Loading...

Peran Muslimah Sebagai Pendidik dan Penyemai Kebaikan

Secara umum wanita memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dan pen-ting dalam berbagai aspek kehidupannya; baik dalam kehidupan indiv...

Secara umum wanita memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dan pen-ting dalam berbagai aspek kehidupannya; baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, maupun negara sebagai bagian dari anak bangsa. Sebagaimana pula ia memiliki peran tanggung jawab khusus yaitu sebagai pendidik dan pemberi kontribusi kebaikan sosial, yang tanpanya, kehidupan tidak akan berjalan semestinya.

Sekiranya di muka bumi ini hanya dihuni oleh laki-laki, kehidupan mungkin sudah terhenti beribu-ribu abad yang lalu. Oleh sebab itu, wanita tidak bisa diremehkan dan diabaikan karena dibalik semua keberhasilan dan kontinuitas kehidupan, di situ ada wanita. Banyak peran-peran strategis yang bisa dilakukan oleh seorang muslimah baik sebagai individu, sebagai orang tua, sebagai pendidik,
sebagai pekerja, sebagai da'i, dan lain sebagainya. Terhadap masing-masing peran, ia harus memahami hak dan kewajiban, serta bagaimana ia dapat memberikan manfaat dan beramal sebanyak-banyaknya melalui peran-peran yang ada.


****
Ajaran Islam yang diturunkan kepada manusia telah memberikan penghormatan yang luar biasa terhadap kaum perempuan. Kita tidak akan menemukan tatanan manapun yang sejak semula telah memberikan keleluasaan gerak, kemuliaan, kehormatan, dan perhatian yang sangat tinggi dan besar bagi seorang wanita, kecuali dalam syari’at islam. Islam menghargai sosok wanita dengan menganggapnya sebagai unsur penyempurna dari kaum laki-laki dan satu sama lainnya adalah sebagai penolong, bukan sebagai musuh atau pesaing.

Pemuliaan terhadap sosok ibu juga sungguh luar biasa, melebihi kedudukan seorang ayah. Sehingga suatu keni’matan yang abadi itu dinisbahkan kepadanya (‘surga itu terletak di telapak kaki ibu’), manakala seseorang memperlakukannya dengan penuh bakti dan rasa hormat. Dalam hal hak dan kewajiban terhadap Allah, ia juga tidak dibedakan dari kaum laki-laki.
“Barang siapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman, niscaya ia akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami balas ia dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.” (An-Nahl:97)
Meskipun demikian dalam pelaksanaan hak dan kewajiban itu Allah menetapkan perbedaan sesuai fitrah masing-masing. Seperti dikisahkan dalam sebuah hadist, ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah SAW, engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah SAW menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).

Peran-peran muslimah
Adapun peran dan tanggung jawab muslimah adalah sebagai berikut:

1. Menghambakan diri kepada Allah SWT
Menghambakan diri kepada Allah adalah merupakan ciri dari Wanita yang saleh. Sementara itu keshalehan sang istri merupakan asas yang terpenting sekali daripada asas-asas yang lain. Kegagalan asas ini dapat mengakibatkan asas-asas lain tidak akan berfungsi untuk memberi kebahagiaan sebenarnya di dalam kehidupan. Tanpa Wanita yang saleh maka keluarga-keluarga Islam tidak akan dapat diwujudkan, padahal pembinaan dan terbentuknya pergerakan Islam itu bergantung kepada kelahiran keluarga-keluarga Islam ini. Kalau sekiranya pergerakan Islam itu penting untuk membawa dan mempraktekkan Islam maka Wanita yang Saleh juga sama pentingnya.

2. Mendidik anak-anaknya
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa 4:9)
Dan pendidikan anak sangat disarankan dimulai sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan. Ketika sang ibu rajin beribadah, insya Allah, kelak janin yang dikandungnya akan menjadi ahli ibadah. Ketika sang ibu rajin membaca Al Qur’an, insya Allah, kelak anak yang dilahirkannya pun akan mencintai Al Qur’an. Dan ketika sang ibu sangat berhati-hati menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan, insya Allah, kelak anaknya pun akan menjadi hamba-Nya yang ihsan. Karena itu tidak keliru kalau ada yang mengatakan: “Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”.

3. Pendamping setia suaminya
“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu”. (Al-Baqoroh:187)
Wanita yang shalihah adalah istri yang senantiasa bersyukur terhadap jiwa dan harta suaminya, yang taat kepada suaminya, memenuhi hak dan kewajiban suaminya, memelihara diri, berakhlaq mulia, dan menjaga anak-anak dan harta suaminya.

4. Saudara bagi masyarakatnya
Maksudnya adalah seorang wanita muslimah juga memiliki peran dan tanggungjawab dalam kehidupan masyarakatnya, sehingga memiliki kontribusi dalam melakukan perbaikan dan pembangunan di tengah masyarakatnya, terutama dalam rangka mencetak individu yang baik yang kelak menjadi anggota masyarakat yang baik. Dan baik buruknya wanita dapat mempengaruhi kondisi suatu masyarakat.

Bercermin Kepada Para Shahabiyah
Sejak jaman Rasulullah SAW, wanita muslimah senantiasa dikisahkan sebagai muslimah yang aktif dan giat beramal. Banyak dari mereka juga berilmu, menjadi bahan rujukan termasuk bagi para sahabat yang laki-laki, bekerja, juga ikut berperang.
Sebut saja istri pertama Rasulullah SAW yang bersabar dan terus memberikan semangat semenjak Rasul belum menjadi Nabi, ketika menerima wahyu pertama yang amat berat, hingga merintis da'wah di Mekkah. Khadijah binti Khuwailid ra. Adalah seorang saudagar wanita kaya. Seandainya wanita muslimah hanya boleh beaktifitas di rumah saja, mana mungkin Allah SWT menakdirkan Rasulullah SAW menikah dengan seorang wanita bekerja. Bahkan Khadijah ra seorang yang begitu istimewa, hingga malaikat Jibril as pun menyampaikan salam dari Allah untuknya.

A'isyah ra adalah muslimah generasi awal yang penguasaannya terhadap fiqh menjadikannya tempat bertanya, berkosultasi, dan meminta fatwa bagi para sahabat. Ia adalah seorang yang paling tahu tentang islam dan segala ketentuannya dibanding banyak sahabat yang lain. Abu Musa al-Asy'ari ra meriwayatkan,”Tidak ada suatu hadist pun yang tidak jelas bagi kami para sahabat, lalu bertanya kepada A'isyah ra kecuali kami dapati ia tahu tentang hadist tersebut.”

Juga Ummu Waraqah binti Abdullah bin al-Harits al-Anshariyah, yang masuk islam dan berbai'at kepada Rasulullah SAW dalam Bai'atunNisa'. Dari al-Hushain, dari neneknya, dari ibunya Ummu Waraqah binti Abdullah:”Suatu saat Rasulullah SAW menjenguknya dan memberi nama/gelar 'Syahidah', dia seorang yang menghimpun al-Qur'an. Ketika Rasulullah SAW hendak perang Badar, Ummu Waraqah berkata kepada Baginda Rasul: 'Izinkan saya menemani engkau dalam barisan perang, untuk mengobati luka, merawat yang sakit, dan semoga Allah SWT mengaruniai saya mati syahid.' Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah memudahkan engkau memperoleh syahadah.”

Aktifitas Muslimah
Bekerja bagi muslimah adalah suatu hak dari sekian banyak haknya yang telah dijamin oleh islam, sebagaimana hak kewanitaan dan kemanusiaannya, juga hak untuk memperoleh pahala dan balasan. Sebagaimana terhadap kaum laki-laki, islam memberi toleransi kepada kaum wanita untuk beraktifitas.
“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At Taubah:105)
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk:1-2)
Dengan demikian islam memerintahkan kaum wanita untuk bekerja dan beramal, seraya meletakkan syarat dan adab tertentu yang harus dipegang teguh. Sebagian dari syarat dan adab tersebut adalah:

  • Hendaklah amal yang dilakukan wanita itu adalah yang diridhai Allah SWT, karena amal itulah yang dianjurkan, dan bukan untuk bermaksiat kepada-Nya
  • Amal tersebut harus mendapat izin walinya
  • Amal yang dilakukannya sesuai dengan fitrah dan tabiatnnya sebagai wanita
  • Amal yang dilakukannya itu tidak membuatnya ber-khalwat (berduaan di tempat sunyi) dengan laki-laki
  • Dalam melakukan amalnya tidak menampakkan keindahan tubuhnya yang diharamkan oleh Allah untuk ditampakkan di hadapan orang lain yang bukan mahramnya
  • Pakaian yang dikenakan dalam melakukan aktifitasnya tidak menyerupai pakaian laki-laki
  • Aktifitas yang dikerjakannya itu tidak menjadi pusat perhatian kaum laki-laki atau yang menimbulkan fitnah dari pakaian dan aroma parfumnya.

Demikianlah tuntunan perilaku wanita muslimah dalam menjalankan aktivitasnya, yang berlaku sejak dulu hingga kini, dan di setiap waktu dan tempat. Aktifitas yang dilakukannya selalu diwarnai dengan akhlaq dan adab yang islami. Meskipun demikian perlu ditekankan bahwa pada dasarnya tugas wanita yang paling afdhal diantara sekian banyak pekerjaannya adalah tugasnya di rumah tangganya bersama suami, anak-anaknya, dan orang-orang yang berada dalam rumahnya. Maka dari itu hendaklah muslimah bekerja dapat memperhatikan dan memprioritaskan segala sesuatu sesuai tugas dan tanggung jawabnya tersebut.

Adalah wajar ketika seorang ibu bekerja merasakan dilema atau perasaan bersalah saat harus meninggalkan anaknya di rumah. Namun janganlah hal tersebut membuat muslimah bekerja menjadi tidak fokus dalam pekerjaannya. Keduanya (pekerjaan dan rumah tangga) harus dapat dimanajemen dengan baik, sehingga  berjalan seperti yang dikehendaki. Ketika bekerja, muslimah harus bekerja dengan niat yang baik, profesional, dan produktif, sebagaimana juga demikian halnya di rumah.

Rumah harus dikondisikan dengan baik sehingga ketika ditinggalkan dalam kondisi yang layak, misalnya dengan meninggalkan bekal makanan, pakaian, rumah yang rapi, dan pembantu yang cakap untuk mengurusi rumah ketika ia tinggalkan. Sehingga ketika bekerja ia tidak lagi memikirkan rumahnya, yang berakibat ia menjadi tidak konsentrasi dalam bekerja. Demikian juga sebaliknya. Ketika di rumah, maka jangan menggunakan tenaga sisa karena sudah letih bekerja, sebab suami dan anak-anak juga membutuhkan ibunya dalam keadaan segar, fokus, dan 'profesional'.

Muslimah bekerja harus dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang terbatas bersama anak-anak ini dengan kualitas yang paling baik. Sebab pendidikan terbaik datangnya adalah dari ibu yang penuh kasih. Maka manfaatkan waktu-waktu 'kritis' dengan sebaik-baiknya, yaitu saat bangun tidur, jika memungkinkan sarapan bersama, dan saat akan tidur, bercerita (mendongeng) atau mendengarkan ceritanya tentang kegiatannya selama seharian.
Tidak ada gunanya menyesali keadaan (meninggalkan anak-anak di rumah) dan selalu mencemaskan anak-anak yang ditinggalkan, karena waktu, tenaga, dan pikiran kita tidak akan bisa berada di sana. Ketidakfokusan muslimah di kantor tidak akan menyebabkan anak-anak di rumah menjadi lebih baik. 

Bahkan sebaliknya, pekerjaan tidak selesai, anak-anak juga tidak terurus. Yang harus dilakukan adalah berdoa, berupaya, dan meletakkan prioritas pada tempatnya. Oleh karena itu, muslimah bekerja harus berprestasi di tempat kerjanya, sebagai kompensasi ketidakhadirannya di rumah. Beramallah dan berda'wahlah agar kebaikan senantiasa menaungi muslimah serta anak-anak yang berada di rumah.

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah peran muslimah dalam masyarakat. Bermuamalah yang baik dengan masyarakat, berda'wah kepada masyarakat, berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang kondusif dan islami, dapat membantu kita mendidik, membesarkan serta meninggalkan anak-anak ketika bekerja dengan tenang. Pada hakikatnya selain kita sebagai orang tuanya, lingkungannya (dalam hal ini teman sepermainan dan tetangga) juga ikut berperan serta dalam mendidik anak-anak. Kita tidak dapat mengurung anak-anak di rumah, maka dari itu, berda'wah kepada tetangga dan masyarakat sekitar adalah cara yang lebih ma'ruf.

Menjadi apapun seorang muslimah, dalam semua perannya, maka hendaklah ia meniatkannya untuk Allah SWT semata. Dan dalam peran apapun, ia harus menjadi ladang amal yang sebanyak-banyaknya. Menjadi anak kesayangan ayah-ibunya, menjadi istri yang cekatan, ibu yang penuh kasih sayang, pekerja yang berprestasi, tetangga yang pemurah, anggota masyarakat yang ramah dan peduli, da'i yang faqih, dan yang paling utama, hamba Allah yang senantiasa beribadah dan beramal demi keridhaan-Nya. Wallahu a'lam bishshawab.


*** (Nina Sabnita/KPDJP)





Nina Sabnita 6313754254308033748

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan