Loading...

Saya Yang Akan Menanggung Semua

Musholla Al Barkah, persis di sebelah utara empang kampus STAN, menjadi tempat yang tidak bisa dilupakan oleh saya hingga saat ini. Musholla...

Musholla Al Barkah, persis di sebelah utara empang kampus STAN, menjadi tempat yang tidak bisa dilupakan oleh saya hingga saat ini. Musholla yang kini telah berubah menjadi masjid itu memang persis di samping tempat kost saya selama tiga tahun menuntut ilmu di STAN. Lima kali dalam sehari adzan yang diperdengarkan memenuhi ruang keseharian saya di sana.

Tempatnya yang strategis karena dekat pintu alternatif keluar masuk kampus dan di tengah-tengah kos-kosan para mahasiswa membuatnya tidak pernah sepi dari jama’ah dalam lima waktu sholat itu. Bahkan sampai harus meluber ke bangunan tambahan yang didirikan di pelataran depannya bila tiba waktunya sholat.

Pernah dalam suatu periode kepengurusan remaja musholla, saya ditunjuk dan diberi amanah untuk memimpin organisasi kecil ini. Mulai dari memikirkan dan mengatur strategi pengumpulan infak demi terselenggaranya kegiatan kajian keislaman yang diisi oleh ustadz-ustadz ma’had, membuat majalah dinding, melengkapi isi perpustakaan dan mengatur sistem peminjamannya, sampai kepada terselenggaranya pengajaran baca tulis al-Qur’an untuk anak-anak dan remaja.

Karena setelah sholat maghrib, aktivitas tidak berhenti sampai di situ beberapa mahasiswa yang tempat kosnya tidak jauh dari musholla meluangkan waktu dari kesibukan dan ketatnya sistem perkuliahan di sana untuk mengajar baca tulis al-Quran (Taman Pendidikan Al-Qur’an/TPA). Tentunya tidak hanya itu nilai-nilai Islam dan sirah nabawiyah diajarkan pula kepada mereka. Agar senantiasa ada akhlak indah, wawasan yang bertambah, dan kukuhnya benteng akidah di era moderen sekarang ini. Itulah harap kami dari pengajar dan pengurus terhadap mereka.

Salah satu pengajar itu—sebut saja Abdullah—adalah tetangga kos, teman satu angkatan di kampus, dan teman akrab saya. Kesabaran dan kedekatannya pada anak-anak membuatnya cukup dikenal di kalangan mahasiswa lain. Dan dengan bermodalkan itu saya memercayainya untuk mengambil amanah sebagai ketua bidang pengajaran TPA . Akhirnya dengan dibantu oleh teman-teman yang lain, ia sanggup untuk memegang amanah itu.

Beberapa bulan kemudian ada usulan dari anak-anak TPA untuk mengadakan piknik bersama. Usulan itu pun disampaikan kepada saya oleh Abdullah. Saya cukup menghargai usulannya. Saya pikir ini adalah suatu hal yang pantas bagi anak-anak untuk dapat menghilangkan kejenuhan belajar. Sekaligus untuk merekatkan ukhuwah di antara mereka dan nanti pada akhirnya dapat membangkitkan semangat belajar mereka lagi.

Bersama saya, akh Abdullah dan beberapa teman yang lain merumuskan rencana piknik persama itu. Mulai dari kepanitiaan, tempat yang dituju, waktu penyelenggaraannya, hingga dana yang dibutuhkan.

Semua telah selesai direncanakan, kecuali faktor klise yakni ketidaktersediaan dana. Apalagi kami membutuhkan bus besar sebagai sarana transportasi menuju lokasi karena ada banyak peserta yang akan ikut serta. Tentunya ini membutuhkan biaya yang lebih besar lagi.

Untuk itu saya ditugaskan dalam sebuah rapat untuk mengecek seberapa besar biaya yang diperlukan untuk menyewa bus. Esoknya saya pergi ke daerah Blok M—tempat kantor bus pariwisata terkenal itu berada.

Saya terkejut mendengar harga sewanya. Jumlah sebesar 350 ribu rupiah hanya untuk pemakaian sehari saja adalah jumlah yang besar sekali di tahun 1996. Saya pun kembali ke kampus dengan membawa beban berat. Akan didapat darimana lagi uang untuk menutupi ongkos transportasi ini.

Untuk meminta kepada peserta jelas tidak mungkin. Karena jelas kalau akan dipungut biaya mereka tidak akan berangkat. Untuk meminta patungan lagi kepada para panitia terasa segan, karena mereka telah banyak mengeluarkan uang untuk membiayai terselenggaranya acara ini. Meminta infak kepada para mahasiswa sekitar…? Wah, bisa diusahakan, tapi berat dan lama uey…Kepada pengurus Musholla? Jelas tidak mungkin, karena masih banyak kebutuhan yang harus ditunaikan seperti melanjutkan penambahan teras depan. So…

Akhirnya di rapat selanjutnya, saya meminta kepada teman-teman agar berusaha mencari dana untuk menutupi sisanya. Padahal waktu yang telah dijanjikan kepada para peserta telah mepet dan kami harus segera memesan bus sepekan sebelumnya. Setelah itu saya cuma bisa berharap kepada Allah agar Ia selalu memudahkan langkah-langkah kami.

Tidak berapa lama, Akh Abdullah mendatangi saya untuk menanyakan perkembangan masalah ini. Saya hanya menggeleng saja. Yang mengejutkan adalah reaksi dari akh Abdullah ini.

“Kalau memang demikian, biar saya saja yang akan menanggung semua ongkos sewa bus ini,” katanya mantap.

“Akhi, benar nih…?” setengah tidak percaya.

“Insya Allah, sekarang tinggal mematangkan acara kita,” ujarnya meyakinkan.

Subhanallah…Allah telah memberikan kepada kami seorang al-akh yang berguna di saat–saat kami membutuhkan pertolongan. Padahal kami tahu, beliau tidaklah kaya-kaya amat, sama keadaannya seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlalu sederhana malah. Namun jiwa sosialnya itulah yang mengesankan saya. Dan saya melihat tidak kali itu saja ia berbuat demikian.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami ke Kebun Binatang Ragunan. Terlihat begitu gembiranya anak-anak melakukan rihlah ini. Sepanjang perjalanan, nasyid penyemangat pun didendangkan entah dari tape bus—masa itu penggunaan kaset masih marak—atau pun dari mulut-mulut kecil mereka.

Selain jalan-jalan melihat beraneka ragam hewan, di sana kami juga mengadakan berbagai macam permainan yang menarik sampai menjelang Ashar. Lalu setelah itu kami bersiap-siap pulang.

Di tengah perjalanan pulang itulah saya bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kelancaran pada jalannya acara. Bersyukur pula saya mempunyai teman baik seperti al-akh Abdullah ini. Yang mampu berinfak di kala senggang ataupun sulit. Yang begitu supel dan luar biasa perhatiannya terhadap anak-anak.

Tujuh belas tahun berlalu kebaikan yang dilakukannya masih saja teringat. Saya berharap untuk tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Sungguh saya malu pada diri saya sendiri yang belum mampu melaksanakan banyak amal nyata seperti dia. Sungguh dari satu bibit kesederhanaan akan tumbuh sejuta pohon kebaikan. Saya bertekad untuk mencontoh dan meneladaninya. Insya Allah.

***

Untuk Akh Suprayitno di Sidoarjo Utara, Saya tak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik. Tetap di jalan ini.

by: Riza Almanfaluthi
Riza Almanfaluthi 8578439635258768388

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan