Loading...

Ikhlasku, Agar Doaku Terkabul

Ramadhan tiga tahun silam, menjadi momen yang terasa lebih spesial bagi saya dari sebelum-sebelumnya. Ramadhan 1432 H, itulah saat pertama k...

Ramadhan tiga tahun silam, menjadi momen yang terasa lebih spesial bagi saya dari sebelum-sebelumnya. Ramadhan 1432 H, itulah saat pertama kalinya saya benar-benar menjadi pegawai di institusi Ditjen Pajak ini dan telah ditempatkan secara definitif. Awalnya saya sangat syok karena tidak pernah membayangkan sebelumnya akan berkantor di ibukota negara. Terlebih saat itu adalah sebulan masa persiapan pernikahan yang direncanakan tanggal 3 Syawal 1432 H. Calon suami saya saat itu telah bertugas di kota pucuk pulau Sulawesi. Berarti mau tidak mau saya akan menjalani Long Distant Marriage (LDM) untuk sementara waktu dengannya.

Namun, dengan kondisi LDM ini, tak pernah terbersit sama sekali keinginan untuk menunda segera memiliki momongan. Setelah menikah, dengan keterbatasan waktu pertemuan yang mungkin hanya dua hari dalam sebulan membuat kami menyusun berbagai rencana. Tekad saya memang tidak ingin menunda untuk segera menjadi madrasatul ulaa bagi anak-anak suami kelak. Bulan demi bulan kami lewati tentunya dengan tidak mudah. Bahkan mungkin teramat sulit bagi kami yang menikah bukan karena telah berpacaran sebelumnya. Sempitnya waktu dan kesempatan tak jarang membuat kami justru sering dilanda pertengkaran di tengah-tengah cinta yang baru saja tumbuh dan bersemi.

Kini tiga tahun telah berlalu, Alhamdulillah kami berkesempatan lagi menikmati tiap detik limpahan nikmat Ramadhan dan sudah dalam satu atap. Namun, menginjak Ramadhan 1435 H ini dengan perasaan masih sama yakni sangat berharap untuk segera memiliki keturunan dan bahkan makin bertambah. Hampir tiga tahun usia pernikahan kami, ternyata Allah masih menunda terkabulnya doa-doa untuk segera memiliki anak-anak yang shalih dan shalihah.

Berbagai ikhtiar, mulai dari konsultasi ke dokter, menenggak herbal-herbal alternatif yang menurut berbagai sumber dapat meningkatkan peluang kehamilan, hingga terapi bekam dan akupuntur. Tak jarang pula kami bertanya pada banyak orang yang sebelumnya juga harus menanti beberapa bulan bahkan bilangan tahun untuk dapat menimang momongan. Hingga ada saran yang sangat menyentil dan menghujam ke dalam dada. Apakah suami saya tidak rutin berjamaah shalat subuh ke masjid, apakah kami kurang bersedekah, dan sangat kurang merapalkan istighfar untuk memohon ampun. Innalillahi…!

Mungkin benarlah semua itu, meski sudah rutin konsultasi medis atau mengkonsumsi herbal-herbal, jika ada yang Allah tidak ridho dan belum melihat tawakalnya kami yang sempurna, maka mudah bagi Allah untuk menundanya. Terpekur diri ini atas nasihat yang amat sarat iman itu. Oleh karena itu, meski sering khilaf bibir ini berucap yang sia-sia, saya usahakan untuk terus menyelinginya dengan rapal-rapal istighfar. Soal sedekah, sebagai karyawati/PNS Ditjen Pajak dan bersuami yang juga bekerja serta menanggung semua amanah keluarga kami, mestinya ada kelapangan bagi saya untuk berbagi. Setelah dikurangi berbagai pengeluaran rutin untuk menunjang program kehamilan kami, selalu saya usahakan memperuntukkan sebagiannya untuk sedekah. Tapi, ditilik lebih dalam, saya sering ragu karena ternyata tipis sekali beda niat sedekahnya antara ikhlas kepada Allah atau ingin menjadikannya wasilah kami untuk segera berketurunan.

Pun hingga saat ini, sejatinya saya belum mengerti betul-betul ikhlas itu seperti apa. Saya hanya bisa memastikan suatu niat yang bulat dalam hati ini setiap bersedekah agar Allah ridho, dan jika Allah ridho, semoga Allah memudahkan dalam mengabulkan doa-doa kami, salah satunya agar segera diberi keturunan.
“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiyallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari).

Ikhlas, sedemikian sulit kita melakoninya dalam menunaikan amalan-amalan. Sebagai manusia biasa, bak mustahil kita dapat memastikan bahwa setiap amalan sudah ikhlas adanya. Apalagi, jika kita memang selalu membutuhkan pertolongan-pertolongan Allah. Bahkan kita berharap amalan-amalan yang dilakukan adalah jalan agar Allah Swt. senantiasa mencucurkan rahmat-Nya bagi kita. Jangan sampai kita sudah merasa ikhlas namun di hari persidangan nanti kita malah dianggap pendusta oleh Allah Swt.

Seperti kisah yang diriwayatkankan oleh Abu Hurairah dalam sahih Muslim:
“Sesungguhnya,” kata Rasulullah, “Orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?” Lelaki menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah langsung menimpali, “Kamu dusta,!!! “Sebenarnya kamu beperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.

Begitu pula dengan kisah orang kedua dan ketiga yang merasa telah menimba ilmu dan menginfakkan sebagian hartanya untuk memperoleh ridho Allah namun ternyata Allah pun menganggapnya berdusta.

Sama sekali tidak ingin nanti di hari persidangan justru Allah menghardik kami lantaran infaq dan sedekah yang kami keluarkan tidaklah semata-mata ikhlas mengharapkan ridho Allah Swt semata. Prinsip yang kami yakini, Allah itu Mahabaik. Maksud dari hadits di atas pastilah karena Allah memang mengetahui ada kepura-puraan niat dalam hati ketiga orang yang dikisahkan sebagai pendusta di hari persidangan tersebut.

Ibarat paling sederhana bagaimana kita mengejewantahkan keikhlasan dalam beramal adalah mungkin seperti kasih sayang seorang ibu. Sejak belum mengandung pun, ibu telah berusaha mengusahakan yang terbaik bagi calon buah hatinya. Dari sisi kesehatan, asupan makanan, keseimbangan hidup, dan lain-lain. Apalagi setelah dirinya mengetahui bahwa Allah benar-benar telah menitipkan calon janin di dalam rahimnya. Mengandung dengan payah hingga sembilan bulan dan harus mempertaruhkan nyawanya agar sang jabang bayi dapat lahir dengan selamat. Hingga bayi itu pun tumbuh besar, sehat, dan makin sempurna kemanusiaannya, ibu yang selalu merawatnya dengan kerja keras tanpa memikirkan akan mendapatkan balasan apapun dari anaknya.

Ibu, yang amat sayangnya pada anak-anak, hanya berharap yang terbaik bagi semua buah hatinya. Ia selalu ikhlas beramal dan mengerjakan yang terbaik namun ia pun tak luput berdoa agar anak-anak senantiasa Allah besarkan dengan sempurna dan menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Ibu beramal yang terbaik dan insya Allah dengan ikhlas. Tapi dia pun tak pernah lupa mengangkat tangannya, mengalunkan munajat, dan memanjangkan rukuk serta sujudnya memohon agar anak-anak selalu berada dalam kebaikan dan keberkahan Allah Swt.

Jadi ikhlas, dalam dimensi apapun, entah memberikan sesuatu, mengerjakan amal-amal kebaikan, atau mengejar sesuatu memang mesti diutamakan untuk meraih ridho dan rahmat Allah jua. Namun bukan berarti kita meninggalkan segala permohonan dan keluh kesah kepada Allah Swt., Tuhan yang kepada-Nya lah kembali segala urusan.

Begitupun dengan segala keluh kesah dan pinta, kami sandarkan semuanya kembali kepada kebesaran Allah Swt. Seraya harus selalu berikhtiar yang terbaik dari segala jalan. Pun harus tetap optimis dan berprasangka baik bahwa setiap manusia ada jalan rezekinya dan setiap makhluk mempunyai takdir terbaik dari Allah Swt. Bilakah usaha dari segala arah telah ditempuh, artinya memang doa dan tawakal adalah senjata yang paling paripurna.

Dalam Musnad Abu Hanifah, sahabat Jabir meriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Saw. dan berkata: "Wahai rasulullah, aku belum dikaruniai anak sama sekali, dan sampai saat ini aku belum punya anak."
Rasulullah lalu bersabda: "Jika engkau memperbanyak istighfar dan sedekah, engkau akan diberi rezeki disebabkan keduanya." Lelaki itu pun memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata: "Akhirnya orang itu mempunyai sembilan orang anak laki-laki.” Kalau kata Al Ustadz Riza Almanfaluthi, beliau menyarikan dari hadits di atas sebagai berikut: sedekah sampe nyesek, istighfar sampe dower, plus berdoa sampe pasrah ya!

Jadi, Insya Allah tidak ada pertentangan niat sama sekali antara kami yang harus lebih memperbanyak bersedekah sambil terus memohon kebaikan dan terkabulnya doa-doa supaya segera diberi keturunan anak-anak yang shalih dan shalihah karena memang yang bilang Rasulullah Saw. sendiri. Tinggal selalu luruskan niat, menjaganya, dan yakin bahwa Allah akan balas dengan kebaikan yang lebih banyak. Aamiin, allahumma aamiin.


*****
Dian Suci Lestari
KPP Pratama Manado
Ramadhan 5288889321310022423

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan