Loading...

Bagiku DJP Adalah Buah Hatiku

Pagi ini dalam perjalanan menuju kantor, di antara kendaraan-kendaraan yang menari-nari di sepanjang ruas tol Cikampek - Jakarta, terselip s...

Pagi ini dalam perjalanan menuju kantor, di antara kendaraan-kendaraan yang menari-nari di sepanjang ruas tol Cikampek - Jakarta, terselip sebuah mobil jemputan, berwarna biru, dengan logo ‘nagara dana rakca’ di belakangnya. Betul, itu adalah salah satu mobil jemputan karyawan Kementerian Keuangan yang berasal dari salah satu unit eselon 1 di lingkungan Kementerian Keuangan. Mobil jemputan merupakan salah satu fasilitas yang diberikan kepada karyawan, umumnya terdapat di kantor pusat atau kantor-kantor yang banyak populasinya, sesuatu yang wajar ditemui. Tetapi mobil jemputan yang satu ini berbeda, entah karena supirnya atau siapa pun yang berwenang, di kaca belakang mobil ini terdapat stiker dengan tulisan yang biasa tertulis di truk-truk sepanjang jalur pantura, tulisan itu : Demi si Buah Hati.

Reaksi pertamaku, tentu saja tersenyum, sedikit geli karena properti Negara ditempeli stiker begitu. Tapi sejurus kemudian, senyumku berubah, sekelibat rasa muncul. Stiker di kaca mobil jemputan itu terasa benar sekali, terasa menyuarakan hati. Pengabdian, bakti yang diberikan tentulah demi si buah hati. Perlahan pikiran berkelana, tentang institusi ini, tempatku mengabdikan diri selama 20 tahun ini.
Direktorat Jenderal Pajak, siapa yang tidak mengetahui institusi ini, institusi yang dibebankan 995.213 miliar rupiah atau  65.25% penerimaan Negara. Selalu ada rasa bangga di hati setiap mengingat ada jerihku di situ, meskipun posisiku sebagai supporting team tidak berhubungan langsung dengan penerimaan.

Tidak hanya penerimaan, kebanggaanku juga karena Direktorat Jenderal Pajak juga telah memenuhi standar integritas oleh KPK. Berdasarkan hasil survei integritas sektor publik tahun 2011, dari semua variabel yang disurvei, Direktorat Jenderal Pajak memperoleh nilai total integritas sebesar 7,65, jauh lebih tinggi dari standar minimal integritas yang ditetapkan KPK yaitu sebesar 6,0. Nilai ini juga lebih tinggi dari nilai rata-rata total integritas 15 unit layanan yang disurvei yaitu 6,4 (skala nol sampai 10). Banggaku juga karena peningkatan mutu pelayanan Direktorat Jenderal Pajak kepada publik diakui oleh masyarakat. Berdasarkan survei IPB di tahun 2010 mengenai indeks kepuasan layanan wajib pajak, Direktorat Jenderal Pajak memperoleh skor 3,79 dari skala 4. Begitu besar prestasi Direktorat Jenderal Pajak, begitu digdaya.

Namun demikian, selayaknya manajemen yang mengadopsi balanced scorecard, Direktorat Jenderal Pajak di mataku masih memiliki beberapa kelemahan, posisi Direktorat Jenderal Pajak sebagai bagian dari institusi pemerintah dengan karyawan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil, membuat Direktorat Jenderal Pajak tidak bisa menerapkan sistem human resources scorecard. Padahal sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam dalam proses organisasi modern. Akibatnya terkesan Direktorat Jenderal Pajak tidak menganggap sumber daya manusia yang dimiliki sebagai asset strategisnya.

Karyawan Direktorat Jenderal Pajak merupakan sekumpulan manusia dengan kapabilitas yang luar biasa. Sulit barangkali mencari institusi lain yang bisa menandingi struktur karyawan Direktorat Jenderal Pajak yang sebagian besar terdiri atas D3, D4, S1 dan S2. Pola mutasi yang jelas, sarana dan prasarana, jenjang karir, kesempatan kuliah, asuransi kesehatan, seharusnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari cetak biru SDM Direktorat Jenderal Pajak. Karena personel yang tangguh (HR Function) dan sistem yang baik (HR System), merupakan kunci dari tersedianya karyawan yang kompeten dan bermotivasi tinggi untuk berprestasi.

Syukurlah, langkah menuju otonomi Direktorat Jenderal Pajak semakin terkuak, semoga dapat diwujudkan segera. Lalu teringat aku akan survey internal yang dilakukan beberapa bulan yang lalu, survey yang menurutku menyangsikan keikhlasan karyawan. Apakah karena kelemahan DJP yang terkesan belum menganggap SDM sebagai asset berharga itu, aku menjadi tidak ikhlas dalam bekerja? Jawabannya tentu saja tidak. Tidak pernah terlintas untuk tidak ikhlas.

Bagiku Direktorat Jenderal Pajak adalah kebanggaanku. Aku dibesarkan di institusi ini, lebih dari separuh umurku kuhabiskan di sini. Dari jam tujuh pagi sampai lima sore kecuali sabtu minggu. Bahkan ketika pengarusutamaan gender menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Keuangan, dan Direktorat Jenderal Pajak masih belum memasukkannya dalam penyusunan pola mutasi, sehingga banyak pasangan suami-istri yang terpisah karena SK. Banyak anak yang tidak mendapatkan kasih sayang utuh orangtuanya karena ayah atau ibu hanya ada di akhir pekan, atau setiap 2 minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Tidak mengapa. Tidak akan mengubah niatku untuk membaktikan diri, tidak akan mengurangi keikhlasanku untuk memberikan yang terbaik untuk Direktorat Jenderal Pajak. Bagiku Direktorat Jenderal Pajak adalah buah hatiku. Jika bukan karena cinta, entah apa ini namanya.




___________________________________
Rika Sari Sjafri
KPP Pratama Jakarta Koja





Rika Sari Sjafri 5058488445183867755

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan