Loading...

Rejeki Mereka Dititipkan Di Saku Kita

Setiap pagi dan sore, ketika kita berangkat dan pulang kantor, kita bertemu dengan para pengais rejeki, pencari nafkah yang mengumpulkan p...

Setiap pagi dan sore, ketika kita berangkat dan pulang kantor, kita bertemu dengan para pengais rejeki, pencari nafkah yang mengumpulkan perak-perak rupiah sedikit demi sedikit. Mereka kasat mata. Bukan karena mereka sakti, tapi lebih karena mereka sering bersliweran di depan kita dan disaat yang sama kita tidak merasa membutuhkan mereka.

Mereka, penjual surat kabar, penjual minuman kemasan, penjual permen, tukang tambal ban, penjual tisu dan pedagang asongan lainnya. Barang dagangan mereka seringkali terasa remeh buat kita. Karena kantor sudah berlangganan koran, lalu kita merasa tidak perlu untuk membelinya. Karena sudah membawa bekal dari rumah, kemudian kita tidak merasa perlu untuk membeli minuman kemasan, permen atau kacang. Atau barangkali karena alasan kepraktisan, ketika ban motor kita bocor kita langsung menggantinya dengan ban baru alih-alih menambalnya ke tukang tambal ban.

Seringnya, kita malah lebih peduli dengan para pengemis dan pengamen jalanan. Ketika melintas di depan mereka, secara spontan kita mengulurkan tangan dengan koin ribuan rupiah di tangan kita. Entah karena kasian, jijik atau bahkan takut dengan ancaman yang terkadang secara eksplisit mereka tebarkan. Tidak ada yang salah dengan itu, meskipun tidak bisa dibilang baik juga. Toh usaha mereka masih halal, dan kita pun masih dikaruniai keinginan untuk berbagi. Alhamdulillaah.

Suatu ketika, teman seperjalanan saya pernah berkata dari pada memberi uang kepada pengemis dan pengamen, akan jauh lebih baik bila kita membeli barang yang dijajakan oleh pedagang asongan, meskipun saat itu kita tidak sedang membutuhkannya. Ada faktor kemauan, ada semangat, ada resiko, ada kerja keras dan ada harga diri yang patut kita hargai lebih. Ada kemungkinan barang mereka tidak laku dan basi, ada kemungkinan modal mereka tidak balik dan tidak bisa berjualan lagi. Sesuatu yang tidak dialami oleh seorang pengemis dan pengamen jalanan.

Begitu pula dengan kebiasaan menawar. Kebiasaan yang satu ini sepertinya sudah menjadi keharusan setiap kita membeli, apapun barangnya. Semacam tidak afdol kalau tidak menawar. Semacam sedang memperjuangkan harga diri sebagai seorang pembeli, bahkan kepada pedagang asongan sekalipun. Dan memenangkannya, meskipun hanya seribu rupiah, adalah sebuah kebanggaan tersendiri buat kita . Pernahkah terpikirkan bahwa uang seribu itu sesuatu yang tidak datang tiap hari buat mereka? Pernahkah terpikir bahwa mengumpulkan keuntungan sepuluh ribu rupiah dalam satu hari adalah hal yang berat untuk mereka? Pernahkah terpikir bahwa dengan uang sebesar itu belum tentu bisa dipakai untuk menebus makanan dan minuman untuk istri dan anak-anak mereka? Tanpa kita sadari, sesuatu yang sepele dan kecil untuk kita, ternyata emas bagi mereka.

Bersedekah disaat Sempit
Sebagai seorang muslim, saya sangat bangga dengan bertumbuhkembangnya badan amil zakat di Indonesia. Saya yakin kita semua sudah menjadi member dari salah satunya.  Setiap bulan, entah melalui auto debet rekening gaji atau layanan jemput zakat, kita sudah dimudahkan dalam penyaluran zakat dan sedekah kita. Tetapi, lambat laun rutinitas ini seperti menjadikan kita lupa akan makna dari keikhlasan. Kerutinannya seakan menjadikan pembayaran zakat dan sedekah selevel dengan membayar rekening listrik atau air saja, tidak lebih. Tidak ada hati kita di sana, tidak ada keikhlasan yang teruji di sana, tidak ada perlawanan terhadap keengganan diri dan ego di sana. Semua menjadi datar, hanya sekedar untuk mengugurkan kewajiban. Maka yang terjadi adalah hilangnya ke-spontanitas-an kita dalam membantu, seiring dengan perasaan telah tergugurkannya kewajiban melalui badan amil zakat tersebut. Tanpa kita sadari, kita pun menjadi pribadi yang semakin irit dan berhitung dalam membantu orang lain. Padahal, bisa jadi karena keterbatasan jangkauan tenaga para amil, para pedagang asongan yang setiap hari berdekatan dengan kita tersebut tidak menikmati zakat dan sedekah kita.

Ini bukanlah anjuran untuk meninggalkan kebiasaan mulia tersebut. Hanya sekedar melempar perandaian, alangkah lebih baiknya bila zakat dan sedekah yang sudah rutin kita sampaikan itu dibarengi dengan mengulurkan sesuatu yang langsung dari tangan kita sendiri. Iya, sesuatu yang ada dikantong saku kita saat ini. Karena yang terbaik dari kita belum tentu yang bernilai besar secara nominal. Tetapi sesuatu yang sangat kita sesali ketika hilang dari kita. Masih ingatkah pengalaman kita ketika selembaran uang sepuluh ribu rupiah tiba-tiba raib dari kantong saku kita? Bingung, menyesal sampai tidak enak tidur, hanya karena mempertanyakan kemanakah perginya lembaran itu.

Pun begitu dengan keikhlasan, yang sekali-kali perlu diuji dengan hal-hal yang tidak kita persiapkan terlebih dahulu.  Karena yang terbaik dari yang kita miliki, bukanlah sesuatu yang sudah kita persiapkan untuk hilang.  Sudah menjadi hal yang biasa ketika kita mengeluarkan sesuatu yang jauh-jauh hari sudah dikabarkan kepada kita untuk diambil. Akan berbeda rasanya ketika harta itu diminta kepada kita secara spontan, saat itu juga.

Sudah saatnya kita membiasakan untuk bersedekah, langsung dengan tangan kita. Melalui pintu-pintu sedekah yang sudah disiapkan oleh Allah di sekeliling kita. Mulailah dengan tersadar akan keberadaan mereka. Mulailah dengan hanya berpikir sedekah dan sedekah saja. Tanpa perlu berpikir panjang akan dikemanakan barang yang sudah kita beli itu. Tanpa perlu berpikir panjang bahwa kita telah bertindak mubadzir, dengan membelanjakan uang kita untuk sesuatu yang tidak kita butuhkan.

Percayalah, mereka lebih membutuhkan recehan itu dari pada kita. Karena Allah menitipkan rejeki mereka melalui kantong saku kita. Dan percayalah, Allah telah menyiapkan surga seluas langit dan bumi untuk kita. Seperti yang dikatakan Allah melalui firmannya di Surat Ali Imran Ayat 133 – 134 :
“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan mema'afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”. Insya Allaah.



*****
Devie Koerniawan
KPP Madya Malang







Tazkiyatun Nafs 2430550819329508764

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan