Loading...

Aku adalah Ujianmu, Saudaraku

Di rumah mungil ini; iman kita diuji Tuk beramal; bagi yang berakal Atau justru mencaci; bagi yang kotor hati Janganlah tuan; sampai...


Di rumah mungil ini; iman kita diuji
Tuk beramal; bagi yang berakal
Atau justru mencaci; bagi yang kotor hati
Janganlah tuan; sampai salah jalan

Jangan pandang; sekali layang
Coba dari jauh; dengan mata seluruh
Kan kau lihat rotasi; bumi ini
Atau percayai saja; suratan ayatnya

Tenang, samudra; takkan bertambah airnya
Meski tangis kita; dengan seluruh jiwa
Dan fajar takkan sembunyi; karna ‘tlah janji pada mentari
Juga bianglala tetap wujud; saat rinai sujud

Kuatkan hati; meski bumi sepi jati diri
Sinar itu masih ada; ‘kan datang bersama pandawa
Kubelalakkan netra; ‘tuk pandang cahaya
Jiwa kudaki; lalu kuajak membumi

Jalan takdir kita; teramat banyak cabangnya
Tinggal pilih saja; tapak kaki mau ke arah mana
Mau masuk neraka; atau kunjungi firdausNya
Ini tentang amalan; yang ‘kan tuai balasan


 Ini cerita tentang berbagi dengan empati. Jarang, berbagi dilakukan dengan empati, dimana kita menempatkan seolah- olah kita berada pada posisi orang yang sedang kesusahan tersebut. Saat orang butuh umpan, berilah umpan. Saat orang butuh tali pancingan, berilah tali pancingan. Jika saat butuh umpan kita beri tali pancingan, maka tali pancingan tersebut akan digunakan untuk gantung diri. Kita justru secara tidak langsung turut membunuh orang tersebut. Baik harga dirinya, kemampuannya, karyanya, cita- citanya maupun karakternya. Itulah pentingnya empati.

Dua puluh tahun yang lalu Pak Solichin adalah orang yang kaya raya di desanya. Pada saat orang belum memiliki handphone, beliau sudah punya. Saat satu desa belum ada yang punya vespa, beliau ‘tlah beli dua. Sebenarnya, perilakunya biasa saja sebagai orang kaya. Tetapi karena hati warga yang selalu dengki, seringkali menganggapnya sebagai kesombongan. Kekayaan beliau diperoleh dari usahanya berjualan baju di tanah abang. Sebulan sekali beliau pulang ke Jogja.

Sepuluh tahun yang lalu, prahara melanda. Usaha di Jakarta ditipu rekan bisnisnya. Hal ini terjadi karena beliau sedang sakit sehingga jarang bisa menengok bisnisnya di Jakarta. Hutang untuk modal usaha sudah saatnya harus dibayar, sehingga semua barang berharga terpaksa dijualnya. Tinggal rumah mungil hasil warisan dan sawah sepetak saja. Lalu, hiduplah beliau dalam kondisi nelangsa. Ditambah lagi tahun 2006 saat gempa melanda Jogja, rumahnya rusak terkena imbasnya. Bantuan renovasi dari pemerintah hanya cukup untuk memperbaiki rumah seperlunya saja. Masih banyak bagian rumahnya yang belum diperbaiki.

Pandangan buruk warga desa masih saja menempel di hati kecil mereka. Bahkan sampai juga dalam amal perbuatan, termasuk pada kondisi saat ini. Mereka tidak mau membantu dengan alasan bahwa dulu beliau sombong. Sebagian lagi beralasan takut tertular penyakit TBC dan penyakit kulitnya.

Aku mengenal beliau karena rumah mertuaku dekat dengan rumahnya. Kebaikan awal dimulai oleh mertuaku. Meskipun mertuaku bukan orang kaya, beliau selalu membantu Pak Solichin. Setiap membeli makanan mesti dilebihkan, supaya bisa dibagi dengan Pak Solichin. Aku pernah tinggal di “Pondok Mertua Indah” saat anakku lahir. Tetapi setelah anakku berumur satu tahun, kami tinggal sendiri di sebuah perumahan.

Ketika itu hari minggu, mentari sudah akan tenggelam. Langit berwarna kemerahan menunjukkan waktu senja. Seperti biasa, aku sekeluarga mengunjungi rumah mertuaku dengan membawa oleh- oleh seadanya. Karena kebaikan mertuaku, aku disuruh memberikan sebagian kepada Pak Solichin. Akupun segera meluncur ke rumah beliau.

“Assalamu’alaikum,” sambil kuketuk pintu.
“Wa’alaikum salam,” jawab Pak Solichin dari dalam rumah. “Silahkan masuk mas, ada perlu apa ya?” beliau melanjutkan kata- katanya sambil membukakan pintu.
“Ini Pak, ada sedikit makanan dari Bapak Mertua,” kataku sambil mengulurkan tas plastik yang kutenteng.
“Alhamdulillah mas, terima kasih ya. Pak Her memang selalu mempedulikanku. Tolong sampaikan terima kasih padanya ya mas,” beliau berkata sambil meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya. Sungguh, pemandangan yang jarang sekali kulihat. Apabila dinilai, mungkin pemberianku itu hanya senilai 50 ribu saja. Tetapi, diluar dugaan tanggapan beliau sangat menyentuh hati.

“Baik Pak, nanti saya sampaikan. Saya mohon pamit dulu.” Tidak tega melihat pemandangan tersebut berlarut- larut dan terkesan berlebihan, akupun melangkah pergi meninggalkan rumah beliau. Sesampainya di rumah, kusampaikan kejadian tadi kepada mertuaku.

“Pak, tadi saya dari rumah Pak Solichin memberikan sebagian makanan yang saya bawa tadi. Tapi kenapa kok tanggapannya berlebihan sampai menangis segala?” tanyaku.

“Iya nak, penduduk desa soalnya jarang yang mau memberi bantuan kepada beliau. Penduduk desa masih sakit hati dengan kesombongan beliau. Sehingga kalau ada yang membantu, pasti dia menitikkan air mata. Mungkin Pak Solichin juga teringat ketika masih masa jayanya nak, kok sekarang bisa menjadi berubah 180 derajat,” jawab mertuaku.

“Oh, begitu ya. Tetapi kan seharusnya dilihat kondisinya sekarang. Beliau mau makan darimana coba? Panen satu petak sawah saja sering untuk membayar bon hutangan di warung dan habis untuk beli obat,” ujarku lagi.

“Itulah nak, dendam yang tertanam sulit terobati. Yang penting, kita tidak usah ikut- ikutan. Kita bantu saja semampu kita. Kita berikan yang terbaik semampu kita dan dengan ikhlas. Bukan sedikit banyaknya yang dinilai, tetapi niat berbagi dan keikhlasan kitalah yang jadi kuncinya. Pak Solichin juga hanya mau menerima pemberian dari orang yang menurutnya tulus. Kalau dari orang kaya yang cari sensasi, mesti beliau tolak nak. Beliau juga tidak mau meminta- minta, lebih baik membantu mengecat, membersihkan pekarangan, atau apa demi memperoleh sesuap nasi,” mertuaku coba menjelaskan.
“Mmmmmmmmm. Begitu ya Pak, semoga dimudahkan ya kehidupan beliau. Semoga itu juga menjadi ladang amal bagi kita,” kataku.
“Iya nak, Amin. Kita harus berempati terhadap saudara yang sedang kesusahan. Kita harus memposisikan diri pada kondisinya, bukan semau kita dalam membantunya.” Mertuaku menutup pembicaraan. Di luar suara adzan maghrib sudah berkumandang. Kami berduapun menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Di dalam sholatku, teriring doa untuk Pak Solichin. Semoga akan lebih banyak umat yang membantu dan lebih peduli terhadap beliau. Belum banyak yang bisa kuperbuat, tapi aku berjanji dalam hati untuk membantu beliau semampuku. Semoga niatku diberi kemudahan oleh Allah SWT. AMIN.


Sebuah memori; tentang berbagi; dengan empati; disesuaikan kondisi; meskipun nilai; kecil sekali
Ini tentang memberikan; sesuai kemampuan; dengan keikhlasan
Kisah mertua; meski tak kaya; tetap dengan segala upaya; membagi miliknya; kepada sesama






_________________________________________________
ARIEF SETIAWAN
KPP Pratama Yogyakarta
Kisah 6264485681741941010

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan