Loading...

“Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.”

“Man Yazro’ Yahsud” Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang...


“Man Yazro’ Yahsud”

Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula.

Kebanyakan diantara kita melihat kebaikan hanya sebuah potret hal baik dalam prespektif duniawi.  Apabila kita mampu  menyadari bahwa kebaikan bukan sekadar dalam tuntutan dunia yang fana ini, tapi lebih sebagai bekal untuk hari kemudian (akhirat), maka kita akan menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya, melakukan amal shaleh, berbuat baik kepada siapa saja, bersedekah dengan ikhlas serta ikhlas dalam memberikan yang terbaik yang sebenarnya hal tersebut merupakan investasi atau tabungan yang terbaik untuk akhirat kita kelak. Perhatikan firman Allah SWT berikuit ini: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr [59] :18)

Mungkin ada dari kita yang kadang melupakan, bahwa bagaimana kehidupan kita di dunia ini, akan sangat menentukan kehidupan kita di akhirat kelak.   Perumpamaan hidup kita di dunia ini seperti seorang petani yang bercocok tanam, dan memetik hasil panennya nanti di akhirat. Apabila kita menanam kebaikan maka diakhirat nanti, kita pun akan menuai kebaikan juga. Dan bila kita menanam kejahatan, maka keburukanlah yang kita akan petik diakhirat kelak.

Salah satu tanaman yang dapat kita jadikan investasi akhirat kelak adalah “sedekah”.  Sedekah sebagai solusi terbaik dalam berinvestasi.  Dalam bersedekah, hal yang terpenting adalah keikhlasan orang tersebut dalam memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain dan tidak adanya unsur kesombongan dalam hati orang tersebut ketika bersedekah kepada orang lain, bukan berapa besar nilai yang diberikannya kepada orang lain. Sehingga kita dapat mengingat kembali sabda Rasulullah yang berbunyi, “Seseorang tidak akan masuk surga apabila di hatinya terdapat kesombongan walaupun sekecil dzarrah”, dan disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim “Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-Baqarah:272).

Ketika Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa hendaklah ketika tangan kananmu memberikn sesuatu, maka jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya, tentu dimaksudkan agar dalam memberikan sesuatu kepada pihak lain dilakukannya dengan ikhlas tanpa pamrih, tanpa ingin diketahui orang lain.  Sebab salah satu yang menjerumuskan seseorang kedalam sifat riya atau pamer dan ingin disebut sebagai dermawan ialah dengan mempertontonkan sebuah pemberian kepada khalayak.  “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271)

Apabila kita memberi, adakah kita kecewa apabila tiada ucapan terima kasih sebagai balasan?

Apabila kita membantu, adakah kita mengharapkan mereka akan kembali membantu apabila kita dalam kesusahan?

Apabila kita menolong, adakah kita sakit hati apabila kita tidak lagi dihiraukan selepas mereka senang?

Apabila kita membuat kebaikan, adakah kita selalu mengungkit kebaikan yang telah dilakukan?

Sesungguhnya kita memberi karena kita diberikan kekuatan oleh Allah untuk mempunyai sesuatu yang lebih dari siapa yang kita beri. Sesungguhnya kita bisa membantu atas kuasa Allah yang telah menjadikan kita bisa membantu siapa yang membutuhkan. Sesungguhnya kita berbuat baik karena kita mendapat hidayah dari Allah untuk berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Jika kita menyadari semua itu bukan milik kita, maka kita tidak berhak untuk menagih pembalasan darinya. Bagaimana mungkin kita berani meminta balasan, sedangkan tiada satu pun milik kita yang mutlak. Harta, kekuatan, ilham.. semua itu milik Allah.

Seharusnya, kita tidak ada apa-apa untuk dikeluh kesahkan. Tiada istilah kecewa ataupun sakit hati sekiranya dilupakan selepas memberi bantuan kerana hakikat sebenarnya bukan kita yang membantu, bahkan Allah yang melakukannya.

”Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.” (QS Saba, 34: 39)

Ayat yang mulia ini menyiratkan sebuah pesan bahwa tidak akan ada yang hilang dari rezeki yang kita nafkahkan di jalan Allah Swt. Justru, dengan disedekahkan itulah harta kita menjadi kekal. Sebagai contoh, kita punya uang sepuluh ribu, dua ribunya kita sedekahkan, dan sisanya kita gunakan untuk kepentingan sendiri. Dalam pandangan Allah Swt., uang yang dua ribu itulah rezeki kita sebenarnya yang akan menolong kita di dunia dan di akhirat.

Tidaklah kita menyedekahkan kelebihan harta kita kecuali akan Allah ganti semuanya dengan yang lebih baik. Tidak ada kerugian yang ada hanyalah keuntungan. Jika kita ingin diberi yang terbaik Oleh Allah maka berilah yang terbaik dari yang kita miliki.

”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (kesuksesan).” (QS. Al-Lail (92): 5-7)



_______________________________
Muhammad Ali Ridwan Junaedi
P2Humas




Muhammad Ali Ridwan Junaedi 1498396607273566594

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan