Loading...

Kadang Bagi Wanita, Dicintai Itu Lebih Baik.

“Isteri saya beberapa kali nyuruh-nyuruh saya memandikan anak-anak.” Seminggu kemudian rombongan dari keluarga pihak pria datang untuk m...

“Isteri saya beberapa kali nyuruh-nyuruh saya memandikan anak-anak.”

Seminggu kemudian rombongan dari keluarga pihak pria datang untuk menjatuhkan talak ke isteri nan malang. Bisa ditebak kelanjutannya, si isteri menangis sejadi-jadinya di sudut rumah, enggan dipertemukan dengan suaminya, sesekali mengintip, memperhatikan wajah laki-laki yang dicintainya, aduhai ternyata lelaki itu tengah tertawa-tawa diluar sana.





“Saya juga salah,
sering nyuruh-nyuruh suami antar jemput ke pengajian, kalau nyuruh memandikan anak-anak, itu baru dua tiga kali, mungkin memang saya yang kurang mandiri.”

“Dia menjatuhkan talaknya tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh.”

Sampai disini, saya terdiam, menunduk dalam.

Kami jarang bertengkar, jangan dibayangkan ada sepatu atau piring terbang. Tidak ada, semua terlihat sempurna. Dia memang seorang lelaki yang pendiam, anak sulung yang sangat berbakti kepada ibunya.

Ah, saya melayang dibuatnya, tak pernah pacaran dan kemudian mendapat tawaran dari ibunya untuk dijodohkan dengan si sulung yang secara fisik tidak bisa untuk dikatakan jelek, membuat banyak perempuan tak kuasa menolak. Badannya tinggi, berkulit putih, hidung mancung, dan rambutnya bergoyang diterpa angin sore itu, saat pertama kali kami bertemu, membuat saya yakin seyakin-yakinnya, dialah pangeran impian yang mewujud nyata.
Pernikahan pun digelar.

Saya anak bungsu dari lima bersaudara yang empatnya laki-laki. Jadi bisa dibayangkan bagaimana meriah dan cerianya seluruh keluarga merayakan hari bahagia itu.
Kebahagian menjadi kian bertambah ketika di tahun pertama, kami dianugerahkan bayi tampan nan rupawan, persis ayahnya.
Dua tahun berselang, kebahagian itu tampak semakin lengkap, ketika kami dianugerahkan bayi perempuan, hitam manis, mirip ibunya.

Pekerjaan saya sebagai guru TK, dan dia sebagai sales, membuat kondisi perekonomian kami pas-pasan, tapi dengan segenap cinta yang kami punya, itu bukan masalah yang serius.

Dia kerap menyerahkan seluruh penghasilannya untuk kemudian dipakai buat kebutuhan harian. Tiap bulan rutin, saya sisihkan dari uang itu untuk diberikan ke ibunya.
Bagi saya, dia bagai bintang, menikmati canda bersamanya seperti surga. Pernah terlintas di kepala saya, bahwa mungkin sayalah perempuan yang paling beruntung di dunia ini, dengan fisik yang pas-pasan begini bisa menikahi seorang tampan rupawan.

Saya seperti tersihir oleh setiap kata penuh bunga yang ia ucapkan. Saya percaya dia. Tak ada keraguan sedikitpun didalamnya, saya rasa itu bagian dari pengejawantahan cinta.
Beberapa kali dia pulang larut malam, katanya pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Dan seperti biasa, saya selalu percaya.

Iseng, pagi itu saya mainkan ponselnya, melihat-lihat koleksi foto disana, sesekali meng klik ikon“inbox”, membaca beberapa pesan, dan dada saya bergemuruh hebat menatap sebuah pesan janjian ketemuan malam ini.
Allah..

Pipi saya mendadak basah, deras, tangis pun pecah.
Dan saya tak tahu, jin mana yang merasukinya, melihat saya menangis sambil memegang ponselnya, dia langsung angkat bicara, “Setelah ummi tahu semuanya, sekarang maunya ummi gimana?”

Asin, saya menggigit bibir menahan tangis hingga berdarah.
Ibunya setuju untuk menceraikan saya, anak laki-laki kami diambil alih asuh oleh ibunya, tak ada jalan lain, ia menurut patuh pada titah ibunda.

Tidak ada waktu untuk membicarakannya berdua saja, semua sudah diputuskan. Lagi-lagi ia hanya menunduk tanda setuju atas titah yang terdengar begitu mengerikan.

Lalu? Tujuh tahun ini? tak ada artikah baginya? Sekedar berbicara dari hati ke hati pun, ia tak sudi, bakti kepada orang tua yang seperti inikah yang diinginkan Tuhan?
Segala tanya ini hanya menjadi tanya yang saya bawa dalam doa-doa di kemudian harinya.
**

Sebuah kisah yang dituturkan kepada dan ditulis ulang oleh Penulis.

Lhokseumawe, 12-02-2015

















____________________________________
Fri Okta Fenni
KPP Pratama Lhokseumawe








Keluarga 677090820828300676

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan