Loading...

Ayah Ibu, Jaga Anak Kita Jangan Sampai Jadi Begal Motor

Sebelum menikah, saya sudah punya rencana menitipkan pendidikan anak ke pondok pesantren modern. Modern dalam benak saya berarti imtaq da...


Sebelum menikah, saya sudah punya rencana menitipkan pendidikan anak ke pondok pesantren modern. Modern dalam benak saya berarti imtaq dan iptek anak bisa berkembang.

Kenapa harus boarding ? Karena jujur miris melihat kondisi pergaulan lingkungan di pinggiran Jakarta. Warna anak dipengaruhi oleh lingkungan rumah, sekolah dan jalanan. Di sekolah saya yakin bisa mewarnai anak-anak dari sisi imtaq dan iptek. Di rumah insya Allah bisa bersinergi dengan sekolah. Namun jalanan tempat anak anak berinteraksi? Sangat jauh dari harapan.

Bertahun-tahun menjadi guru Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), anak-anak lucu soleh menggemaskan eh beranjak remaja masuk SMP-SMA menjadi pribadi beringas, tawuran, ikut genk begal motor, dan hura-hura. Mereka tidak mau lagi mengaji ke masjid mushola karena malu belajar bareng dengan anak-anak kecil TPA. Namun tidak sungkan menerima warna keras pergaulan di jalanan.

Saya melihat adanya kevakuman pembinaan keagamaan untuk segmen usia SMP dan SMA di lingkungan masyarakat. TPA menjamur di mana-mana, majlis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak banyak bertebaran, tapi siapa yang membina segmen pelajar? Akhirnya remaja usia SMP dan SMA besarnya jauh dari warna Islam dan memilih warna yang bisa jadi bertentangan dengan Islam itu sendiri.

Memang terlalu naïf kalau kita hanya mencari dan mencari dimana lingkungan Islami berada, yang harus kita lakukan adalah menciptakan lingkungan Islami di manapun kita bertempat tinggal. Semangat ini yang saya bawa kemanapun saya bermukim. Anak-anak usia SMP SMA saya kumpulkan, saya ajari Iqro dan kultum sebelumnya mengingatkan saya sendiri dan mereka tentang makna Allah, insan quran dan hakekat hidup. Namun ini kerja besar dan butuh waktu lama dan diperlukan dukungan segenap elemen masyarakat.

Standar kelonggaran waktu di tiap keluarga yang berbeda, sikap permisif dalam bergaul, konsep pendidikan anak dan cara berpakaian yang beragam, hal ini membuat pembinaan anak dan remaja menemui jalan terjal. Belum semua keluarga memiliki semangat yang sama dalam membina anak dan remajanya menuju akhlakul kharimah, dan pengaruh akhlak yang kurang baik sangat cepat menular diteman sebayanya.

Setelah bermusyawarah panjang, survey lokasi dan istikharah, kami hantarkan anak sulung kami ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah (Ponpes HK) di Kuningan, Jabar. Walau saya lahir dan besar di Kuningan, namun pertama masuk Ponpes HK …ruar biasa. Udara yang sejuk segar menyambut kami dari penat perjalanan Pantura. Air wudhu yang sedingin es menyambut kami di masjid.

Alhamdulillah tahun kedua sudah separuh dilalui. Dan siap-siap adiknya menyusul ikut tes masuk Ponpes HK tahun ini. Semoga Allah berkenan menerima niat baik kami sekeluarga dalam mendidik anak-anak dan bertekad dalam ketaan kepada Allah dimanapun kami berada.

Apakah setelah anak mondok di ponpes, kita lepas dan terima saja hasilnya? Ternyata tidak. Sebuan sekali saya wajibkan kunjungan ke Ponpes Hk (itu janji saya ke anak), sekalian mengunjungi Ibu di kota Kuda. Hikmahnya saya jadi rutin juga sungkem ke Ibu.

Pertama kali melepas anak ke pondok, saya heran kok anak ini biasa-biasa saja tidak ada roman raut sedih, padahal banyak ibu bapak dan anak nya berpelukan sambil nangis berjamaah. Semoga ini pertanda baik.

Bulan-bulan pertama di pondok, barang pribadi sering hilang. Handuk, sepatu, sandal, ember dan lain-lain. Ternyata anak saya paling sebel ditanyain tenang kehilangan barang, sampai pernah minta pulang tidak betah karena banyak barangnya yang hilang.

Demi menenangkan anak. Segera saya pesen tiket kereta ke Cirebon. Nyambung travel ke Kuningan. Sesampainya di Ponpes HK saya katakan bahwa kalau handuk, baju, celana hilang gampang belinya di toko tapi kalau semangat kangmas pergi hendak kemana akan dibeli.

Kepeluk erat sulungku dan kusampaikan bahwa biarlah perlengkapan yang hilang bisa jadi ini bentuk ujian kesungguhan menuntut ilmu dan memang ada kawan yg sangat berhajat dengan barang tersebut.

Alhamdulillah dengan kesepakatan tidak sering menanyakan inventaris barang anak saya semangat kembali mondok. Setiap mau UTS UAS, sepekan sebelumnya jadi jadwal wajib tentir. Alhamdulillah persamaan linier, pertidaksamaan masih kuat nyantol dikepala dan bisa ngajarin anak.

Tidak terasa 3 semester sudah berlalu. Lagi semangat-semangatnya ikut densus paskibra dan ikut lomba dibelain mengorbankan waktu liburannya untuk lomba.

Jalan masih panjang anakku, baru saja dimulai. Ayah Ibu tidak bisa memuluskan jalanmu. Ini yang bisa Ayah Ibu lakukan dalam mendidikmu Nak. Namun mari kita bersama bergandengan tangan memetakan jalan agar tidak tersesat—apalagi jadi begal motor yang terpanggang seperti di daerah Tangerang baru-baru ini. Insya Allah sukses bisa diraih.



___________________________________
Ditulis Oleh: Ujang Sobari
Pegawai KPP Wajib Pajak Besar Satu
Ujang Sobari 3324562756786305409

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan