Loading...

Kisah Lima Buah Jeruk

Lelaki muda itu baru saja keluar dari gerbang sebuah masjid jami’ usai menunaikan shalat zhuhur. Bekas-bekas air wudhu menjejak di kemejany...


Lelaki muda itu baru saja keluar dari gerbang sebuah masjid jami’ usai menunaikan shalat zhuhur. Bekas-bekas air wudhu menjejak di kemejanya yang tampak basah di beberapa bagian. Wajahnya tampak cerah. Ia berjalan dengan langkah riang, seolah tak ada masalah berat yang menggelayuti hidupnya sementara ujung sarung bermotif Samarinda yang dikenakannya melambai-lambai karena tertiup angin.


Masjid itu terletak di pinggir sebuah jalan satu arah yang lalu lintasnya cukup ramai. Deretan kendaraan terparkir di salah satu sisinya. Debu-debu jalanan memenuhi udara yang pengap. Sinar matahari tidak seberapa terik karena tertutup awan berwarna abu-abu. Seorang ibu paruh baya melintas di sisi trotoar sambil memanggul keranjang berisi nanas berukuran sedang. Seorang supir truk tampak sedang bersantai di dalam kabin truknya dengan sebatang rokok terkepit di kedua jarinya.

Saat melewati kios penjual buah yang terletak di depan sebuah pasar swalayan, lelaki itu lalu singgah sebentar. Wajahnya memandangi deretan buah warna-warni yang ada di hadapannya. Ada apel merah, apel hijau, pear hijau, pear kuning, anggur merah, jeruk mandarin, pisang, melon, dan semangka. Ia menimang-nimang buah jeruk, membaui buah apel merah, dan mengambil buah pear hijau yang tampak masih segar. Lelaki muda itu mengajak bicara sang pemilik toko buah dan langsung terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sepertinya mereka berdua sedang melakukan tawar-menawar.

Usai tawar-menawar, lelaki muda itu memutuskan untuk membeli lima buah jeruk. Tepat satu kilogram beratnya. Jeruk berwarna oranye cerah dan berukuran lumayan besar itu menyeruakkan aroma segarnya yang khas. Lelaki muda itu tampak senang dengan jeruk-jeruk itu. Rasa kecut manis jeruk seolah-olah sudah terasa di lidahnya meski ia belum menikmatinya. Setelah membayar jeruk yang dibelinya itu kepada sang penjual buah, lelaki muda itu kembali berjalan membelah keramaian menuju tempat tinggalnya yang terletak tak jauh dari masjid tempat ia shalat barusan.

Rumah yang dituju lelaki muda itu sudah tampak. Ia merogoh sakunya dan mengambil sebuah kunci. Saat sudah di depan pintu, kunci itu dimasukkan ke dalam lubang kunci dan beberapa detik kemudian lelaki itu sudah masuk ke dalam rumah yang nyaris tanpa perabotan itu dan menguncinya kembali. Ia lalu berjalan ke arah dapur. Plastik berisi lima buah jeruk ditaruh di atas meja sementara ia melangkah ke dalam kamarnya yang berantakan. Ia melepas kemeja dan sarung yang masih melekat di badannya dan hanya mengenakan kaus dan celana tiga per empat. Diambilnya sebuah buku dan ia mulai membaca.

Tak beberapa lama, pintu rumah diketuk. Dari balik jendela kaca, lelaki itu melihat ada seorang pria paruh baya yang dikenalnya sedang berdiri di sana. Lelaki muda itu membukakan pintu dan menyilakannya masuk. Pria paruh baya itu kemudian masuk dan duduk melantai di ruang tamu. Rumah itu memang tidak memiliki kursi untuk tamu. Keduanya tampak membicarakan sesuatu yang agak serius. Lelaki muda itu sesekali menganggukkan kepalanya saat menyimak kata-kata dari pria paruh baya tersebut. Tak sampai lima belas menit, pria paruh baya itu undur diri. Lelaki muda itu tampak seperti teringat sesuatu dan meminta pria paruh baya tersebut menunggu sebentar. Lelaki muda itu lalu berjalan ke dapur dan mengambil sebutir jeruk. Buat anak di rumah, ujar lelaki muda itu kepada pria paruh baya. Jeruk itu kemudian berpindah tangan dari lelaki muda kepada pria paruh baya yang menerimanya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Setelah kepulangan pria paruh baya tersebut, lelaki muda itu kembali menekuri bacaannya yang tertunda. Tak sampai lima menit, pintu rumah kembali diketuk. Lelaki muda itu melongok ke arah jendela kaca yang ada di samping pintu. Ada seorang remaja tanggung yang sedang berdiri di sana. Lelaki muda itu meletakkan bukunya dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu itu dan disilakannya remaja tanggung itu masuk ke dalam rumah. Remaja tanggung itu ternyata tinggal di kamar sebelah. Rumah itu memang terdiri dari tiga kamar. Kamar utama ditinggali oleh lelaki muda itu sedangkan kamar belakang yang berbatasan dengan dapur ditinggali oleh remaja tanggung itu.

Saat berjalan ke arah dapur, remaja tanggung itu melihat ke arah meja. Ada empat buah jeruk yang terdapat di dalam sebuah plastik bening. Remaja tanggung itu lalu bertanya kepada sang lelaki muda, milik siapa jeruk-jeruk montok itu. Lelaki muda itu menjawab bahwa itu miliknya. Remaja tanggung itu terdiam. Wajahnya menampakkan ekspresi ketertarikan dengan jeruk-jeruk tersebut. Menyadari ketertarikan sang remaja tanggung itu pada buah jeruk di atas meja, lelaki muda itu lalu memberinya sebuah. Remaja tanggung girang bukan kepalang dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Remaja tanggung itu lalu mengambil satu buah jeruk dan menaruhnya di dalam kamarnya. Lelaki muda itu tersenyum karena sudah membuat temannya itu bersenang hati. Ia berpikir, masih ada tiga buah jeruk buat dirinya.

Azan Ashar berkumandang. Suaranya yang syahdu memenuhi suasana sore yang cerah. Lelaki muda itu bangkit dari kasurnya, meletakkan buku yang sedari siang dibacanya, dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, lelaki itu keluar dari sana dengan wajah yang tampak lebih segar karena baru berwudhu. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya, memakai sarung dan kemeja yang tadi dipakainya saat shalat Zuhur, menyemprotkan wewangian ke beberapa bagian tubuhnya, dan berjalan ke masjid.

Sepulang dari masjid, lelaki muda itu kembali memandangi buah jeruk di atas meja yang ia beli tadi siang. Masih tersisa tiga buah jeruk di sana. Ia menjulurkan tangannya ke meja itu dan mengambil sebuah. Dihirupnya aroma jeruk yang menyegarkan itu. Tiba-tiba saja, lelaki itu ingin mengupas jeruk berkulit jingga cerah itu dan menikmati buahnya yang manis. Ia lalu berjalan ke pojok dapur dan mengambil piring plastik dan kembali duduk di depan meja. Ia baru saja hendak mengupas jeruk itu saat terdengar suara ketukan dan salam di pintu depan. Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk menikmati jeruk yang menggoda itu dan berjalan ke arah pintu. Kali ini tetangga belakang rumahnya yang datang.

Lelaki muda itu menyilakannya masuk dan menanyakan keperluannya. Sang tetangga ingin menyampaikan kabar kalau Pak Fulan sakit. Rumah Pak Fulan berada tak jauh dari rumah sang tetangga. Lelaki muda itu lalu bertanya Pak Fulan sakit apa, apakah dirawat di rumah sakit, dan seabreg pertanyaan lainnya. Sang tetangga lalu menjelaskan kondisi Pak Fulan dan bertanya kepada lelaki muda itu barangkali saja ada sesuatu yang bisa diberikan untuk pak Fulan. Lelaki muda itu tampak berpikir sejenak lalu meminta diri untuk ke dapur.

Saat memandangi tiga buah jeruk yang masih ada di meja di dapur, lelaki muda itu tampak sedikit ragu, apakah ia ingin memberikan satu, dua, atau bahkan semua jeruk yang tersisa. Ia membatin, memberi satu jeruk tentu sangat sedikit, dua jeruk terlalu nanggung, dan bila diberikan semuanya maka ia tidak akan mendapatkan jatah buah jeruk barang satu pun. Ia memegang plastik tempat jeruk itu, mengeluarkannya semua isinya dan mulai berhitung-hitung. Awalnya ia memasukkan dua buah jeruk ke dalam plastik dan menyisakan satu untuknya. Namun setelah dipikir-pikir lagi, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk memberikan semua buah jeruk yang ada.

Lelaki itu berjalan ke ruang tamu tempat sang tetangga sedang duduk melantai. Di tangannya ada plastik berisi tiga buah jeruk. Lelaki itu lalu menyerahkan plastik itu kepada sang tetangga. Ia meminta maaf jika hanya ini saja yang bisa diberikannya kepada Pak Fulan dan ia berjanji akan segera menjenguknya ba’da Maghrib nanti. Sang tetangga menerima plastik berisi tiga buah jeruk itu dan mengucapkan terima kasih kepada lelaki tersebut. Lelaki itu tersenyum. Ada rasa hangat yang tiba-tiba mengaliri relung hatinya. Ia merasa bahwa makan jeruk bisa dilakukan kapan saja bila ia sedang berkelebihan rejeki, namun kesempatan untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan tidak datang setiap hari.

***

Dalam hidup yang hanya sementara ini, ada banyak sekali kesempatan untuk berbuat baik dan berbagi kemanfaatan dengan orang lain yang lalu-lalang di keseharian kita. Ikhlas berkorban tak selalu hadir dalam perkara yang gemerlap dan heroik. Perkara lima buah jeruk saja telah cukup berhasil membuat lelaki itu ragu untuk mengorbankan sesuatu yang secara kasat mata sangat sepele tapi justru ada keberatan hati yang yang mengiringinya. Keikhlasan terkadang mewujud dalam urusan yang remeh temeh yang tak jarang menguji keteguhan hati kita, apakah kita mampu mengorbankan sesuatu yang awalnya enggan kita korbankan namun akhirnya  bisa kita relakan juga. Jika dalam hal yang sepele saja ujian keikhlasan itu sudah terasa memberatkan hati, bagaimana jika ujian itu mewujud pada hal-hal yang selama ini mengisi ruang hati dan pikir kita seperti: anak-anak, istri, pekerjaan, harta, dan tahta?

***




_____________________

Wahid Nugroho
KPP Pratama Luwuk
Wahid Nugroho 1924719833130277800

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan