Loading...

Ilmu Ikhlas dari Bulan Ramadhan

Detik demi detik yang kita jalani, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, hingga akhirnya bulan berganti bulan meng...


Detik demi detik yang kita jalani, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, hingga akhirnya bulan berganti bulan mengantarkan kita kepada suatu bulan suci yang kita rindukan. Bulan ramadhan, bulan yang mengandung banyak kebaikan, bulan di mana orang-orang beriman diwajibkan untuk berpuasa.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Dari hadits tersebut kita bisa melihat betapa besar keutamaan puasa sehingga, Allah Azza wa Jalla, Rabb kita yang pada hakikatnya tak membutuhkan amalan kita menyatakan bahwa amalan puasa yang dilakukan manusia adalah untuk-Nya. Oleh karenanya, selayaknya kita berlomba-lomba untuk mengejar kebaikan tersebut.

Ulama menyimpulkan bahwa puasa mengajarkan kita untuk menghindari penyakit riya’. Al-Qurtuby rahimahullah berkata “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya’, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya.” Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (bercampur dengan riya’) berbeda dengan puasa.
Puasa adalah rahasia batin antara seorang hamba dan Allah Azza wa Jalla yang tiada orang lain yang tahu. Dalam puasa maka manusia belajar untuk menghindari riya’, ingin dipuji oleh orang lain. Karena bisa saja seseorang mengaku berpuasa, namun dia secara sembunyi-sembunyi makan dan minum. Namun, karena iman yang kokoh, insya Allah, seseorang yang berpuasa akan menghindari hal-hal seperti itu.

Riya’ sendiri adalah seteru abadi keikhlasan. Dua sifat ini akan terus berseteru di hati manusia, satu jalan menuju keburukan, dan satu jalan lagi menuju kebaikan.

Riya’ versus Ikhlas
Untuk menggapai keikhlasan merupakan perjuangan sepanjang hidup yang layak kita lakukan karena keutamaannya yang besar. Ikhlas merupakan pondasi suatu amal, tanpa keikhlasan maka amal akan menjadi fatamorgana belaka.

Sufyan At Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Ulama yang lain, Fudhail bin Iyadh memberi nasehat, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.”
Hubungan niat dan amal begitu erat.  Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi” (HR Al Bukhari)

Ikhlas adalah syarat diterimanya amal kita. Menata niat untuk ikhlas adalah kewajiban kaum muslimin untuk mendapatkan jalan keselamatan, karena sesungguhnya amalan kita itu berdasarkan niat yang benar. Niat yang benar adalah adalah niat berdasarkan keikhlasan, memurnikan hati karena dan untuk Allah Azza wa Jalla semata.

Di lain pihak, riya’ merupakan perusak dari pondasi amal yang kita bangun. Riya’ akan merusak apa yang kita bangun, walaupun kita menyangka pondasi amal yang kita bangun begitu koko dan besar, namun semuanya akan runtuh tanpa tersisa karena penyakit hati ini. Begitu menakutkannya penyakit hati ini, sehingga baginda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam memberi kita nasehat tentang bahaya riya’. Beliau bersabda “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).

Namun, ketika Allah Azza wa Jalla memberi kita ujian dengan sifat riya’, maka Allah Azza wa Jalla, memberikan kita jalan untuk mengobatinya. Salah satu jalannya adalah melalui puasa. Puasa mengajarkan kita untuk menyembunyikan amalan-amalan kita. Puasa memberi kita pengajaran tentang hakikat seorang hamba, untuk tunduk dan patuh kepada perintah Allah Azza wa Jalla semata, tanpa mencampurkannya dengan noda-noda yang dapat mengotorinya. Noda-noda itu adalah keinginan untuk dipuji, dihargai, balasan duniawi. Puasa mengajarkan kita untuk meninggalkan syahwat serta makan dan minum karena Allah semata.

Keutamaan Puasa, Pendorong Keikhlasan
Salah satu upaya manusia untuk memurnikan keikhlasannya adalah mengetahui keutamaan puasa yang sangat besar. Dengan mengetahui keutamaan puasa insya Allah, kita akan terus menerus mawas diri, berusaha agar menjaga keikhlasan dalam hati kita agar kita mendapatkan kebaikan yang kita idam-idamkan.

Salah satu keutamaan berpuasa, adalah puasa dapat menjadi syafaat bagi kita di hari kiamat kelak. Hari di mana kebenaran terungkap, di mana kita tidak menjadi penolong, maka puasa akan menjadi syafaat bagi kita dengan izin-Nya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat. Puasa mengatakan ‘Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari maka berilah ia syafaat karenaku.’ Al-Qur’an pun berkata, ‘Aku menghalanginya dari tidur pada malam hari maka berilah ia syafaat karenanya.” Rasulullah mengatakan, “Maka keduanya akan memberikan syafaat.” (HR. Ahmad, Hakim)

Selain itu, puasa yang dijalankan dengan penuh keikhlasan akan dibalas oleh Allah Azza wa Jalla secara langsung yang batas balasannya tidak seorang pun yang mengetahui. Puasa juga akan menjadi jalan ke surga bagi kita. Oleh karenanya kita harus selalu berdoa dan berusaha, semoga keikhlasan selalu menjadi niat kita dalam melakukan suatu ibadah seperti yang telah diajarkan puasa kepada kita, sehingga kebaikan dunia dan akhirat pun dapat kita peroleh. Aamiin.



*****
Andi Zulfikar
KPP Pratama Maros

Ramadhan 2625646658085296634

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan