Loading...

Optimisme, Tatap Hari Esok Lebih Baik

“ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun ...

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan); ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat : 30)

Dengan target yang ada, apakah kita optimis dapat mencapainya? Menurut kamus Bahasa Indonesia, kata optimis mempunyai arti orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal, sedangkan arti optimistik adalah bersifat optimis atau penuh harapan. Oleh karena itu, sikap optimistik dapat diartikan sebagai sebuah keyakinan yang muncul dari dalam diri seseorang bahwa sesuatu yang dilakukan akan membawa pada pencapaian hasil baik yang ia telah direncanakan.

Sejarah Islam mencatat peristiwa-peristiwa yang memberikan contoh sikap dan tindakan yang optimis. Banyak peperangan yang memperlihatkan bagaimana sikap optimis diperlukan untuk memperoleh kemenangan. Seperti apa yang dilakukan oleh Khalid bin Walid pada saat menghadapi Romawi di Perang Yarmuk tahun 13 Hijriah. Jumlah prajurit dan perlengkapan senjata antara dua pasukan sangat tidak berimbang. Pasukan Romawi mencapai 240.000 personel, sedangkan jumlah pasukan Islam tidak sampai 30.000 personel.

Melihat hal ini, Panglima Khalid bin Walid mencoba membangkitkan optimisme pasukan Islam. Ia berteriak, “Betapa sedikitnya pasukan Romawi dan betapa banyak pasukan Islam. Banyak dan sedikit bukan dari jumlah prajurit. Pasukan dianggap banyak jika ia menang dan sedikit jika ia kalah.” Ketika itu optimisme pasukan Islam bangkit dan akhirnya mampu memporak-porandakan pasukan Romawi.

Sikap yang optimis juga ditunjukkan oleh Abdurrahman bin Auf ketika beliau hijrah bersama Rasulullah ke Madinah. Beliau menolak dengan halus kebaikan sahabat Anshor yang hendak memberikan harta dan kekayaan lainnya dan beliau lebih memilih untuk ditunjukkan lokasi pasar untuk dapat melakukan perniagaan. Beliau mempunyai pandangan bahwa di pasar ia akan mendapatkan peluang untuk mendapatkan penghidupan tanpa tergantung pemberian orang lain.

Optimisme Dalam Agama Islam
Optimisme (tafaul) adalah sebuah sikap yang sangat mulia dan merupakan salah satu akhlak yang terpuji. Islam mengajarkan agar kita selalu penuh harap dan tidak boleh bersikap putus asa. Sikap putus asa hanya patut dimiliki orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Alah SWT. Allah swt berfirman, “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf:87).

Di balik keberadaan dunia dan isinya yang terhampar luas, terkandung banyak sekali harapan bagi umat manusia yang mau berfikir dan berbuat. Harapan ini melekat dengan beragam aspek kehidupan yang dijalani. Bahkan bagi orang-orang yang beriman, suatu harapan harus tetap melekat hingga akhir kehidupan dunia yang fana ini. Itulah harapan ketika hendak memasuki alam keabadian.
Terciptanya manusia juga merupakan tahapan dari serangkaian harapan. Bermula dari seorang bayi yang tidak berdaya, diharapkan ia tumbuh dewasa dan mandiri dalam menjalani hidup. Dari seorang bayi yang bergantung pada belas kasih orangtua, diharapkan kelak menjadi manusia yang berbakti pada orangtua, mampu membangun rumah tangga yang sakinah, serta menjadi insan yang berguna bagi orang banyak. Bermula dari bayi yang hanya bisa menangis dalam merespon sesuatu, nantinya diharapkan menjadi hamba yang tegar dalam mengarungi kehidupan, serta istiqomah dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT.

Harapan (ar-raja’) tidak boleh sirna selama manusia masih menjalani hidup. Ia harus tetap tumbuh seiring dengan rasa optimis (tafaul) dalam menghadapi kehidupan. Harapan adalah oksigen bagi jiwa yang menjalani kehidupan dengan penuh optimis. Tanpa harapan dan optimisme, gelombang kehidupan akan menghanyutkan manusia dalam keputusasaan. Keputusasaan, di samping melemahkan semangat berjuang, sifat ini bukanlah karakter dari hamba yang beriman.
”Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Ali Imran : 139)

Memunculkan Rasa Optimistik
Rasa optimistik tidak akan muncul dengan sendirinya dan tidak secara tiba-tiba. Sikap tersebut akan muncul akibat dari proses pencarian dan pembentukan. Diperlukan sebuah proses belajar dan tindakan untuk mendapatkan rasa optimistik dalam pribadi seseorang. Pembentukan sifat optimis juga ditentukan melalui sebuah proses ketika seseorang meningkatkan kualitas keimanannya. Mengapa sikap ini selalu berkaitan dengan iman? karena hanya orang-orang berimanlah yang akan diberikan rasa optimistik dalam kehidupannya.

Terdapat 2 aspek yang perlu kita perhatikan jika kita berbicara tentang optimisme, aspek kepribadian dan aspek ketuhanan (rabbaniyyah).

Aspek kepribadian
Mempunyai rasa optimis atau pesimis adalah sesuatu yang melekat pada kepribadian seseorang. Sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, manusia diberikan kecerdasan. Dengan kecerdasannya, manusia diharapkan mampu memahami hakekat makna optimis. Dalam kehidupannya, manusia selalu dihadapkan pada sebuah rencana yang terhampar dihadapannya untuk mencapai sebuah tujuan. Selalu ada kesempatan dan kesempitan dalam pandangan manusia. Seseorang yang optimis selalu memandang bahwa setiap langkah atau perubahan yang yang dia lakukan selalu ada peluang lebih baik.

Optimis dalam kepribadian manusia memiliki dua pengertian. Pertama, rasa optimis adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya harapan yang lebih baik, ada kesempatan dalam sebuah kesempitan. Kedua, rasa optimis berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Apabila dibuat sebuah pengertian singkat manusia yang memiliki rasa optimis adalah ketika mampu meyakini adanya kesempatan atau peluang kehidupan yang lebih baik dan keyakinan memotivasinya melakukan aksi dan tindakan nyata untuk meraihnya.

Rasa optimis seperti itu sangat diperlukan. Manusia harus mempunyai  harapan bahwa sesuatu yang dia lakukan akan membawa sebuah kebaikan, berdasarkan perhitungan peluang yang dia lakukan. Dengan adanya harapan tersebut akan menimbulkan energi untuk mewujudkannya. Tanpa energi positif  kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa.  Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus.

Pribadi yang optimis melihat segala sesuatu dengan kaca mata yang terang dan pikiran yang jernih. Dalam keadaan yang tertekan sekalipun, dia masih mampu mempertahankan kejernihan kaca matanya dan kejernihan pikirannya. Selalu ada harapan dan kesempatan dalam setiap kegelapan yang menyelimutinya. Sikap yang optimis ini telah melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh.
Orang-orang yang menjadi aktor sejarah dalam kehidupan manusia adalah orang-orang yang mempunyai rasa optimis dalam dirinya.

Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus, dengan tindakan dan langkah-langkah yang konkret dan lebih bagus pula. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. 

Aspek ketuhanan (rabbaniyyah)
Firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 139,
“Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis), dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” 
memberikan penegasan kepada kita bahwa sikap optimis dan tidak mudah putus asa hanya akan dapat dirasakan oleh manusia-manusia yang beriman. Proses pembentukan kepribadian optimis dalam diri manusia memerlukan campur tangan Allah.

Margo Jones, seorang pakar psikologi, mengatakan, agar dapat mempunyai kepribadian yang optimis, ada satu syarat  bahkan disebut sebagai prasyarat bagi semua usaha, yaitu tingkatkan keimanan. Menurut Margo Jones, salah satu esensi keimanan adalah adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan “kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu, semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu. Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan.

Sikap optimis tidaklah datang dengan sendirinya. Kemunculannya harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan ibadahnya kepada Allah swt. Kita harus yakin bahwa Allah Maha Kuasa. Jika derajat manusia sudah dalam posisi bertakwa, maka manusia akan mempunyai keyakinan bahwa tak ada yang terlepas dari kekuasaan-Nya. Di tangan-Nyalah segala sesuatu. Allah Maha Mengatur, Allah Maha Berkehendak, Allah yang membuat sesuatu menjadi mulia dan Allah pula yang membuat sesuatu menjadi hina. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, meskipun sulit menurut kita, maka itu pasti terjadi.

Kepercayaan akan semua ini, dalam pandangan Islam dikenal dengan sebutan tawakal. Semakin kuat rasa tawakal, maka rasa optimis dalam diri semakin bertambah. Dari rasa tawakal inilah optimis berawal. Rasa optimis harus mengalahkan pesimis yang bisa menyerang siapa saja. Jika ingin berhasil, kita harus bisa membangun rasa optimis dalam diri dan kita memulainya dengan memupuk rasa tawakal kepada Allah.

Selain dengan tawakal, rasa optimis akan semakin terasa indah ketika manusia mampu mengkombinasikan dengan selalu berprasangka baik kepada Allah. Berbicara optimis adalah berbicara tentang harapan akan suatu waktu di masa yang akan datang. Ketika yang mempunyai kuasa atas segala sesutua yang belum terjadi adalah Allah, sudah barang tentu manusia harus menyandarkan semuanya kepada Allah. Sedangkan Allah sendiri berkata dalam sebuah hadits qudsi,
 “ Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya.”  ***

Buletin 1647820137916809904

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan