Loading...

Ikhlas di Sekitar Kita

Suatu hari anakku pernah bertanya pada umminya. “Mi bagaimana sih ciri orang yang ikhlas itu ?” “Wah Ziyad pertanyaan sulit nih , apa ya…mun...

Suatu hari anakku pernah bertanya pada umminya. “Mi bagaimana sih ciri orang yang ikhlas itu ?” “Wah Ziyad pertanyaan sulit nih , apa ya…mungkin wajahnya kelihatan bersih ya, penuh senyum, tidak kelihatan cemberut atau menggerutu “ . terang istriku. “o gitu ya mi”. kenapa kakang nanya gituan? Istriku balik nanya. “eng.. pantesan dari tadi ummi senyum-senyum terus.. berarti lagi ikhlas ya? kalo lagi marah berarti lagi tidak ikhlas khan mi? “. istriku tersenyum geli. Ada-ada aja anakku yang satu ini pikirnya.

Jadi sebenarnya seperti apa sih orang ikhlas itu? Apakah dia wajahnya putih bersih? atau bercahaya gitu? Atau wajahnya itu senantiasa menampakan kebahagian? Bisa jadi ya seperti itu, tapi kita sendiri tidak bisa mengatakan dia itu orang ikhlas, yang lain itu tidak ikhlas, hanya Allah yang Maha Tahu yang mampu membedakannya .

Mengenai ikhlas ini, saya jadi teringat sentilan seorang direktur di DJP ini pada saat sambutan buka bersama tempo hari. Beliau bilang gini.
“ Ada dua tipe pegawai kita terkait ikhlas, satu yang bekerja ikhlas dan satu lagi yang seikhlasnya dalam bekerja..” kami pun tergelak, sekaligus tersendir secara spontan
“Yang satu , dia benar-benar kerja mengikhlaskan dirinya dalam menyelesaikan tugas dan yang satu lagi hanya seikhlasnya mengerjakan tugas, jadi.. (ambil nafas sebentar).. kalau sudah waktu jam pulang, ya benar-benar pulang.. “ hmm itu tho yg dimaksud gumamku. Setidaknya mengingatkan saya untuk bekerja lebih baik lagi tanpa berharap mendapatkan balasan dari makhluk-Nya.

Di daerah Kebalen, tempat kost saat ini, saya punya langganan ibu tukang jual nasi bungkus, biasanya saya beli buat sarapan, nah kalo bulan ramadhan , baru buka nanti jam 1 malam sampe dengan sebelum imsak, tergantung habisnya. Biasanya sih jam 3 dini hari sudah habis kering kerontang dagangan itu. Laris manis tiap hari dipenuhin para pembeli. Selain murah mungkin juga karena sikap ramah dan baik sang ibu penjualnya itu lho yang bikin pembeli senang beli disitu.

Saya sering ngalamin sendiri mendapatkan kebaikan ibu itu, mulai dari ditambahin porsi lauk (kalo nasi khan dah biasa ..hehe) sampe dengan harga dikorting ..padahal dah murah ..coba aja ..harga seporsi hanya 6 ribu rupiah ..masih bisa dikorting dilempengin jadi 5 ribu rupiah saja, dengan alasan ga ada uang recehan seribuan.. “ udah 5 ribu aja pa..” lho bu? Kurang dong seribu.. ga papa tho paa.. kapan-kapan aja lagi.. “ gitu katanya.. dan ini sering terjadi bukan ke saya aja, tapi ke pembeli yang lainnya.

Wajahnya yang tulus, tidak menampakkan sedikitpun rona kegalauan. Mungkin itu ya , wajah orang yang ikhlas. Tidak sedikitpun pertimbangan dagangannya nanti rugi..subhanallah.. kelihatannya sih kecil ya..tapi coba kita hitung, seribu dari 5 ribu khan 20%-nya.. besar lho..makanyaa huebat banget ibu itu bisa merelakan keuntungannya yang 20% dengan begitu mudahnya. Itu sebanding dengan kalau kita jualan barang yang harga sejuta, nah 200 ribu nya direlakan didiskon sebagai bentuk dari amal kebaikan! Luar biasa ya! hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya.

Orang-orang seperti ibu itu banyak di sekitar kita, hanya karena mereka tidak pernah menunjukkan dirinya lah yang membuat luput dari perhatian kita. Orang yang ikhlas biasanya akan memberikan yang terbaik apa yang dia punya.

Suatu saat saya pernah berkunjung ke suatu desa pada saat acara kegiatan mahasiswa. Para penduduk desa yang kita kunjungi ini benar-benar menyambut kita dengan baik, malah sampai menjamu dengan jamuan yang berlebih, apa yang mereka punya dikeluarkan untuk menjamu tamu, malah secara mendadak seekor ayam kampung menjadi santapan yang lezat buat kami pada saat itu. Kita jadi terharu dan merasa dihormati sebegitu besarnya. Saya pikir mereka adalah orang-orang yang ikhlas.

Ada seorang OB di kapus DJP ini, saya lihat senantiasa shalat berjamaah paling duluan dan gesit dibandingkan teman-teman lainnya. Kalopun dimintakan tolong untuk membantu kita, tanpa pamrih dia laksanakan, dengan senyuman, gaya khasnya sering membuat kita merasa nyaman dan terhibur. Saya tidak melihat dirinya merasa rendah untuk mengerjakan pekerjaannya.Bisa jadi dia tahu apa artinya seorang yang ikhlas.

Kadang jadi malu sendiri, sebagai pegawai DJP suka timbul perasaan tugas kita sangat tidak dihargai apabila dibandingkan dengan penghasilan yang kita dapatkan, merasa yang paling penting tapi mendapatkan kompensasi yang tidak sebanding. Padahal kalo dibandingkan orang-orang di sekitar kita masih banyak yang lebih tidak beruntung dibandingkan kita sendiri.

Ikhlas memang mudah diucapkan tapi berat untuk diamalkan. Beberapa ulama memberikan ciri-ciri terkait tanda-tanda dari orang yang berusaha ikhlas. Setidaknya ada beberapa hal:
1. Hanya selalu mengharapkan keridhaan Allah Swt dalam setiap langkahnya, apapun yang terjadi. Sehingga setiap permasalahan yang dihadapi akan tampak remeh dibandingkan keridhaan-Nya.
2. Beramal sembunyi-sembunyi. Tidak mau diketahui orang lain. Hanya Allah dan dirinya sendiri yang mengetahui amal yang dikerjakannya.
3. Khawatir jika amalannya tertolak. dia merasa ibdah yang dilakukannya belumlah cukup, sehingga semakin besar perasan itu muncul semakin rajinlah dia melaksanakan ibdah dan memperbaiki dirinya serta semakin banyak doa yang dipanjatkan agar bisa diterima amalnya.
4. Tidak mengharapkan pujian. Karena dia merasa hanya Allah yang lebih pantas mendapatkan semua pujian itu.

Semoga kita semua termasuk didalamnya, dan semoga Allah senantiasa menjaga kita istiqomah dalam melaksanakannya, dan hanya kepada Allah sajalah yang kita berharap.
Wallahu ‘a’lam

Kebalen, 23 Ramadhan 1435 H




_____________________________
Dadi Gunadi
Direktorat TIP.







Dakwah 8869655970804474799

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan