Loading...

Dan Dia Pun Telah Menepati Janjinya

Masih terdengar jelas teriakannya, saat tiba- tiba aku berkunjung ke rumahnya, dan ternyata dia sedang main volley tanpa jilbabnya. Dengan w...

Masih terdengar jelas teriakannya, saat tiba- tiba aku berkunjung ke rumahnya, dan ternyata dia sedang main volley tanpa jilbabnya. Dengan wajah malu-malu sambil minta maaf dia mengajakku masuk ke rumahnya. Rumah orang tuanya, lebih tepatnya. Rumah yang sangat sederhana, itupun kalau bisa disebut rumah. Dindingnya anyaman bambu, lantainya polesan sisa semen yang retak disana sini. Kalau mau mandi, harus menimba belasan meter.

Aku menghela nafas panjang, mataku berair. Elly, ya.. namanya Elly, yang dengan mengingatnya aku selalu ingat pada  Alloh, bukankah itu sebaik baik kawan?. Dia adalah murid ngajiku yang pertama di Lubuk Linggau, anak PKL yang rajin dan polos, yang Alhamdulillah akhirnya mau ikut kajian pekanan di rumah kontrakanku di Margamulya, Lubuk Linggau. Anak seorang penjaga kebun karet di tengah hutan. Dia tinggal di rumah itu berdua dengan adiknya. Orang tuanya tidak pasti pulangnya, kadang sebulan sekali,kadang lebih.

Begitu susah membujuknya, meyakinkannya akan kewajibannya untuk menutup aurat. Tapi berangsur –angsur karena ijin Alloh, kesadarannya datang, Alloh kasih hidayah, Elly berikrar di hadapan 3 orang kawan sepengajiannya, akan selalu berjilbab, dan akan meninggalkan semua kawan kawannya di tim volley . Dia menangis,kami menangis, tangis bahagia.
Sejak saat itu rumahnya menjadi markas bagi kelompok pengajian kami, tempat menelurkan ide-ide brillian , dari gubug yang sederhana itu, kita mulai ekspansi ke sekolah sekolah , menyebarkan keindahan Islam, memasuki majelis majelis taklim, mengadakan bakti sosial di berbagai tempat.

Yah, dari rumah mungil di Desa Taba Jemekeh, Lubuk Linggau Timur, Lubuk Linggau, lahir para pejuang kebaikan. Pasukan kecil yang tak pernah mengenal lelah, terutama Elly. Oh iya , Elly mengidap penyakit penyimpangan genetic, dan beberapa makanan yang mungkin bagi kita sepele, kalau ceroboh bisa menyebabkan kambuh, dan ketika penyakitnya sudah kambuh tak ada seorangpun yang tidak akan merasa kasihan,seluruh kulitnya akan melepuh seperti terbakar, semua bulu-bulu dan rambut di sekujur tubuhnya akan rontok, matanya memerah, dan tersentuh sedikit saja terasa sakit sekali.

Tahun 2004, saat pasukan kecil kami ditugasnya sebagai tim konsumsi yang harus menyiapkan ratusan nasi bungkus dalam waktu semalam, dengan dana yang mepet, tanpa pikir panjang Elly menjawab, “ Siap!! Kita akan masak di rumah ! “  dan dengan semangat mujahid dan ijin Alloh tugas ini tertunaikan dengan baik.

Saat dia harus menampung anak sekolah keturunan Cina, yang karena dekat dengannya kemudian menjadi muallaf, dia berjuang kesana kemari menyembunyikan muallaf itu seorang diri, bertaruh dengan keamanannya. Dari rumah kecilnya terbangun sebuah Rumah Pelangi, Taman Bacaan …yang selalu penuh dengan anak anak kecil, bukan karena gedungnya yang bagus, tapi karena aura semangat dan cinta dari sang penghuni.

Sambil bekerja, Elly kuliah, mengambil jurusan Bahasa Inggris ,bahkan bisa menabung untuk mencicil sebuah motor. Dan dia mengungkapkan sebuah cita cita akan membangun sebuah klub Bahasa Inggris untuk komunitas anak anak remaja, sebagai sarana penyebaran Islam.
Perputaran roda mutasi membawaku ke Bogor, mengikuti tugas suami, dan ketika semua menangis saat di stasiun kereta , dia berikrar  “ Aku akan buat Mbak Tiwi bangga padaku, mbak harus janji tidak akan melupakan aku “ Dalam hati, aku berkata bagaimana seorang ibu bisa melupakan anaknya,nduk…..

Hingga akhirnya malam itu, di tahun 2011 tepatnya bulan Mei handphone ku berdering, kabar mengejutkan. Elly sakit, penyakitnya kambuh karena kecapean mengurus proyek English Club yang diamanahkan kepadanya. Rumah sakit Lubuk Linggau tidak mampu menangani, akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit propinsi di Palembang.

Waktu berjalan dan kondisi semakin memburuk, handphone ku aktif menunggu informasi. Hingga akhirnya subuh datang Alloh menjemputnya, dengan senyum, dikelilingi sahabat sahabat terbaiknya, dan aku tak bisa mengabulkan keinginannya untuk mendampingi di saat – saat terakhirnya,karena takdir Alloh, aku sedang hamil dan tidak memungkinkan pergi ke Palembang.

Saat jenazahnya datang ke rumah, ratusan orang dan  mobil plat merah berderet menyolati dan mengiringi jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya hingga orang-orang bertanya, siapa Elly sebenarnya. Aku hanya ingin berkata, mungkin Alloh menyayanginya, amat sangat menyayanginya, bahkan saat sebelum sakit terakhirnya masih bisa memberikan kebahagiaan kepada saudaranya seiman, ikhlas memberikan calon suami yang diajukan sahabatnya, untuk yang dijodohkan dengan sahabatnya yang menurutnya jauh lebih layak. Elly, bahkan merasa belum layak mendapat berkah jodoh.

Aku bangga pernah mengenalnya dan  menjadi bagian kehidupannya. Dia yang menepati janji kepada Rabb Nya dengan penuh keindahan ,menjemput kematian di saat- saat terbaiknya.InsyaAlloh…


****
Satiwi Ary Parwanti
KPP Pratama Sumbawa Besar







Satiwi Ary Parwanti 659957784582263105

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan