat besar. Rasulullah saw. ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam sorga, lalu beliau bersabda: “Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.” Dan beliau ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, kemudian beliau bersabda: “Dua hal yang kosong: Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

Mu’adz bin Jabal berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?” Nabi saw. bersabda: “Bagaimana kamu ini wahai Ibnu Jabal, tidaklah manusia dicampakkan ke dalam api neraka kecuali karena akibat lidah mereka.” (HR. Tirmidzi). Nabi saw. bersabda:
“Simpanlah lidahmu kecuali untuk kebaikan, karena sesungguhnya dengan demikian kamu dapat mengalahkan syetan.” (HR. Thabrani, Ibnu Hibban).
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya.” (HR. Thabrani, Ibnu Abu Dunya, al-Baihaqi). Dari Shafwan bin Sulaim, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlaq yang baik.” (HR. Ibnu Abu Dunya)

Tawadhu’ (Rendah Hati)
Terutama dikalangan saudara-saudaranya sesama Muslim. Jangan hendaknya ia membeda-bedakan antara yang kaya dengan yang miskin. Rasulullah saw. sendiri pernah berlindung kepada Allah dari sifat sombong.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan” (HR. Muslim)
Dalam hadits qudsy, Allah berfirman : “Kemuliaan adalah sarung-Ku dan keagungan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa yang menentang-Ku dalam salah satunya, niscaya Aku menyika dia.” (HR. Muslim).

Rasulullah saw. bersabda: Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seorang yang mema’afkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang bertawadhu’ (merendah diri) karena Allah, melainkan dimuliakan oleh Allah. (HR. Muslim).

Anas r.a. berkata: Biasa unta Nabi saw. yang bernama Al’adhba tidak pernah dapat dikejar, tiba-tiba pada suatu hari ada seorang badwi berkendaraan unta yang masih muda, dan dapat mengejar unta Al’adhba itu, hingga kaum muslimin merasa jengkel, lalu Rasulullah saw. bersabda: Layak sekali bagi Allah, tiada sesuatu di dunia ini yang akan menyombongkan diri melainkan direndahkan oleh-Nya. (HR. Bukhari).

Haya’ (Rasa Malu)
Seorang Muslim harus memiliki sifat malu , tanpa kehilangan keberanian dalam kebenaran. Diantara bentuk sifat malu itu adalah tidak mencampuri urusan orang lain, menundukkan pandangan, rendah hati, tidak meninggikan suara, qona’ah (merasa cukup dengan yang ada) dan lain sebagainya.
“Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih. Cabang yang paling utama adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah. Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang dari iman.” (Muttafaq ‘Alaih).
Malu adalah suatu sikap akhlak yang mendorong untuk meninggalkan perbuatan buruk dan menghalangi diri dari sikap lalai terhadap pemenuhan hak. Malu ialah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau kurang sopan. Malu itu, ialah karena memandang budi kebaikan dan melihat kekurangan diri, dan dari kedua pandangan itu timbul perasaan bernama malu.

Lemah Lembut
Rasulullah SAW adalah yang paling lembut terhadap keluarganya, Beliau berkelakar dengan mereka, bersikap lembut kepadanya, memaafkan kesalahan yang mereka perbuat, bertemu dengan mereka dengan senyum dan tawa, memenuhi hati dan rumah mereka dengan suka cita dan kebahagiaannya.
Pelayannya, Anas bin Malik RA berkata :"Aku melayani Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku tentang sesuatu yang aku perbuat : "Mengapa kamu melakukan ini?" Dan tidak pula berkata terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan : "Mengapa kamu tidak melakukannya?".

Rasul SAW pernah mengingatkan Siti Aisyah saat bersikap kasar.
"Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan dan Allah memberi dampak positif pada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan. Dan tiada kelembutan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan bila dicabut kelembutan dari sesuatu akan menjadikannya buruk." (HR Muslim). Rasulullah juga menegaskan bahwa barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka akan dijauhkan dari kebaikan. (HR Muslim).
Begitulah, kita harus meneladani akhlak Rasulullah SAW diwarnai oleh akhlak mulia –akhlaqul karimah. Akhlak mulia yang mampu menebarkan rahmatan lil-alamin; rahmat bagi semesta alam.  “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah, teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir serta banyak mengingat Allah.”  ***




____________________________
Buletin Masjid Salahuddin KPDJP
Tazkiyatun Nafs 3902042385559456325

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan