Loading...

Dimulai dengan Ketukan “A”

Mentari bersinar terik. Pengemis buta menyilangkan kaki di sudut pasar kota Madinah. Serapah selalu terlontar dari ucapnya. “Wahai saudarak...

Mentari bersinar terik. Pengemis buta menyilangkan kaki di sudut pasar kota Madinah. Serapah selalu terlontar dari ucapnya.
“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir, apabila mendekatinya kalian akan dipengaruhi!”
Orang berlalu lalang pun acuh bukan hanya pada kata-katanya, akan tetapi juga pada kondisinya yang tak terawat. Hanya seorang laki-laki paruh baya yang setiap hari datang menghampirinya. Mendengarkan serapahnya, lalu menyuapi dengan cara yang sangat mulia.
Pada suatu kesempatan Abu Bakar r.a menghampiri pengemis tersebut. Serapah masih terdengar.
“Siapa kamu?” pengemis kaget.
“Aku orang yang biasa”.
“Bukan! Apabila orang yang biasa mendatangiku, ia selalu menyuapiku dengan menghaluskan makanan terlebih dulu sehingga lebih mudah bagiku untuk mengunyahnya!”
Abu bakar r.a menahan tangis. “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku hanya salah seorang sahabatnya, namun orang itu sekarang telah tiada, dialah Muhammad.”
Pengemis buta tersentak. Air mulai mengalir dari sudut mata yang lama tak melihat cahaya. Lalu terdengar lantunan kalimat syahadat.

Sepenggah kisah diatas, merupakan contoh konkret bagaimana sebaiknya kita mengejawantahkan kata ikhlas dalam sebuah laku. Tanpa pamrih, tanpa kemarahan, tanpa kebencian, hanya ada kerelaan sikap yang didasari dengan sebuah prinsip.

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih dari kotor. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat hanya mengharap ridha Allah semata dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain .

Sementara itu, dalam buku Tazkiyatun Nufus, Dr. Ahmad Faridi berupaya mengartikan kata ikhlas dengan meyimpulkan berbagai definisi ikhlas menurut para ulama seperti Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Razaq Al Hambali, dan Ibnul Qayim Al Jauziah. Beliau mengatakan bahwa, ikhlas bermakna membersihkan maksud dari motivasi bertaqarrub kepada Allah dari berbagai maksud dan niat lain atau mengesakan hanya Allah-lah sebagai tujuan dalam berbuat kebajikan, yaitu dengan menjauhi dan mengabaikan pandangan makhluk serta tujuan keduniaan dan senantiasa berkonsentrasi kepada Allah semata.

Implementasi dari definisi ikhlas diatas pun tidak hanya diperlukan dalam ibadah secara kontekstual semata, tapi juga diperlukan dalam bekerja. Allah berfirman dalam Q.S An Naba ayat 11, “Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan kehidupan (bekerja)”. Seruan yang sama juga difirmankan oleh-Nya, “Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja). Tetapi sedikit sekali diantaramu yang bersyukur.”(Q.S Al A’raf:10)

Imam Bukhari juga menuangkan keutamaan insan yang bekerja dalam beberapa hadist.
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat. Maka para sahabat bertanya: Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Bersusah payah dalam mencari nafkah.” Hadistnya yang lain menyebutkan, “Rasulullah bersabda: Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil tangannynya (sendiri), dan sungguh nabi Daud a.s, makan dari hasil usaha tangannya (sendiri) .”
Beberapa firman Allah dan sabda Rasul diatas semakin menegaskan tentang keutamaan bekerja. Pemaknaan kata bekerja pun akan lebih sempurna ketika didasari dengan sifat dan sikap ikhlas. Lalu, bagaimana kita bisa ikhlas dalam bekerja?

Ada setidaknya “tiga ketukan A” yang diperlukan dalam membiasakan rasa ikhlas ketika menjalankan rutinitas kerja. Pertama, dimulai dari diri sendiri atau pemahaman ke-Aku-an. Disini perlu adanya kesadaran diri dari masing-masing individu tentang arti kata bekerja secara komprehensif. Seperti salah satu perilaku utama dalam butir profesionalisme sebagai salah satu nilai kementrian keuangan, kita harus mampu bekerja dengan hati. Kemantapan hati untuk bisa bekerja secara ikhlas, kemudian dapat ditunjang dengan “ketukan A” yang kedua; Asas atau prinsip.
Sebagian besar orang melandasi asas maupun prinsip hidupnya dengan apa yang diyakininya (baca: agama). Dalam bekerja pun demikian. Seseorang yang ikhlas bekerja sudah seharusnya melandasi apa yang menjadi kewajibannya itu dengan sebuah pegangan hidup. Imam al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menekankan bahwa  ikhlas merupakan selalu konsisten dalam berniat karena Allah dan melupakan semua acuan kepada selain-Nya.

Ketiga, Amanah. Ketika kesadaran diri yang didasari oleh pedoman hidup telah terbentuk, maka pola sikap yang kemudian muncul dalam rutinitas kerja adalah amanah. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikan amanah sebagai sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain . Kita pun familiar dengan sabda Rasul,
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya….” (H.R Bukhari & Muslim)

Hadist tersebut bukan hanya mengingatkan tentang kewajiban seorang pemimpin semata, akan tetapi jika kita cermati ada penekanan dalam makna tanggung jawab dan amanah atas apa yang telah dipercayakan (dititipkan) pada kita. Jika kita kaitkan dengan pekerjaan, ketika sudah ada komitmen untuk mengabdi pada sebuah institusi maupun pihak tertentu, sudah seharusnya pula kita bisa bekerja secara kontributif dengan memberikan upaya terbaik yang kita miliki.

Semoga beberapa ketukan tuts diatas bisa menjadi reminder untuk kita semua. Tentang kata yang tak akan sempurna tanpa ketukan huruf “a”. Tidak akan ada kata cinta, kerja, dan ikhlas. Hanya akan tercipta susuan kata cint, kerj, dan ikhls. Tanpa makna. Mari mulai membiasakan kerja kita dengan tiga ketukan “a”. Dimulai dengan pemahaman ke-aku-an yang didasari atas asas maupun prinsip sebagai landasan hidup hingga kemudian terbentuk sikap amanah dan tanggung jawab dalam bekerja.



*****
Hasan
KPP Pratama Mempawah







Tazkiyatun Nafs 7950741613668262123

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan