Loading...

Mbak Hasna, Perjalanan Mencari Nikmat Ikhlas

Setiap pasangan yang menikah pasti mendambakan segera kehadiran si buah hati. Tetapi, jika Allah berkehendak lain, tentu menjadi cerita pe...



Setiap pasangan yang menikah pasti mendambakan segera kehadiran si buah hati. Tetapi, jika Allah berkehendak lain, tentu menjadi cerita penuh hikmah bagi yang mengalaminya. Inilah kisah nyata seorang teman dalam perjalanan mencari nikmat ikhlas….
***

“Halo, Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarnya? Bagaimana ODOJ-nya? Mudah-mudahan istiqomah ya. Aamiin”
Begitu bunyi pesan singkat di telepon selulerku. Pesan itu berasal dari seorang teman lama yang sudah hampir setahun ini tidak berjumpa.

Saya berkenalan dengan perempuan itu sekitar dua tahun yang lalu. Tutur katanya sangat lembut dan santun, wajahnya tampak sedikit pucat tanpa sedikit pun sapuan make-up. Pakaian yang dikenakan selama bekerja juga sangat sederhana : gamis, rok dengan model longgar dan jilbab panjang yang menutupi dadanya. Dia adalah Mbak Hasna - demikian kami memanggilnya – pegawai baru di seksi kami.

Mbak Hasna kebetulan mendapatkan jatah meja di sebelahku, setelah pemilik meja sebelumnya ditugaskan untuk mengemban amanah di tempat baru. Karena duduk di sebelahku, kami sering berbagi cerita di sela-sela jam kerja.
Mbak Hasna adalah lulusan Program Diploma Satu (D1) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1998. Sebelum pindah ke kantor kami, Mbak Hasna di tempatkan  kantor pusat. Dia sudah 5 tahun ditempatkan di sana. Atas izin Allah, usulan mutasi dikabulkan, tentu dengan jalan yang tidak mudah.

Ada satu hal yang menarik tentang cerita Mbak Hasna. Ia menikah tahun 1999 dan sampai kini Allah belum memberikan keturunan kepadanya. Dengan demikian, tahun ini adalah tahun ke-15 beliau mengarungi bahtera rumah tangga. Suami Mbak Hasna adalah seorang dai, hafizh Al Qur’an 30 juz. Beliau bercerita bahwa keinginan untuk segera memiliki buah hati adalah sesuatu yang diidam-idamkan sejak dahulu. Tetapi, karena Allah berkehendak lain maka ia isi hari-harinya dengan bekerja tanpa pernah memperlihatkan rasa sedih atau kecewa, menghafal Al Qur’an dan mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) di rumahnya. Pendek kata, ia selalu berbaik sangka kepada Allah.

Di kantor, Mbak Hasna dikenal sebagai pegawai yang pintar, supel dan santun. Ia tidak pernah mengeluh dengan volume pekerjaan yang kadang begitu banyak dan penuh tekanan. Ia hadapi dan selesaikan satu per satu pekerjaan dengan baik tanpa konflik. Ia juga sangat hormat kepada atasan dan sangat perhatian dengan rekan-rekan sekantor.

Dia pernah berujar bahwa untuk menjadi hamba Allah yang ikhlas dengan takdir memang sulit. Tapi, menjadi semakin sulit apabila kita tidak pernah mencoba dan melakukannya. Sebagaimana Mbak Hasna juga seorang manusia biasa, ia juga pernah mengalami masa-masa sulit. Ia ditempatkan jauh dari rumah dan harus terpisah dengan suaminya. Ia divonis oleh dokter menderita miom dan akan sulit memiliki keturunan. Ia sangat terpukul pada saat itu dan sempat mengurung diri di kamar beberapa hari.

Berbekal tekad yang kuat dan dorongan dari sang suami, akhirnya Mbak Hasna perlahan mulai bangkit. Ia memulai keterpurukannya dengan amalan-amalan kecil, seperti bersedekah. Ia percaya dengan bersedekah kepada yang membutuhkan, hidupnya akan lebih bermakna. Sedekah - menurut Mbak Hasna - juga tidak harus berupa materi, tetapi juga dapat berupa tenaga atau ilmu yang dimiliki. Dengan demikian, kita dapat hidup sehat secara fisik, kuat secara mental dan jernih dalam berfikir.

Amalan yang kedua yang beliau sarankan yakni banyak mengingat Allah (zikrullah). Menurutnya, dengan mengingat Allah maka alarm hati kita akan lebih terjaga dari hal-hal yang negatif. Zikir juga dapat mengendalikan hati dan fikiran menjadi tenang dan rileks sehingga kita dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan tidak mengecewakan. Membaca dan mengamalkan Al Qur’an adalah bentuk zikir kepada Allah yang sangat afdal. Dengan membacanya kita mendapatkan pahala dan dapat mendatangkan hikmah. Saya sendiri terkadang malu, di sela-sela kesibukan bekerja, Mbak Hasna selalu menyempatkan membaca Al Qur’an atau sekedar muraja’ah Al Qur’an. Ke mana beliau pergi, ada mushaf kecil di sakunya.

Kemudian beliau juga menyarankan amalan untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, suami atau istri, anak-anak, saudara terdekat sampai yang terjauh. Dengan berbuat baik kepada mereka maka semesta akan mendukungmu dan kita akan menjadi sebab hidayah bagi seluruh alam. Memang benar apa yang beliau sampaikan, bahwa kebaikan akan menular dan akan terus ada di muka bumi jika masih ada manusia yang berbuat baik. Bayangkan, jika kita memberikan makan kepada satu orang dhuafa, maka dengannya dhuafa tersebut akan dapat berbuat baik lagi kepada orang lain, dan seterusnya.

Begitulah saya melihat Mbak Hasna. Ia tidak lelah menyusuri perjalanan mencari kenikmatan bernama ikhlas. Ia tetap semangat dan ringan dalam menjalani hari-harinya. Ia selalu tersenyum di hadapan rekan-rekannya -- juga di hadapan Wajib Pajak -- tetapi juga dapat menangis pada saat bermunajat di depan Allah. Baginya, ikhlas itu adalah sesuatu yang sangat sederhana : selalu berbuat baik kepada siapa pun.

Pikiranku melayang teringat nasehat Mbak Hasna meski sudah setahun ini tak berjumpa karena mutasi. Dan, tiba-tiba suara azan zuhur berkumandang memecah keterpakuanku. Segera kubalas pesan singkatnya :  “Waalaikum salam, Insha Allah istiqomah. Aamiin”.

Lalu, kulangkahkan kaki menuju masjid. Karena tergesa-gesa, telepon selulerku tertinggal di meja kerja. Pesan Mba Hasna masih tersimpan rapi di sana….





____________________________________________


Pengirim :
Edi Prasetyo
NIP 197812282001121001
KPP Madya Bekasi


Glosari :
-       “ODOJ” = One Day One Juz, sebuah gerakan moral yang berkembang di Indonesia, dengan cara membaca, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an satu juz, satu hari.


Kisah 527088274392272575

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan