Loading...

Mereka Orang "Lemah" Tapi Bisa Naik Haji, Ini Rahasianya

Seorang penjual bubur candil keliling di Banyumas mampu membayar sendiri keberangkatan hajinya setelah menabung selama 24 tahun. Bagi se...



Seorang penjual bubur candil keliling di Banyumas mampu membayar sendiri keberangkatan hajinya setelah menabung selama 24 tahun. Bagi sebagian orang hal tersebut hampir mustahil, namun bagi Allah hal itu bisa jadi mudah-mudah saja.

Namun sebelum menuju kepada pemahaman akan kepastian dan kehendak Allah sesungguhnya tak ada yang mustahil juga bagi siapapun untuk dapat berangkat haji. Namun bila dasar pemahamannya hanya sebatas materi bisa jadi profesi penjual makanan kecil keliling sungguh akan kesulitan untuk dapat berangkat ke tanah suci. Dua puluh empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengumpulkan materi agar dapat menunaikan rukun islam yang kelima.

Di lain media kembali memuat sebuah berita tentang seorang yang berprofesi sebagai tukang loper Koran yang mampu berangkat haji dengan biaya sendiri setelah menabung selama 30 tahun. Entah bagaimana metoda menabungnya, bila perhitungan biaya hidupnya harus berpatokan kepada hitungan persentase para pakar perencanaan keuangan. Tentu para pekerja di profesi ini sungguh akan kelimpungan, namun kenyataannya tabungan mereka mampu mewujudkan cita-citanya walau dengan jangka waktu yang terbilang cukup panjang.

Pagi ini, di sebuah televisi ada sebuah berita tentang seorang penjual martabak di pandeglang yang mampu menyisihkan hasil jerih payahnya. Selama 35 tahun akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk terbang memenuhi panggilan Allah sebagai tamuNya di Makkah al mukarromah. Sekali lagi logika sulit untuk dapat menautkan kenyataan yang terjadi dengan hitung-hitungan ala ekonomi.

” Dari Aisyah r.a. berkata : Nabi pernah ditanya :”Manakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda :”Yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit”. Beliau bersabda lagi :”Dan lakukanlah amal-amal itu, sekadar kalian sanggup melakukannya.” (HR. Bukhari)

Sungguh bersyukur mereka yang mampu memenuhi panggilan-NYA, bersujud di dalam masjid yang memiliki imbalan pahala beribu kali lipat. Dan sungguh beruntung bagi akal logika untuk tak meneruskan memikirkan asal muasal kemampuan mereka secara materi untuk dapat memenuhi panggilan itu.

Karena yang sangat membuat kagum adalah kemampuan para manusia pilihan ini untuk tetap mempertahankan tujuan meraih apa yang dicita-citakan. Benar, mereka harus menabung sedikit demi sedikit untuk meraih cita-cita disamping kebutuhan hidup sehari hari mereka. Mereka harus tetap istikamah menabung setiap hari, namun sungguh kehebatan mereka adalah kemampuan mempertahankan fokus pada tujuan akhir cita-citanya.

Tak jarang ditemui seseorang yang memiliki niat menggebu untuk istikamah dan fokus memelihara girah justru rontok ditengah jalan. Dengan begitu banyaknya hambatan dan pengaruh pengaruh yang memalingkan dari tujuan, girah akan semakin mengendur hingga pada akhirnya tujuan yang dicanangkan semula justru teralihkan.

Banyak diantara kita yang terkadang menjadi lupa, bahkan walau waktu yang diberikan untuk mencapai tujuan telah menjelang. Mereka memiliki waktu bertahun-tahun untuk lupa atau teralihkan namun mereka yang berangkat ke tanah suci dengan menabung bertahun-tahun ini sungguh memiliki keistikamahan yang luar biasa dalam mempertahankan tujuan.

Menjaga keistikamahan ini justru tantangan yang jauh lebih berat daripada menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit untuk tujuan akhir. Menjaga harapan agar cita cita itu tetap ada, dalam jangka waktu yang lama adalah sebuah kekuatan yang terbentuk dari mental yang tahan banting. Belajar menjaga harapan ketika himpitan dan halangan tak berhenti datang, belajar menjaga harapan ketika tak semua teman dapat menjadi teman, belajar menjaga harapan ketika tak setiap tetangga berlaku layaknya tetangga. Belajar dari mereka tentang arti menjaga harapan dan keistiqomahan menggapai cita cita.

The challenge before us all is to keep hope alive in spite of… That means “hoping when things are hopeless." –Robboski-

Oleh: Fahrizal Ardhi Nugroho, Pelaksana Seksi Hubungan Masyarakat Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung
Hikmah 8597831489641496969

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan