Loading...

Tentang Seorang Ibu Dan Sepotong Kayu

Tentang seorang Ibu... Yang tak akan pernah bisa memejamkan mata ketika anaknya demam tinggi... Yang tak pernah makan sebelum memastikan b...

Tentang seorang Ibu...
Yang tak akan pernah bisa memejamkan mata ketika anaknya demam tinggi...
Yang tak pernah makan sebelum memastikan bahwa makanan telah masuk ke perut anaknya terlebih dahulu...
Yang tak kan pernah bisa tenang ketika anaknya belum pulang ke rumah tanpa kabar berita.
Tentang seorang ayah...
Yang tak pernah menyerah mengusahakan rizki terbaik dari cucuran keringatnya demi menyambung hidup keluarganya...
Yang selalu menginginkan yang lebih baik untuk masa depan anaknya. Harus lebih baik dari dirinya...
Yang dengan bahasa kasihnya yang tak sama ibu selalu menginginkan anaknya untuk menjadi manusia dewasa.
Tentang seorang Uswah Khasanah...
Nabiyulloh Muhammad SAW...
Yang menyuapi dengan begitu lembutnya seorang nenek yang selalu menghujatnya...
Yang menjenguk tetangganya yang selalu meletakkan sampah di depan pintu rumahnya...
Yang memintakan hal terbaik untuk ummatnya ketika ajal menjemputnya...
Ummati.. ummati... ummati..

Hidup di dunia ini hanyalah sekejap. Sementara waktu terus berjalan, usia kita terus bertambah, dan semakin mendekat kepada satu kepastian yang ketika tiba masanya tak bisa dimajukan dan tak bisa dimundurkan. “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).”(10:49).

Tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk beribadah, mencari keridhaan-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (51:56). Namun bukan berarti bahwa selamanya kita harus terus menerus beribadah di masjid sehingga meniadakan keberadaan keluarga, sahabat, dan tetangga kita. Ada salam di antara dua takbir. Hidup ini adalah masa-masa menunggu waktu shalat dari shalat yang satu ke shalat yang berikutnya. Menunggu shalat maghrib setelah selesai mengucapkan salam pada shalat ashar. Salam inilah, assalamu’alaikum warohmatulloh.. yang diartikan sebagai doa, harapan, agar kita senantiasa memberikan keselamatan dan rahmat bagi sesama. Ya, salam ini adalah tentang hablum minannas. Setelah kita selesai melakukan shalat sebagai sebuah bentuk hablum minalloh, ada kewajiban bagi kita untuk menjaga hubungan baik dengan sesama. Hubungan kita dengan seluruh makhluk di bumi ini. Manusia, hewan, dan semesta yang senantiasa bertasbih memuji-Nya.

Setiap dari kita memiliki peran tertentu dalam kehidupan ini. Ada pengusaha, karyawan swasta, ibu rumah tangga, aparatur sipil negara, dan profesi-profesi lainnya. Apapun pekerjaan kita, hendaknya kita selalu menciptakan hubungan hablum minannas yang baik dimana pun dan kapan pun kita berada. Selalu mengusahakan yang terbaik untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri. Ketika kita memudahkan urusan seseorang bukankah Allah menjanjikan bahwa urusan kita nantinya juga akan dimudahkan oleh-Nya?

Tidak ada istilah rugi ketika kita memberikan yang terbaik untuk orang lain. Apa yang kita berikan itu sejatinya yang akan menjadi simpanan kita di akhirat kelak. Justru apa yang kita gunakan untuk diri kita sendiri itu yang nantinya akan menjadi pertanyaan untuk kita di hari pembalasan nanti. Akan dimintai pertanggungjawabannya, untuk apa ia digunakan? Untuk apa ia diperuntukkan?

Dalam sebuah hadits disebutkkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”. Sudah seringkah kita melakukan introspeksi atas diri kita ini? Yang tak pernah sempurna dalam beramal. Dan terus saja melakukan dosa dan maksiat. Hati yang masih sering menyimpan dengki, lisan yang masih sering menyakiti. Apakah keberadaan kita sudah memberikan manfaat pada semesta? Sudahkah menjadi Rahmatan lil ‘alaamiin? Apakah keberadaan kita sudah lebih baik jika dibandingkan dengan tiadanya kita? Atau masih sama saja atau bahkan lebih baik jika kita tak ada? Na’udzubillah min dzalik.

Sudahkah kita memberikan pelayanan yang terbaik? “Untuk apa? Kan saya kerja di bagian administratif, bukan pelayanan.” Mungkin ada yang pernah berujar seperti itu. Memberikan pelayanan yang terbaik bukan hanya untuk orang-orang yang bekerja di bidang pelayanan. Tempat pelayanan terpadu pada Kantor Pelayanan Pajak misalnya. Tidak hanya disitu. Pelayanan terbaik harus diberikan oleh setiap orang kepada orang lain pada segala tempat, di segala kondisi dan situasi. Kepada siapa pun, tidak ada pembeda-bedaan. Bawahan kepada atasan, pun sebaliknya atasan kepada bawahan. Tentunya dengan bentuk pelayanan yang berbeda. Namun intinya sama, setiap orang harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada siapa pun, di manapun, dan kapan pun. Kita bisa mencontoh kedua orang tua kita. Ayah dan ibu kita. Mereka yang telah memberikan hal terbaik untuk kita, buah hatinya. Selalu mengusahakan hal yang terbaik untuk kita.

Dan contoh yang terbaik di antara yang paling baik tentu adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Manusia terbaik yang tiada satu pun cela ada padanya. Yang selalu membalas kekejaman dengan senyum dan doa. Yang selalu berlemah lembut kepada sesama. Yang pada akhir hayatnya bukan memintakan ampun untuk dirinya. Namun memintakan ampun untuk umatnya.

Selanjutnya, ketika kita sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain, ada satu hal yang harus diperhatikan. Ikhlas, sebuah kata yang begitu mudah diucapkan, namun terkadang sulit untuk mengaplikasikannya dalam setiap amalan kita. Syaitan selalu berusaha untuk menggoda manusia. Manusia yang senantiasa berbuat baik, memberikan pelayanan terbaik kepada orang lain, akan selalu digoda oleh syaitan. Niat yang semula di awal sudah sangat bersih, karena Allah semata bisa jadi di tengah jalan berubah. Syaitan selalu membisikkan tujuan-tujuan lain yang mengirimi amalan-amalan kita. Ada hal selain-Nya yang mengubah niatan awal kita.

Innamal a’malu binniyah.. Segala amal tergantung niatnya. Seseorang akan memperoleh sesuai dengan apa yang menjadi niatnya. Dua orang yang melakukan amalan yang sama dengan niat yang berbeda akan memiliki nilai yang berbeda di sisi-Nya. Ikhlas ini sangat penting, karena ia menjadi syarat diterimanya sebuah amal. Ikhlas itu hanya memperhatikan pandangan Allah. Tidak peduli pada pandangan manusia. Setiap pujian atau celaan dianggap sama. Yang menjadi tujuannya hanyalah Ridha Allah semata.

Lihatlah kayu yang telah mati dan lapuk. Ia masih bisa menumbuhkan jamur di atasnya. Bagaimana dengan kita yang masih sehat dan masih diberikan begitu banyak nikmat oleh-Nya? Kaki yang masih bisa melangkah. Tangan yang masih bisa bergerak. Mata yang masih bisa melihat. Nafas yang masih berhembus hingga detik ini. Dan ruh yang masih menempel di raga ini. Apakah ia sudah senantiasa ikhlas memberikan manfaat untuk semesta?


*****
Siti Umul Barokah
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan




Siti Umul Barokah 1294857217415150654

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan