Loading...

Selalu Bersyukur

Sesaat setelah mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan di ibukota propinsi terbesar di Sumatera, segera browsing dan searching penerbanga...

Sesaat setelah mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan di ibukota propinsi terbesar di Sumatera, segera browsing dan searching penerbangan dari Jakarta menuju kota tersebut dan sebaliknya. Terkaget melihat harga sekali flight Jakarta-Medan, lalu kubandingkan dengan harga penerbangan dari Jakarta ke Ibukota propinsi tempat saya bertugas. Teringat juga beberapa waktu yang lalu mendapat penugasan di Makassar, hal yang sama juga kutemukan, tarif penerbangan CGK-UPG lebih mahal dibanding CGK-PNK dalam kondisi normal.

Kucoba menerawang dan memandang dengan tatapan kosong, sejenak berfikir dan kemudian menatap layar komputer di depan. Mencari beberapa nama teman yang senasib sepenanggungan yang sedang menjalankan amanah di kota-kota belahan bumi nusantara di luar pulau jawa, khususnya yang tidak berada di ibukota propinsi, sementara keluarga berdomisili di sekitaran Jakarta
Terbayang berapa biaya yang mereka keluarkan untuk bisa menemui keluarga, terbayang pula berapa waktu perjalanan mereka untuk berangkat dan pulang dari kediaman tercinta. Dan jangan jangan mereka untuk pulang harus menunggu hitungan bulan agar seimbang pengorbanan, kecapekan dan keleluasaan berkumpul keluarga, yang ujungnya selain ongkos dan waktu, potongan tukin juga menjadi pertimbangan masak-masak.

Sungguh terasa malu hati ini kalau masih saja berkeluh kesah dengan penugasan di tempat yang sekarang, karena aku lebih beruntung dari mereka. Tidak perlu menunggu sebulan untuk meluangkan biaya dan waktu agar bisa pulang, konsekuensi potongan masih bisa diminamilisir, dengan keterlambatan atau pulang cepat, dan tidak harus sampai tidak masuk dalam hitungan hari.

Memang benar, jika ingin lebih bersyukur lihatlah ke bawah, tengoklah yang lebih tidak beruntung, pandanglah yang lebih berat ujiannya, dan perhatikan yang lebih sedikit tukinnya. Jika hanya menuruti emosi dan nafsu, memandang yang lebih nyaman dan lebih "enak" akan berujung pada kurangnya merasakan nikmat yang diberikan Tuhan.

Pandangan ke bawah membuat hati tentram dan damai, sementara bagi yang sedang bertugas jauh dari keluarga melihat teman sejawat yang tengah bertugas di sekitaran homebase, bahkan dalam waktu lama, hanya membuat jengah, galau dan frustasi. Biarkan menatap ke bawah lebih lama, agar muncul syukur yang semakin menjadi-jadi, sebab tidak pernah ada istilah kelebihan syukur, dan niscaya Tuhan akan memberikan nikmatnya berlebih, bahkan dengan cara dan waktu yang tiada terduga.

Rasa syukur akan membawa ketenangan dalam bekerja, menjadikan kinerja semakin positif dan memberikan hasil yang terbaik (insya Allah), sambil berdoa siapa tahu hal ini menjadi jalan pembuka agar dapat menikmati indahnya bekerja di homebase, dengan kehendak Tuhan dan melalui perantara tangan-tangan bagian Kepegawaian. Bukankah lebih baik seorang pegawai dipindahkan karena prestasinya bukan sekedar terlampauinya limit waktu di zona tertentu?

Sementara bagi yang sudah menikmati indahnya bekerja di homebase, mestinya kesyukuran itu lebih menonjol dengan kinerja yang jauh lebih dahsyat, agar institusi melihat betapa positifnya seorang pegawai dipekerjakan di kota kediaman keluarganya, bukan malah sebaliknya, semakin mendekati homebase semakin tidak produktif dan  pada akhirnya mengganggu kinerja organisasi. Bahkan mestinya malu kepada teman sejawat yang tidak atau belum merasakan zona penuh kenyamanan, dan lebih luas lagi, malu kepada Sang Pemberi Nikmat.

Mari saling mengingatkan dan menasihati untuk senantiasa bersyukur, apapun dan bagaimanapun keadaan kita.

FAH, 200515



____________________________
Falih Alhusnieka
KPP Pratama Sintang





Inspirasi 3899890857879479412

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan