Loading...

Istiqamah Harus Dengan Karomah. Benarkah?

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turu...


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)
Suatu saat pernah mendapat kiriman pesan ”WhatsApp” dari seorang teman tentang “mengenal Hakikat Istiqamah”. Tulisan yang singkat dan sangat bagus untuk memaknai arti istiqamah itu sendiri.

Mengenali terlebih dulu apa itu istiqamah menjadi sangat penting sebelum kita mengamalkannya, karena kenal adalah langkah penting dalam mencapai sesuatu. Kenal lebih ke arah mendalami dan memahami. Sehingga orang yang hanya tahu dan belum kenal, sulit mendapatkannya apalagi langgeng mengamalkannya.

Demikian juga istiqamah yang ingin kita gapai harus dikenal dengan benar hakikatnya. Apalagi sekarang ini, keistiqamahan dalam agama terkadang disalahfahami sebagian masyarakat. Sebagian kaum muslimin ada yang memandang istiqamah terhadap perkara agama hanya untuk orang orang tertentu, harus dengan “karomah”, sehingga banyak mencari atau berusaha mendapatkan perkara luar biasa untuk menjadi orang yang istiqamah. Atau dengan kata lain jadi “wali” dulu baru bisa “full” dalam istiqamah.

Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk mashdar (baca: infinitif) dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Istiqama dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan konsisten yaitu tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek, selaras, sesuai antara perbuatan dengan ucapan. Dari segi istilah dan subtansinya, istiqamah adalah komitmen dan konsisten diatas manhaj dan jalan yang lurus.
Ini terbukti dengan pemahaman para sahabat dan ulama setelah mereka seputar istilah istiqamah ini.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahuanhu ketika ditanya tentang istiqamah, beliau menjawab: “ tidak menyekutukan Allah sedikitpun”.

Mengenai hal ini, Ibnu Qayim Al-Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.). Karena seseorang yang dapat istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt : 331)

Demikian juga Khalifah Umar bin al-Khathab Radiyallahuanhu menyatakan istiqamah adalah konsisten terhadap perintah dan larangan dan tidak menipu dengan tipuan musang. Beliau menterjemahkan istiqamah dengan komitmen dan konsisten terhadap semua ajaran Rasulullah.

Juga Khalifah Utsman bin Affaan Radiyallahuanhu menjelaskan dengan keikhlasan beramal karena Allah. Sedang khalifah Ali bin Abi Thalib Radiyallahuanhu mendefinisikannya dengan menunaikan seluruh kewajiban.

Adapun para ulama setelah masa sahabat mendefinisikan istiqamah dengan beragam definisi, diantaranya, Imam Al-Hasan Al-Bashri dengan melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Kesimpulannya disampaikan Imam Al-Qurthubi dengan pernyataan:

“Pernyataan-pernyataan ini walaupun beragam namun saling melengkapi, sehingga kesimpulannya adalah komitmen pada ketaatan kepada Allah baik secara I’tikad, perkataan dan perbuatan dan konsisten diatasnya. Sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam pernyataan beliau: Istiqamah adalah ungkapan dari komitmen kepada perintah Allah baik berupa pelaksanaan ataupun peninggalan.” (fathul Baari 13/257)

Realisasi Hakikat Istiqamah.

Dari Abu Amr atau Abu Amrah Radiallahuanhu, Sufyan bin Abdullah Atsaqafi Radiallahuanhu, berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
“Saya beriman kemudian istiqamahlah”, merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman merupakan pondasi keislaman seseorang hamba bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah salallahu alaihiwasalam dalam hadits ini, sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah QS. Fusshilat surat ke 41 ayat 30 seperti tersebut diawal.
Hakikat istiqamah diatas dapat direalisasikan dan diterjemahkan pada hal-hal berikut:
1.    Iman yang benar kepada Allah dan mengikuti (ittiba’) secara sempurna dan mencontoh secara total pada Sunnah Rasulullah.
2.    Menunaikan kewajiban, seperti dijelaskan dalam hadits yang shahih:
Sungguh Allah berfirman: Siapa yang menyakiti wali Ku maka ia telah menabuh genderang perang. Tidaklah seorang hambaKu mendekatkan dirinya kepada Ku yang lebih Aku cintai dari semua yang menjadi kewajibannya dan terus hambaKu selalu mendekat kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. (HR-Bukhori).
3.    Meninggalkan perkara haram dan pemperbanyak amalan sunnah.
4.    Berusaha membersihkan diri dan bersungguh-sungguh dalam ketaaatan kepada Allah dalam menggapai keridhaanNya sekuat tenaga dan sekemampuannya.
5.    Yang terakhir tentunya konsisten dalam beramal kebaikan .

Hendaklah kita sebagai seorang hamba mempunyai amalan yang bisa dibanggakan kelak di yaumulhisab nanti. Amalan yang hanya sedikit namun konsisten (langgeng) seperti halnya para sahabat Bilal Bin Rabbah Radiallahuanhu yang tidak pernah “batal” dari wudhu. Sahabat yang selalu berusaha tidak marah dan memaafkan saudaranya setiap malam atau para sahabat lainnya dengan amalan yang terus menerus. Para salafushalih yang tidak lepas dari qiaumullail, dzikir dan tilawatil quran atau pun menulis kitab. Para Ulama dan Asatidz dakwah yang tidak lelah dalam berjuang menyampaikan yang ma’ruf walaupun hanya satu ayat, dan seterusnya.

Dan tentunya kita, dengan amalan yang ikhlas dan sesuai sunnah, seperti berusaha sholat diawal waktu, tilawah qur’an setengah atau satu juz sehari, dzikir diwaktu pagi atau petang, bersedekah diwaktu lapang dan sempit, menjaga silaturahmi ataupun amalan lainnya yang dapat kita kerjakan secara konsisten dan berusaha memeliharanya.

Sungguh banggalah kita disisi Allah dengan amal-amal kita walaupun sedikit namun langgeng, Allah mencintai kita, Allah ridho terhadap kita, Allah meneguhkan kedudukan kita, dan Allah memasukan kita dalam surgaNya, In Syaa Allah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
Demikianlah hakikat istiqamah, semoga dengan mengenal benar hakikat istiqamah, kita dapat menggapainya. Perbanyak doa kepada Allah agar melimpahkan keitiqamahan kepada kita semua. Wallahu ‘alam.




__________________________
Tri Satya Hadi
Pegawai KPP Wajib pajak Besar Dua

 ********
Tri Satya hadi 7812736241293325723

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan