Loading...

Seperti Lilin yang Tak Lelah Menyinari

Tak membuatku harus berfikir panjang ketika dosen KSPK di kelasku memberikan tugas kepada kami untuk menulis tentang orang yang kami idolak...

Tak membuatku harus berfikir panjang ketika dosen KSPK di kelasku memberikan tugas kepada kami untuk menulis tentang orang yang kami idolakan. Dengan yakin aku memutuskan untuk menulis tentang sosok yang kurindukan itu. Sosok yang tak kujumpai beberapa bulan terakhir. Hanya suaranya yang kudengar lewat sambungan telefon.

Sangat jelas ku ingat raut wajah yang kian menua itu. Kulit yang semakin keriput, rambut yang kian memutih, kaki yang sering sakit-sakitan, kerut di kening yang menyiratkan betapa kerasnya beliau berfikir, dan yang paling tertancap jelas di memoriku adalah lisan beliau yang tak henti berdzikir.

Lima puluh lima tahun silam beliau dilahirkan ke dunia ini. Dilahirkan di tengah keluarga yang kurang mampu tak membuat Beliau menjadi seorang yang rendah diri. Perlakuan yang kurang berimbang dari orang tua beliau pun tak menjadikannya berkecil hati. Justru hal tersebut menjadi pemicu semangat beliau untuk tumbuh menjadi seorang yang mandiri, tak bergantung pada orang tua, dan bisa mengayomi adik-adiknya.

Pendidikan formal hanya dirasakannya sampai tingkat dasar, dulu SR namanya, Sekolah Rakyat. Sering ku dengar cerita-cerita tentang masa lalunya di SR itu. Mulai dari cerita ke sekolah yang memakai tas kresek, ke sekolah dengan sandal jepit atau bahkan tak beralas kaki, tentang perjalanan yang jauh untuk sampai ke sekolah, dan prestasi-prestasi beliau di kelas. Beliau sering bercerita tentang guru-guru yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Beliau. Ya, beliau memang orang yang sangat cerdas. Sayang, hanya sedikit yang menurun kepadaku. ^-^

Karena kondisi keluarga kurang mendukung, beliau tidak menamatkan sekolah SR. Kondisi tersebut memaksa beliau untuk bekerja dan bekerja. Hingga akhirnya beliau tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri, mampu mencukupi kebutuhan beliau sendiri. Di umur yang masih belia beliau sudah memiliki beberapa petak sawah dan sebuah rumah yang hingga sekarang masih kokoh berdiri, yang tak lain menjadi rumah tempat tinggalku.

Berbagai macam pekerjaan beliau lakoni. Mulai dari kuli, menggarap sawah orang, hingga menjadi “penderes nira”, pekerjaan yang menurutku sangat beresiko tinggi. Ya, karena latar pendidikan yang rendah, pekerjaan seperti itulah yang bisa beliau dapatkan.

Hingga aku kelas 4 SD Beliau melakoni dua pekerjaan. Pagi dan sore beliau menderes nira, dan siangnya beliau menjadi kuli pakan ternak di sebuah gudang pakan ternak yang letaknya cukup jauh dari rumahku. Beliau tempuh perjalanan dengan bersepeda. Aku yakin, beliau sangat lelah. Hampir tak ada waktu untuk beristirahat. Tapi tak pernah ada keluh lelah yang terluncur dari lisannya. Semua beliau lakukan demi aku dan Kakakku. Beliau ingin anak-anaknya lebih baik dari beliau. Beliau ingin aku sekolah setinggi-tingginya. Beliau tak ingin anak-anaknya bernasib sama seperti Beliau. Satu cita-cita besarnya. Menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Apapun akan beliau lakukan. Meski harus berkorban nyawa sekalipun.

Ya, beliau, Bapakku, yang tak pernah malu dengan kondisi yang ada. Tak pernah minder dengan kekurangan yang ada. Berjuang keras untuk memperoleh apa yang menjadi keinginannya. Tak pernah gentar dengan rintangan yang menghadang.

Sejak aku kelas 5 SD bapakku mulai mulai usaha beternak ayam. Alhamdulillah hasilnya lumayan. Sehingga bapak tak perlu lagi bekerja menjadi kuli di gudang pakan ayam. Tapi beliau masih menjadi penderes nira. Agar setiap hari ada pemasukan. Karena dari beternak ayam, hasilnya baru bisa dirasakan 3 bulan sekali. Lelah, pasti. Tapi bukan Bapakku kalau ada keluar keluh dari lisannya. Beliau tak ingin terlihat tidak semangat di depan putri putrinya.

Sampai aku SMP keluarga kami menjadi keluarga yang berkecukupan. Usaha keras Bapakku membanting tulang pagi hingga petang, menapak tatar demi tatar pohon kelapa, tetes demi tetes keringat yang terkucur, kilo demi kilo gula merah yang terkumpul Alhamdulillah cukup untuk menutupi kebutuhan keluargaku.

Namun semuanya mulai berubah ketika SMA. Ketika kebutuhan hidup semakin tinggi, aku SMA, kakakku juga SMA, Dengan penghasilan yang tidak meningkat sementara kebutuhan pendidikan kian meninggi membuat Bapakku harus berfikir keras untuk mencari sumber penghasilan lain. Ibuku sendiri pun sebenarnya tak begitu mendukung kami untuk bersekolah hingga SMA. Apalagi kuliah.
Bapakku sangat mensuport aku dan kakaku untuk terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Dan Alhamdulillah prestasiku dan kakakku memang bisa dibilang cukup baik, sehingga ini semakin memacu semangat Bapakku untuk menguliahkan kami. Entah dari mana saja rezeki itu berasal. Selalu saja ada, walau sulit. Pinjaman tetangga, pinjaman Bank, hutang sana hutang sini, Alhamdulillah aku dan kakakku bisa menamatkan pendidikan SMA.

Pernah, begitu lekat dalam memoriku. Di saat pembagian raport kelas 1 SMA. Ketika akan kanaikan kelas. Uang SPP belum terbayar. Bapakku datang ke sekolah dengan membawa sejumlah uang untuk membayar tunggakan itu. Namun ternyata kita masih harus bersabar. Uang itu hilang di jalan. Dan raport pun tak terambil. Sedih memang. Tapi tak apa, Bapakku meyakinkaku, menyabarkanku, dan mensuportku, :) dan Alhamdulillah kami lulus dari SMA. Allah memang Maha Pengasih dan Maha Pemurah kepada hambaNya. Tak ada satu pun makhlukNya yang masih bernyawa yang tak diberi rizki.

Aku sangat bahagia hidup di dalam keluargaku. Bapakku yang sangat sabar. Kakakku yang sangat kuat. Ibuku yang rajin, dan aku yang lebih banyak diam,, kami dengan segala kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling berbagi, saling menutupi, dan saling mengasihi. Di sana aku banyak diajarkan untuk bersabar. Sabar di atas sabar. Karena begitu banyak kendala yang kami hadapi, dan betapa seringnya pertolongan itu datang di detik detik terakhir. Tidak bisa dibilang sering, hampir selalu bahkan. Tapi kami yakin, pertolongan itu selalu ada. Selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Dan bahkan Allah menjanjikan ada dua kemudahan setelah 1 kesulitan dalam QS Al insyirah. Dan kami juga banyak belajar untuk bersyukur untuk menerima apa yang kita peroleh. Walaupun mungkin itu pahit bagi kita. Karena “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuau, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (2:216). Selalu mensyukuri apa yang terjadi, dan Nikmati setiap proses hidup yang ada.

Satu sifat yang paling menonjol dari Bapakku itu adalah Beliau bersifat seperti lilin. Menyinari sekitar, tapi beliau sendiri habis. Beliau tak mempedulikan dirinya meleleh. Sebenarnya sikap ini juga yang kadang membuat keluarga kami agak sulit. Di saat keluarga kami butuh, dan datang orang yang meminta pertolongan, tak segan-segan Bapakku memberi pertolongan kepada orang itu. Dan sifat ini lah juga yang menurutku sangat disukai orang. Namun kadang sifat ini juga yang menjadikan Bapakku “dimanfaatkan” oleh orang lain. 

Ya, seperti itulah Bapakku. Seperti lilin. Menyinari orang lain. Tapi dirinya sendiri habis. Aku sebagai anaknya kadang agak kurang setuju juga dengan tindakan-tindakan yang Bapakku ambil. Tapi bapakku orang yang berkemauan keras. Kalau sudah ingin sesuatu yang menurutnya baik ya beliau akan mengejar itu. Iya, memang baik untuk orang lain, sementara dirinya sendiri harus meleleh, habis. Sebenarnya ini hanya fikiran manusia-manusia yang belum mengerti. Ketika aku ingat janji Allah, barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya, maka Dia akan memudahkan jalan untuk menuju ke surge. Subhanallah. Semoga Bapakku termasuk dalam golongan itu. Dan Bapakku telah benar-benar menerapkan ayat Khoirunnas, anfa’uhum linnas,, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Aku ingin memiliki sikap seperti Bapakku itu. Memberikan kemanfaatan bagi orang lain, dan tidak mengutamakan kebutuhan pribadinya. Orientasi hidupnya sama sekali tak ada untuk kepentingan dirinya. Tak seperti aku yang masih egois, masih belum bisa mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentinganku.

Ketika aku masuk STAN, Bapakku adalah salah satu orang yang sangat berbahagia kala itu. Kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Satu tahun penantianku terjawab sudah. Begitu lulus SMA aku memang diterima di sebuah universitas negeri di kotaku. Tapi tidak ada rezeki untuk membayar uang masuk kuliah itu. Sehingga aku pun beristirahat dulu. Di tahun kedua aku mencoba STAN, motivasi terbesar datang dari Bapakku. Bapakku terus mendorongku untuk terus mencoba. Beliau ingin mewujudkan cita-citanya, menguliahkan kedua putrinya. Dan Alhamdulillah. Bagaimanapun kondisinya, bagaimanapun beratnya hambatan yang menghadang, Alhamdulillah, Bapakku berhasil. Kakakku telah menamatkan kuliah S1nya 1,5 tahun yang lalu. dan kini, aku juga telah bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.

Banyak orang tak menyangka memang. Dari keluarga kami terlahir dua orang anak yang telah lulus dari bangku perkuliahan. Subhanallah. Faidza ngazamta.. fatawakkal ‘alallah…
Ketika kita sudah memiliki azam yang kuat, maka bertawakallah kepada Allah. Dan seperti itulah Bapakku. Berazam kuat. Dan yakin pada Yang Maha Menentukan, Maha Mengabulkan. Maka kun fayakun… jika Dia berkehendak, maka terjadilah.

Bapakku masih memiliki sebuah cita-cita besar, dan semoga Allah memudahkan jalan Beliau untuk mencapai cita-cita itu. Beliau ingin merubah pemahaman orang-orang di kampung kami yang hidupnya kebanyakan hanya berorientasi pada harta. Beliau ingin mengajak mereka untuk mengalihakan orientasi itu. Dari orientasi harta menjadi orientasi ilmu dan orientasi akhirat. Beliau sudah merancang cara-cara yang akan ditempuh. Butuh proses panjang memang. Tapi insyaAllah cita-cita itu akan terwujud. Amin.

Itulah bapakku. Sebagai manusia biasa, yang terlahir dari keluarga biasa, dan menjadi orang yang biasa-biasa saja, tapi menurutku mempunyai kepribadian yang sangat luar biasa. Sumber semangatku. Sumber inspirasiku dan sumber kekuatanku, melalui doa-doanya yang menguatkanku.
Semoga bermanfaat, semoga menginspirasi, semoga kita bisa seperti Beliau, menjadi lilin yang tak pernah lelah menyinari. Selalu ikhlas memberikan dan mengusahakan yang terbaik untuk orang lain. 
Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak di rumah, semoga rahmat Allah selalu menaungi beliau. Lewat angin kutitipkan salam rindu untuk beliau di sana.




______________________________
Siti Umul Barokah
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan
Siti Umul Barokah 7806141750267103745

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan