Loading...

Jum’at dan Tukang Ojek Papua

Sembari memutar motornya tukang ojek tersebut berkata, “Tidak usah Mas.” Sesekali saya memanggil mereka ‘Pasukan Kuning’. Betapa ti...

Sembari memutar motornya tukang ojek tersebut berkata,
“Tidak usah Mas.”

Sesekali saya memanggil mereka ‘Pasukan Kuning’. Betapa tidak, setiap hari dengan helm yang hampir di segala sisinya dicat warna kuning, mereka berlalu lalang menyusuri jalanan Manokwari untuk sekadar mencari penumpang. Siapa pun yang melihat mereka, sudah pasti tahu kalau profesi mereka adalah tukang ojek.

Terlebih kombinasi angka-angka di bagian belakang helm seolah mempertegas keanggotaan mereka sebagai bagian dari ‘Pasukan Kuning’.

Rasanya keberadaan mereka di salah satu kota di Provinsi Papua Barat ini menjadi pesona magis tersendiri. Dibalut jaket atau sweater serta sarung tangan yang menghiasai jari-jemari, mereka dengan gesit berpacu bersama angin jalanan mengantarkan para Pace’ dan Mace’(1)  ke tempat tujuan masing-masing dengan selamat.

Ah, saya pun termasuk yang menikmati adanya ‘Pasukan Kuning’ ini. Kerap kali saya menggunakan jasa mereka untuk ke kantor, ke tempat teman, mau pun sekadar ke supermarket untuk membeli keperluan kosan. Pun saat hendak beranjak ke masjid yang letaknya agak jauh dari kantor untuk melaksanakan shalat Jum’at, saya menggunakan jasa mereka. Seperti pada suatu Jum’at beberapa waktu yang lalu.

*****

Hari Jum’at kala itu cukup banyak pekerjaan kantor yang mesti diselesaikan. Karna banyaknya pekerjaan, tak terasa waktu shalat Jum’at kian mendekat. Alhasil, usai mengerjakan tugas-tugas kantor, saya bergegas ke luar kantor untuk mencari ojek motor. Di tepian jalan telunjuk saya menari-nari hingga akhirnya ada tukang ojek yang menghampiri.

“Ke Fashr Khan Mas”, ujar saya ke tukang ojek.
Tukang ojek langsung tancap gas saling memburu bersama udara yang mulai memanas.
“Ke Masjid, Mas?” tanya tukang ojek pada saya.

Saya mengiyakan yang lantas disambut dengan laju motor yang dicepatkan.
Masjid Fashr Khan adalah masjid terbesar di Manokwari. Letaknya yang dekat dengan lingkungan tentara membuatnya tampak berdiri megah dan gagah. Desain masjid yang tak memiliki pintu di ketiga sisinya ini semakin membuat para jama’ah betah berlama-lama di dalamnya. Terlebih semilir angin yang berhembus dari luar di sela-sela shalat, bak embun yang mengusapi jiwa-jiwa yang lelah karna aktivitas sehari-hari.

Beberapa saat kemudian saya tiba di Masjid Fashr Khan.
“Ini Mas”, kata saya sembari menjulurkan uang pada tukang ojek.

Sembari memutar motornya tukang ojek tersebut berkata,
“Tidak usah Mas.”
Saya kaget seketika, heran.
“Masukkan (ke kotak amal) saja Mas”, pungkas tukang ojek sembari tersenyum dan berlalu.

Mendengar jawaban tukang ojek kala itu, saya cuma mampu terdiam.
Malu. Malu karna kalau sedekah saja saya mesti berpikir terlebih dahulu.

Catatan:
1.       (1)  Pace’ adalah sebutan Bapak dan Mace adalah sebutan Ibu, di Papua.




Mas Mochammad Ramdhani

KPP Pratama Manokwari
Mas Mochammad Ramdhani 2355934959359148134

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan