Loading...

Dua Lentera Hati

Dalam hening aku melihat mereka, aku tersenyum. Sepasang suami istri yang sudah uzur, tapi tak pernah henti memberikan pelajaran. Aku tersen...

Dalam hening aku melihat mereka, aku tersenyum. Sepasang suami istri yang sudah uzur, tapi tak pernah henti memberikan pelajaran. Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Kulihat sang istri mengupas mangga buat suaminya, suaminya dengan lahapnya menyantap manga yang sudah dikupas oleh sang istri. Karena kedua tangannya sibuk, tak sempat dia makan mangga yang dikupasnya, pun begitu selesai dikupas langsung habis disantap sang suami. Sampai akhirnya sang suami tersadar dan tertawa, kemudian disuapkan mangga ke istrinya seraya berkata “ Kapan kowe arep mangan ,nek tanganmu gak eneng sing nganggur, ngene tak dulang aku wae, kon sing ngonceki,aku sing ndulangi”( terjemahan : Kapan kamu akan makan, kalau kedua tanganmu tidak ada yang menganggur,sini,biar kamu yang kupas, aku yang nyuapin kamu).

Kisah ini tentang sang istri, seorang perempuan biasa, dari keturunan yang sangat biasa,tetapi mempunyai sejarah bagiku yang luar biasa. Perempuan pertama, dia adalah perempuan desa, lahir dari rahim seorang muslimah, yang seperti layaknya gadis desa di zamannya, dia dipersiapkan untuk menikah. Akhirnya menikahlah dia dengan dengan seorang lelaki yang menurut kedua orangtuanya lelaki yang pantas , keluarga berada,punya banyak sawah dan kebun,ukuran untuk lelaki desa ,banyak orangtua yang menginginkan menikahkan anak perempuannya dengan lelaki tersebut.

Kehidupan rumah tangganya berjalan mulus di awal awal pernikahan, kemudian seiring waktu mulailah terbuka watak dan kebiasaan suaminya, yang sudah terlanjur dicintainya,ternyata sang suami punya kebiasaan buruk.Suaminya gemar sekali berjudi,kalau sudah duduk melingkar di arena judi, waktu subuh adalah waktu dimana hawa rumahnya terasa sangat panas, apalagi kalau suami nya kalah judi.

Sebagai seorang perempuan Jawa, ajaran sang ibu bahwa bagi seorang istri, suami adalah segalanya, Swargo nunut, nroko katut, yang artinya jika suami masuk surga,maka istrinya pun akan ikut masuk surga, dan jika suami masuk neraka maka istri pun harus ikut masuk neraka. Doktrin ini sudah begitu merasuk dalam jiwanya, jiwa seorang perempuan yang terlahir dan dididik untuk mengabdi tanpa syarat kepada suaminya. Dalam diamnya, tak henti dia melayani sang suami,siang dan malam bahkan di waktu subuh suaminya pulang dari berjudi, air hangat sudah disiapkannya, makanan hangat dan enak sudah tersaji di meja, tak lupa kopi hangat dan ubi goreng sebagai camilan, dan rokok kretek linting yang siap dihisap oleh suaminya. Dalam diam, tanpa kata ataupun keluhan dia selalu memberikan pelayanan terbaik untuk sang penentu surga dan nerakanya. Memasak, bahkan sampai membantu di sawah, semua dilakukannya tanpa mengeluh, Dia hanya tahu satu hal, wejangan ibunya yang senantiasa terpatri dalam benaknya, “Gusti Alloh Ora Sare ( Alloh tidak tidur)”.

Dia bingung,apa yang harus dilakukan untuk mengingatkan sang suami. Perempuan itu dibesarkan dalam lingkungan yang sholat tak boleh ditinggal, wajib baca Alquran, apalagi setiap malam Jumat, dan dia tahu persis berjudi itu adalah perbuatan yang dilarang oleh Rabb Nya. Tapi ibunya hanya mengajarkan bagaimana melayani suami saja, ibunya lupa mengajarkan bagaimana mengingatkan suaminya jika melakan kesalahan.

Dalam bingungnya, setiap malam dia bersimpuh mengadu kepada Rabb Nya, ketika suaminya sibuk berjudi, sang perempuan sibuk bermunajat mencari solusi, bagaimana mengingatkan dan menyadarkan sang suami. Semua dijalani dengan sambil menanti kelahiran anak pertamanya.
Malam demi malam dilaluinya hingga buah hati pertamanya lahir. Seorang perempuan, bayi perempuan yang cantik. Melihat wajah putrinya, setiap malam dalam munajatnya dia mengadu pada Sang Khalik, memohon agar RabbNya mau mengubah hati suaminya, menyadarkan suaminya. Karena dia tak punya kuasa, tak punya ilmu untuk mengingatkan suaminya dari kesalahan  yang diperbuatnya, dia tau Rabb Nya punya kuasa membolak balikan hati suaminya.

Akhirnya, dalam keheningan malam, dengan tersenyum, selepas sholat tahajudnya, dia berjalan dengan mantap membawa bayinya menuju ke tempat dimana suaminya biasa berjudi. Sesampai disana dengan hati – hati dia menghampiri suaminya,tak peduli tatap heran orang- orang yang ada. Dan tanpa ragu dia letakkan sang jabang bayi di pangkuan suaminya seraya berkata “ Suamiku, aku dan jabang bayi ini ingin menemanimu, memahamimu, mencoba mengerti kenapa engkau begitu suka duduk disini, berjudi bersama kawan kawanmu, dibandingkan harus menemani kami berdua melewati malam malam kami, cintaku tak cukup untuk  bisa mengerti, tapi mungkin anakmu yang masih suci ini akan membantuku untuk bisa memahamimu. Jangan suruh aku pulang sampai aku bisa betul- betul mengerti”

Meleleh air mata sang suami, ditatapnya sang jabang bayi yang masih belum berumur 40 hari .Tanpa kata dia gendong bayinya, dan menggandeng tangan istrinya pulang…dan sejak itu tak pernah lagi kembali ke meja judi. Alloh sudah mengabulkan doa perempuan itu, dengan keyakinannya Alloh sudah mengubah hati suaminya.Sejak itu sang suami menjadi lelaki terbaik dalam hidupnya..Alhamdulillah.

Air mataku meleleh mengingat detail kisah sang perempuan itu dalam menyadarkan suaminya,. Sejenak mataku mengerjap, dan ketika aku menoleh aku melihat perempuan lain, yang wajah dan perjuangannya senantiasa terpatri dalam hatiku. Ia sibuk memberi obat pada anaknya, terlihat sang anak yang kurus, karena penyakitnya. Sesaat pandangan mataku terasa kabur oleh air mata ,kemudian terlihat perempuan itu sedang membersihkan kotoran anaknya, anaknya terbaring di sebuah ranjang ,kesakitan memegangi perutnya. Terdengar suara sang ibu, agak keras dengan posisi membungkuk,” sabar nduk, mengko ndisik yo… mamak sik ngresiki iki lho, ben ora mambu ( terjemahan : sabar nak..nanti dulu, ibu sedang membersihkan ini, biar tidak bau).

Kisah kedua ini tentang seorang perempuan yang Alloh berikan cinta lebih dibanding perempuan lain..menurutku .Alloh titipkan pada perempuan ini seorang putri yang mengidap penyakit yang tidak ada obatnya. Mungkin ada, tapi belum ada yang cocok buat sang anak. Perjuangannya dimulai hari itu, lebaran idul fitri hari kedua, putri bungsunya, tiba- tiba dalam lelapnya terlihat kejang- kejang, sesaat .Ah, hanya mengigau saja mungkin, demikian pikir sang ibu. Tetapi ternyata kejadian kejang berlangsung esok harinya, dan esok harinya, dan esok harinya lagi. Akhirnya sang ibu membawa putri bungsunya ke dokter. Dua jam lebih, dan belum ada hasil, hanya dirujuk untuk periksa lebih lanjut ke rumah sakit yang lebih besar.

Perempuan itu dengan sabar membawa anaknya menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan, tes demi tes, sampai akhirnya vonis dokter menyatakan putri bungsunya menderita epilepsi yang disebabkan karena faktor genetika. Kemungkinan sembuh sangat kecil,tapi bisa ditekan pemicu kejangnya dengan minum obat setiap hari . Sang ibu memejamkan mata, membayangkan jauh ke masa depan sang putri, lelehlah air matanya. Hanya nama Alloh tersebut dibibir nya.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dijalani dengan sabar masa pengobatan putri bungsunya.Satu hal yang diyakininya ,Alloh tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Kadang – kadang dalam lelahnya yang amat sangat, dia menangis di malam – malamnya. Tersebut satu demi satu nama putra putrinya dalam doa.Lirih penuh pengharapan.Terpikir olehnya siapa kelak yang akan mau menerima putri bungsunya dengan kondisi itu.

Kadang aku melihatnya tertawa, dalam segala duka yang aku tau pasti perih dan menyakitkan. Hingga di tahun ke 26 putri bungsunya , setelah segala pengorbanan yang sudah ia berikan tanpa harap imbalan apapun, dengan semua yang  terbaik, Alloh memberikan jawaban atas pertanyaan dan pengharapan munajatnya, siapa jodoh putrinya, Alloh jawab dengan indah. Alloh memanggil putri bungsunya….. disaat terbaiknya ,InsyaAlloh..Alloh sangat mencintai putrinya..
Lelah perih luka yang dihadapi oleh kedua lentera hatiku…. Berbuah indah...Kedua perempuan tangguh yang selalu menjadi lentera hatiku, tanpa lelah menuntun aku dengan sabar dan dalam sujud-sujud panjangnya , tanpa kata dengan jejak jejak kehidupan mereka. Dan hanya Alloh yang layak memberikan balasan atas semua amal dan kesabarannya.



*****
Satiwi Ary Parwanti
KPP Pratama Sumbawa Besar







Satiwi Ary Parwanti 6675164483620430479

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan