Loading...

Keikhlasan Yang Menghadirkan Kemudahan

Pernahkah Anda terjebak dalam sebuah situasi sulit yang begitu menghimpit? Saya pernah berada dalam situasi seperti itu. Situasi yang tak ha...

Pernahkah Anda terjebak dalam sebuah situasi sulit yang begitu menghimpit? Saya pernah berada dalam situasi seperti itu. Situasi yang tak hanya sulit menghimpit, tapi juga rumit. Kejadiannya sekitar tujuh tahun yang lalu.


Sore itu suasana kota Luwuk masih tampak muram paska diguyur hujan beberapa saat yang lalu. Saya sedang menerima tamu di kos-kosan ketika handphone lawas saya tiba-tiba saja berdering dan memotong pembicaraan kami. Suara penelepon di ujung sana mengabarkan sebuah kabar yang mengejutkan, bak petir di siang bolong: Bapak saya meninggal dunia.

Setelah menerima telepon itu, pikiran saya terasa kosong. Keheningan tiba-tiba saja hadir menguasai jiwa. Suara dari para tamu yang sedang bertandang itu tak lagi terdengar, hanya suara degup jantung yang mampu saya tangkap dengan sangat jelas. Saya mau menangis sejadi-jadinya dan tidak mengacuhkan keberadaan para tamu itu, namun saya tak sanggup. Entah kenapa, saya tak bisa memerintahkan air mata yang seharusnya tumpah itu untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Rentetan peristiwa yang begitu cepat itu membuat saya bingung harus berbuat apa.

Beberapa hari belakangan, saya memang kerap memikirkan bapak. Suara tilawahnya yang jernih itu kerap saya dengar saat menelepon mamak pada pagi hari sebelum saya berangkat ke kantor. Saat saya meminta mamak untuk mengangsurkan telepon kepada bapak, beliau biasanya akan menolak untuk berbicara dengan saya. Sudah tidak bisa mendengar dengan jelas, alasannya. Saya memaklumi alasan itu dan meminta mamak untuk berkata kepada bapak agar jangan sampai bosan mendoakan anaknya yang sedang merantau ini. Andai saya tahu kalau bapak akan pergi dengan cepat, saya tentu akan memaksanya untuk banyak bercerita, mendengarkan suaranya sambil membayangkan gurat-gurat keriput yang memahat wajah rentanya.

Saya lalu meminta diri kepada para tamu di hadapan saya untuk menelepon mamak. Tidak diangkat. Saya lalu menelepon adik. Ada suara-suara kepanikan di belakang sana. Suara isak tangis dan teriakan dari orang-orang yang saya kenal. Saya lalu berpesan kepada adik supaya mengurus segala sesuatunya. Saya akan mencari tiket pesawat malam ini juga. Besok saya akan pulang ke Jakarta, janji saya.

Pulang ke Jakarta? Bagaimana caranya? Uang untuk beli tiket tidak ada. Hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah di rekening karena saya baru saja mengirimkan uang buat mamak. Saya bingung.

Ustadz Anwar, salah satu teman yang sedang bertamu di rumah, lalu bertanya kepada saya tentang apa yang baru saja terjadi. Saya lalu menceritakan kejadian barusan dan menjelaskan situasi yang sedang saya hadapi. Saya bertanya kepada Ustadz Anwar apakah ia bisa membantu saya. Beliau tampak berpikir sebentar dan bersedia meminjami saya sejumlah uang. Saya mengucapkan tahmid dan berterima kasih kepada beliau. Meski begitu, uang pemberian itu ternyata masih belum cukup.

Menjelang malam, saya menelepon atasan saya di kantor, Pak Petrus. Kembali saya menyampaikan situasi yang sedang saya hadapi dan permasalahan-permasalahannya. Beliau lalu mengucapkan belasungkawa dan meminta saya untuk tenang. Beliau berjanji untuk mencarikan tiket agar saya bisa pulang ke Jakarta besok dengan pesawat Merpati. Ba’da Isya, Pak Petrus menghubungi saya. Ia menyuruh saya untuk pergi ke tempat travel dan mengambil tiket malam itu juga. Saya lalu mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau yang tak ternilai itu.

Malam itu saya tidak bisa tidur. Segala kenangan yang terjadi di masa lalu antara saya dan bapak datang bertubi-tubi. Kenangan jalan-jalan ke Monas saat malam hari, bermain di kantor walikota Jakarta Barat sambil memegangi mobil pemadam kebakaran yang diparkir di bagian luarnya, kenangan saat belajar motor kali pertama di lapangan belakang rumah, termasuk kenangan pertengkaran kami berdua. Saya mengambil mushaf berkover biru dongker di meja kamar dan membacanya dengan khusyuk, mengharapkan ketenangan datang dariNya dan mengisi kekosongan yang menguasai jiwa ini dengan firman dan janji-janjiNya.

Kedatangan pagi terasa begitu lambat. Saya sudah menyiapkan pakaian ke dalam tas ransel yang saya bawa saat berangkat ke Luwuk bulan Maret silam. Tak banyak yang saya bawa, hanya dua potong kaos, satu buah celana panjang dan satu buah celana pendek. Saat transit di Bandara Hasanuddin Makassar, saya bertemu dengan seorang teman yang dulu pernah saya temui di Palu. Diajaknya saya ke ruangan kerjanya di bangunan yang merupakan bagian dari bandara lama. Sambil menunggu pesawat yang akan saya tumpangi ke Jakarta datang, saya mengobrol banyak dengannya sekaligus menceritakan ihwal perjalanan saya. Beliau mensupport dan membesarkan hati saya agar tetap tabah.

Saat di Makassar, saya ditelepon oleh adik. Ia mengabarkan bahwa pengumuman kelulusan UIN sudah keluar dan dia diterima sebagai mahasiswa. Setelah menerima telepon itu, saya menatap pemandangan langit Makassar di sore hari yang cerah itu dengan tatapan masygul. Adik saya menyebutkan sejumlah uang yang harus disiapkan untuk mendaftar ulang. Saya sempat terdiam sejenak, memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat di saat yang tidak tepat ini. Dan bukan sebuah kebetulan jika meninggalnya bapak pun berhimpitan dengan rencana pernikahan bulik saya di tahun yang sama dimana saya berkomitmen untuk membantu penyelenggaraannya.

Maka jadilah ada tiga kebutuhan yang harus saya penuhi dalam waktu yang saling berdekatan: menyediakan uang untuk biaya kuliah adik, pernikahan bulik, dan ongkos pulang saya ke Luwuk yang saya pinjam dari Ustadz Anwar. Di saat-saat yang sulit itu, tak ada yang bisa saya lakukan kecuali menengadahkan kedua tangan dan meminta petunjuk  kepadaNya, bagaimana caranya agar saya bisa menyelesaikan semua urusan itu dengan sebaik-baiknya.

Sepotong episode yang terjadi di masa silam itu memberikan banyak sekali pelajaran hidup bagi saya. Belakangan ketika kondisi kejiwaan mamak sudah cukup tenang dan bisa menerima kepergian bapak, meski dengan berat hati, beliau banyak bercerita kepada saya tentang kebaikan-kebaikan yang telah bapak lakukan di masa hidupnya seperti: membantu si fulan meski yang dibantu tidak membalas kebaikannya, merelakan piutangnya tidak dibayar meski waktu itu keluarga kami sedang dalam kesulitan, dan perbuatan-perbuatan heroik lainnya yang justru baru saya ketahui setelah bapak meninggal. Termasuk saat beliau menceritakan usaha keras bapak mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak 10 kali pada bulan Ramadhan silam. Mendengar cerita dari mamak, saya seolah baru saja mengenal sosok asli bapak yang pendiam dan tidak banyak bicara. Selama ini kami berdua memang jarang bicara secara empat mata.

Saya pun lalu tersadar, betapa Allah telah menggerakkan hati dan tangan dari banyak orang untuk membantu saya sampai detik ini. Mulai dari uang pinjaman dari Ustadz Anwar, bantuan dari atasan saya, bantuan dari seorang teman di Makassar, serta banyak sekali bantuan yang saya dapatkan dari teman-teman baik semasa SD, SMP, SMA, dan Kuliah, serta bantuan dari para tetangga yang telah memudahkan urusan pemakaman bapak berjalan dengan lancar, termasuk penyelesaian urusan kuliah adik dan juga pernikahan bulik saya. Bisa jadi, rentetan kemudahan yang saya dapatkan di masa-masa sulit itu, bahkan sampai detik ini, adalah hasil dari perbuatan baik yang dilakukan oleh orangtua saya di masa lalu. Bisa jadi.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa orangtua saya adalah orangtua yang baik sepenuhnya. Beliau berdua tetap manusia yang punya kekurangan. Saya pun turut diceritakan oleh mamak perihal kekurangan-kekurangan almarhum bapak semasa hidup yang sudah dimaafkannya. Namun saya sedang menanamkan kepercayaan di dalam diri saya bahwa apabila saya mendapatkan kemudahan dalam hidup, maka bisa jadi kemudahan itu saya dapatkan berkat budi baik yang pernah dilakukan orangtua saya, entah kepada siapa, di masa silam. Singkat kata, keikhlasan yang kita dapatkan di masa silam dapat mengundang kemudahan saat kita membentur tembok kesulitan di masa mendatang. Saya jadi teringat dengan kisah tiga orang yang terkurung di dalam goa. Kisah cukup panjang yang terdapat dalam kitab Riyadhus Shalihin itu sebenarnya mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan yang kita lakukan di masa silam dapat memudahkan urusan kita di masa depan. Semacam balas budi. Itulah sebabnya, saya berusaha sekuat tenaga agar bisa selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Alasannya bukan hanya untuk saya saja, tapi juga demi masa depan anak-anak saya kelak.

Mengingati itu semua, saya merasa malu karena sempat berpikir picik kepada Allah. Saya sempat berpikir betapa Dia sungguh keterlaluan dalam menguji saya dengan ujian yang begitu berat seperti ini. Namun pada akhirnya, semua kebaikan yang nampak di hadapan saya itu telah membukakan mata saya betapa Allah tidak akan meninggalkan hambaNya sendirian. Saya lalu mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya, memohon ampun atas syak-wasangka buruk saya kepadaNya selama ini, tak lupa, selaksa doa saya rapalkan untuk almarhum bapak yang belum juga melihat kedua anaknya “mentas” dalam hidup. Semoga Allah maafkan salahnya, terima amalan shalihnya, lapangkan kuburnya, dan membalasnya dengan syurga, sebaik-baik balasan. Amin.


***


Wahid Nugroho
KPP Pratama Luwuk







Wahid Nugroho 4513283561976917436

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan