Loading...

Makan

Para pejuang Afghanistan, ketika itu, punya prinsip menarik dalam soal makan. Kata mereka, 'Jika ada makanan, tidak kami sisakan. Dan ke...

Para pejuang Afghanistan, ketika itu, punya prinsip menarik dalam soal makan. Kata mereka, 'Jika ada makanan, tidak kami sisakan. Dan ketika tidak ada makanan, kami tidak menangis'.

Pandangan yang cocok dengan situasi di medan perang melawan penjajah Uni Sovyet. Tidak selamanya, para pejuang itu 'bertemu' dengan makanan yang cukup dalam sisi kuantitas maupun kualitasnya.

Jika mereka mendapat makanan, dengan beberapa sebab, mereka menghabiskan makanan itu. Tidak bersisa. Semua mereka lahap habis.

Tetapi, ketika masuk ke medan, mereka bisa tak berjumpa dengan makanan lain kecuali roti di kantung pakaian atau tas mereka. Situasi semacam ini bisa berlangsung beberapa hari.

Ketika ada, mereka tak menyisakan. Ketika tidak ada, mereka tak menangis.


Kita?

Gaya hidup memilih-milih makanan terus berkembang dan terus mendapat pembenaran. Membuang-buang makanan, terus berlangsung. Menyisihkan dan memilih makanan adalah gaya yang kita dukung penuh, nyaris tanpa kekhawatiran terpeleset pada kesalahan.

Dan kita juga kerap marah, kecewa, kesal, bahkan mengamuk ketika tidak tersedia makanan. Sudah banyak tragedi, mulai di rumah sampai kejadian-kejadian di dalam perjalanan ke luar negeri.

'Nduk, sudah makan?'. 'Belum, bi. Makan pake apa, bi?'. 'Kamu tinggal melangkah ke meja makan lalu memakan apa yang sudah ada di meja makan, nak..'.

Sengaja. Agar kami tak mudah menangis ketika tidak ada makanan, agar tak jadi pemilih makanan, dan agar terbiasa menghabiskan makanan.

Karena makan bisa bermakna dicintai atau dimurkaiNya.

Jakarta, 30 Juni 2015


____________________________________
Eko Novianto Nugroho
Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan
Eko Novianto Nugroho 46743031742011974

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan