Loading...

Luruskan Niat, Kuatkan Sinergi, Tebarkan Kebaikan

“ Niat itu seperti panglima bagi sekumpulan pasukan. Ia menjadi faktor penentu keberhasilan dan juga kuat atau tidaknya daya dobrak sebuah ...

“ Niat itu seperti panglima bagi sekumpulan pasukan. Ia menjadi faktor penentu keberhasilan dan juga kuat atau tidaknya daya dobrak sebuah amal.
Hidup memang selalu memberikan pilihan. Selesai menentukan pilihan, maka berkomitmenlah.
Mewujudkan institusi Direktorat Jenderal Pajak yang lebih baik dan terus menerus berusaha menjadi yang terbaik adalah keistimewaan ! “

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”
(HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Hadits ini sangat besar kandungan nilai ajarannya serta luas kandungan maknanya, dimana hampir semua amal ibadah dalam agama Islam berawal dari hadits ini. Berkatalah Abu Dawud: “Hadits ini adalah separuh agama, karena agama itu adalah amal lahir dan amal batin, sementara amal batin adalah niat.” Berkatalah Al-Imam Asy-Syafi’i: “Hadits ini mengandung sepertiga ilmu agama, kerena amal seseorang itu dilakukan dengan tiga hal, yaitu hati, mulut dan anggota badan. Sementara niat adalah salah satu dari tiga hal itu.”

Dalam kitab-kitab, hadits ini termasuk hadits yang sangat mengagumkan sehingga dalam Shahih al-Bukhari ditulis sebagai hadits pertama. Imam al-Nawawiy pun mengawali ‘Arba’in-nya dengan hadits ini. Dan banyak pula di antara para ulama lain yang memulai kitabnya dengan mencantumkan hadits ini.

Asbabul wurud hadits
Asbabul-wurud (kronologi atau sebab-sebab diucapkannya) hadits ini adalah adanya beberapa kisah yang terjadi menjelang peristiwa hijrah ke Madinah. Ketika Rasulullah SAW mengumumkan untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, maka kaum muslimin menyambut pengumuman ini dengan senang hati, walaupun perjalanan hijrah tersebut pada saat itu bukanlah perjalanan yang ringan. Mereka harus menempuh perjalanan yang melelahkan selama kurang lebih seminggu. Mereka harus menghadapi alam gurun yang berdebu, sengatan panas di siang hari dan dingin menusuk di malam hari, apalagi mereka harus membawa semua keluarga dari anak kecil sampai ibu tua, membawa banyak keperluan sebagai bekal di perjalanan. Sungguh amat meletihkan.

Namun ada juga yang menyambut seruan itu dengan alasan yang kurang tulus, bukan karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melainkan lebih karena hal-hal yang bersifat duniawi. Ada yang merasa senang hijrah karena di sana tanahnya subur sehingga lebih mudah mencari nafkah. Ada yang belum kawin atau ingin kawin lagi sehingga senang untuk ikut berhijrah karena di Madinah mas kawin lebih murah. Bahkan diantara mereka ada seseorang yang mau berhijrah karena mengejar seorang wanita yang ikut berhijrah.

Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dari Shahabat Ibnu Mas’ud, beliau berkata: “Diantara kami (yang ikut berhijrah ke Madinah) ada seseorang yang melamar seorang wanita, wanita itu bernama Ummu Qais. Kemudian wanita itu menolak lamaran itu kecuali si pelamar bersedia dan mau ikut berhijrah bersamanya. Maka orang itu pun ikut berhijrah dan kemudian menikahi Ummu Qais. Kami pun menjuluki orang itu dengan ‘Muhajir Ummi Qais’ (yang berhijrah pada Ummu Qais).”
Maka Allah SWT mengarahkan hati dan kebijakan Rasulullah SAW untuk memperhatikan masalah ini. Dengan bahasa yang indah beliau pun menegur dan mendidik para Shahabat untuk menjadi orang yang tulus karena Allah.

Dalam kisah ini terdapat pesan bahwa Islam adalah agama tarbiyah (pendidikan). Banyak terjadi kisah-kisah teguran seperti ini dalam perjalanan risalah Rasulullah SAW, hal ini tidak lain untuk menunjukkan bahwa Islam itu sangat peduli terhadap upaya menyempurnakan dan memberi yang terbaik. Terbukti pula bahwa Rasulullah bukan hanya sekedar menyampaikan risalah, melainkan juga berupaya agar risalah itu mudah dimengerti dan diamalkan dengan baik oleh kaum muslimin.

Kandungan dan Makna Hadits
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya”, Innama adalah huruf al-hashr, ada pun alif lam dalam al-a’mal adalah untuk menunjukkan hal yang berkaitan khusus dengan masalah taqarrub kepada Allah, namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa alif lam tersebut adalah menunjukkan setiap amalan yang bersifat umum.

Pendapat pertama mengatakan sesungguhnya maksud dari  “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya”  adalah bahwa keabsahan dan diterimanya suatu amalan adalah karena niat yang melandasinya, sehingga sabda beliau ini berkaitan dengan keabsahan suatu amalan dan sabda Rasulullah SAW selanjutnya “Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya“ maksudnya adalah seseorang akan mendapatkan ganjaran dari amalan yang dia kerjakan sesuai dengan niatnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya”  menerangkan bahwa sebab terjadi suatu amalan adalah dengan niat, karena segala amalan yang dilakukan seseorang harus dilandasi dengan keinginan dan maksud untuk beramal, dan itulah niat. Maka faktor pendorong terwujudnya suatu amalan, baik amalan yang baik maupun yang buruk adalah keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Apabila hati ingin melakukan suatu amalan dan kemampuan untuk melakukannya ada, maka amalan tersebut akan terlaksana.

Sehingga maksud “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya” adalah amalan akan terwujud dan terlaksana dengan sebab adanya niat, yaitu keinginan hati untuk melakukan amalan tersebut. Dan sabda Rasulullah SAW “Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya “ memiliki kandungan bahwa ganjaran pahala akan diperoleh oleh seseorang apabila niatnya benar.

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, karena niat berfungsi mengesahkan suatu amalan dan sabda beliau ““Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya” adalah penjelasan terhadap perkara-perkara yang dituntut oleh syari'at bukan sebagai penjelas terhadap seluruh perkara-perkara yang terjadi. Dengan kata lain bahwa keabsahan amalan ditentukan oleh niat dan setiap orang mendapatkan ganjaran dan pahala sesuai dengan apa yang telah diniatkannya.

Suatu amal perbuatan tergantung wasilahnya yaitu niat. Maka sesuatu yang mubah dapat menjadi suatu bentuk ketaatan dikarenakan niat seseorang ketika mengerjakannya adalah untuk memperoleh kebaikan, seperti ketika makan dan minum, apabila diniatkan untuk menyemangatkan diri dalam ketaatan. Suatu amal perbuatan dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi dosa yang diharamkan, adalah juga karena niatnya.

Niat adalah pekerjaan hati. Maka ketika kita dinasehati untuk memperbaiki niat maka itu berarti nasehat untuk kita agar memperbaiki hati secara keseluruhan. Memperbaiki hati adalah pekerjaan yang sangat diutamakan, karena dengan hati yang baik maka seseorang akan cenderung berniat dan mengerjakan yang baik pula. Rasulullah SAW bersabda:
 “Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal darah, yang apabila segumpal darah itu baik maka akan menjadi baik pula seluruh badan ini, dan apabila segumpal darah itu buruk maka akan menjadi buruk pula seluruh badan ini. Ingatlah bahwa segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).  

Luruskan Niat, Tebarkan Kebaikan
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daraquthni dan Ath-Thabarani). 
Semangat sabda beliau ini adalah optimalisasi peran. Hadits ini menunjukkan bahwa
jadi apapun kita, asal itu memberikan manfaat untuk orang lain, maka saat itu kita telah menjadi manusia terbaik. Apapun posisi kita yang saat ini, kita adalah orang terbaik, jika kita bisa mengoptimalkan peran kita tersebut.
Seorang muslim yang berhasil adalah yang mampu menjadi pelita bagi keluarga dan masyarakatnya, dengan sikap, perilaku, ilmu, harta, dan amal nyata. Pantulan dirinya sebagai muslim benar-benar dirasakan, sehingga dapat menebar kesejukan orang-orang yang bersamanya.

Banyak cara bisa dilakukan. Bisa dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan beban penderitaan, membayarkan hutang, memberi makan, hingga menyisihkan waktu untuk menunggu tetangga yang sakit. Pimpinan yang baik juga bermanfaat bagi bawahannya, sebagaimana penguasa yang adil pun bermanfaat bagi rakyatnya. Bahkan, membuat orang lain menjadi gembira juga termasuk amalan bermanfaat yang dicintai oleh Allah SWT. Berbuat baik atau membantu kesulitan seseorang, baik dalam masalah dunia maupun agama. Akan tetapi, hal-hal yang bermanfaaat dalam agama itu lebih mulia keutamaannya dan lebih kekal manfaatnya.

Pernah suatu hari, selepas shalat berjamaah bersama para sahabatnya, Rasulullah saw kelihatan mencari-cari seseorang.
Para sahabat pun bertanya “Siapakah gerangan yang engkau cari ya Rasulallah?”
“Kemana perempuan yang biasa menyapu di masjid ini?” Rasulullah balik bertanya.
Mendengar pertanyaan Rasulullah tersebut, para sahabat saling berpandangan.
“Ada apa ini? Kenapa kalian seakan menyembunyikan sesuatu dariku?” Tanya Rasulullah kembali, semakin menunjukkan keheranannya.
Seakan dikomando, para sahabat serempak menjawab “Wanita itu telah meninggal dunia wahai nabi Allah”
“Kenapa kalian tidak memberitahu?” Kembali Rasulullah bertanya.


Kali ini dengan suara yang agak tinggi.
“Sekarang antarkan aku ke kuburan orang itu” Rasulullah saw beranjak diikuti semua sahabatnya.

Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akan memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut ‘terpaksa’ harus mendapatkan ‘ketidaksukaan’ dari para manusia lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita: “Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan ‘adanya’ kemurkaan manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka Allah akan mewakilkan kebencian-Nya pada manusia.”(HR. Tirmidzi, Al-Qadha’i dan ibnu Asakir).

Dengan terus meluruskan niat setiap saat, terus menebarkan kebaikan dimanapun kita berada, terus memberi manfaat kepada sekitar tanpa kenal lelah, terus menerus mengoptimalkan semua peran yang kita emban dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan, maka insyaAllah kita akan bisa menjadi hamba yang benar-benar dinilai di mata Allah. “Khoirukum anfa’uhum linnaas.”



****

Hadits 5975869193524269260

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan