Loading...

Yang Terbaik Untuk Anak

Setiap orang pasti memiliki sesuatu, baik berupa barang yang berwujud ataupun tidak berwujud, yang dianggapnya paling berharga. Setiap orang...

Setiap orang pasti memiliki sesuatu, baik berupa barang yang berwujud ataupun tidak berwujud, yang dianggapnya paling berharga. Setiap orang juga memiliki sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang dianggapnya paling baik.

Ukuran atau standar yang dimiliki masing-masing mengenai sesuatu yang paling berharga atau yang paling baik tentulah berbeda-beda. Bagi Si A, sebuah smartphone mungkin menjadi benda yang paling berharga yang dimilikinya. Namun bagi Si B, sebuah smartphone bisa menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, sebab dirinya sudah memiliki rumah dan mobil. Kedua benda itulah mungkin yang paling berharga bagi Si B.

Bagaimana kedudukan sebuah pekerjaan di bandingkan benda lain seperti smartphone, rumah, atau mobil, apakah lebih berharga dan lebih baik? Menurut saya pribadi, pekerjaan bagi seseorang itu lebih baik dan lebih berharga dibandingkan sebuah smartphone, rumah, atau mobil. Dengan pekerjaan di tangan, seseorang bisa mengumpulkan uang dari pekerjaannya tersebut untuk membeli sebuah smartphone, bahkan rumah, atau mobil. Terlebih lagi, di lingkungan masyarakat, seseorang yang memiliki pekerjaan lebih terpandang dibandingkan seorang pengangguran meskipun dirinya memiliki rumah atau mobil.

Lantas adakah seseorang yang rela melepaskan sebuah pekerjaan dari tangannya demi sesuatu yang lain? Jawabnya, ada. Salah satu pelakunya adalah seorang perempuan yang kini menjadi pendamping hidup saya, Minyu.

Minyu, nama itu yang biasa saya gunakan ketika bercerita tentang dirinya melalui sebuah tulisan. Sebelum mengenalnya, Minyu adalah seorang pegawai di bidang kesehatan. Tugas kesehariannya adalah sebagai asisten apoteker di salah satu puskesmas kelurahan di Jakarta Barat. Statusnya memang masih tenaga honorer, namun dalam hitungan beberapa bulan ke depan, status tersebut mungkin akan segera berganti menjadi pegawai tetap atau mungkin Pegawai Negeri Sipil.
Sebelum status kepegawaiannya berubah, Allah mempertemukan saya dengan Minyu. Kami berkenalan. Saling menemukan kecocokan. Lalu kami menikah.  Sekitar tiga bulan setelah pernikahan, Minyu positif hamil.

Bagaimana kelangsungan pekerjaan Minyu setelah melahirkan nanti menjadi salah satu topik yang sering kami bicarakan. Tetap bekerja atau berhenti dan fokus dengan pekerjaan rumah tangga. Kedua pilihan tersebut memiliki sisi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memutuskan untuk mengambil salah satunya haruslah dipertimbangkan masak-masak. Tak ada paksaan bagi Minyu untuk memilih salah satu di antara kedua pilihan yang ada. Apa pun keputusan yang akan diambil Minyu, sebagai suami, saya akan mendukungnya.

“Tapi nanti dede dirawat sama orang lain!” ucap Minyu suatu ketika dalam pembicaraan kami berdua ketika membahas masalah serupa.

Saya menangkap setitik keberatan di dalam kalimat yang Minyu ucapkan tersebut. Minyu mengisyaratkan bahwa dirinya ingin merawat anak kami kelak. Minyu tak ingin anak kami kelak dirawat oleh orang lain, meskipun mereka adalah nenek dan kakek dari anak kami.
Pada akhirnya, Minyu sudah mengambil sebuah keputusan. Surat pengunduran dirinya sudah diajukan dan beberapa waktu kemudian sudah mendapatkan jawaban dari tempatanya bekerja.
Pada akhirnya, Minyu melepaskan penghasilan dan pekerjaan yang sudah berada di dalam genggaman. Mungkin itu adalah pilihan terbaik. Bagi Minyu. Bagi saya. Bagi anak kami. Untuk keluarga kami.

Ada poin yang bisa saya tangkap dari keputusan yang diambil oleh Minyu untuk meninggalkan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilannya dan fokus dengan tugas dan kewajiban di dalam rumah tangga. Minyu tak ingin memberikan “ampas” dari waktu dan tenaga yang dimiliki kepada anak kami kelak. Mungkin dalam pandangan Minyu, jika dirinya tetap bekerja, maka jatah waktu dan tenaganya akan disediakan untuk pekerjaan dan kewajibannya di kantor, sementara untuk anak kami nantinya, hanyalah sebagian yang waktu dan tenaga yang masih ada setelah dirinya kembali ke kantor. Itu tidak baik. Menurut kami, itu bukan yang terbaik

Bagi pasangan suami-istri yang lain, mungkin saja bisa mengatur waktu dan tenaga yang mereka miliki sehingga pekerjaan dan kewajiban sebagai pegawai bisa dilaksanakan sementara tugas dan kewajiban sebagai seorang ibu tidak terbengkalai. Waktu dan tenaga yang tersisa bisa dimaksimalkan. Kwalitas kebersamaan yang baik meski tidak lama bisa mengalahkan kwantitas kebersamaan yang kurang.

Kondisi di atas telah banyak memberikan bukti. Banyak di antara pasangan suami-istri yang juga rekan-rekan kerja saya yang sukses dengan karir mereka dan sukses pula dalam membina rumah tangga dan mendidik anak-anak mereka.
Saya dan Minyu tidak membantah hal di atas. Hanya saja, kami, khususnya Minyu, mungkin lebih mementingkan sisi proses dibandingkan sisi hasil akhir. Lebih mengutamakan kebersamaan dalam proses perkembangan anak. Lebih menginginkan kehadiran sosok ibu di setiap detik perjalanan waktu proses pertumbuhan anak. Itu yang menurut Minyu dan saya lebih baik. Kondisi seperti itu yang menurut kami adalah yang terbaik yang bisa kami berikan kepada anak kami. Semoga kami bisa ikhlas melakukannya. Insya Allah.




___________________________________________
Rifki
Direktorat TIP





Rifki 4097769843584137295

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan