Loading...

Sudah Berniat Ikhlaskah Kita Beribadah?

Hidup di dunia ini adalah sebuah perjalanan singkat yang bertujuan untuk mencari Ridha Allah dalam setiap ibadah yang kita laksanakan. Keban...

Hidup di dunia ini adalah sebuah perjalanan singkat yang bertujuan untuk mencari Ridha Allah dalam setiap ibadah yang kita laksanakan. Kebanyakan diantara kita beribadah hanya sekedarnya seseorang beribadah. Dan sebagian lain diantara kita adalah seseorang yang niatnya salah dalam menjalankan ibadah.

Dalam melaksanakan ibadah niat merupakan hal pertama yang wajib kita lakukan. Misalkan dalam melaksanakan sholat, jika kita sudah melafalkan niat maka sholat yang kita kerjakan itu sah. Begitupun sebaliknya jika kita lupa atau sengaja tidak melakukan niat maka sholat yang kita kerjakan tersebut tidak sah dan tidak mendapatkan pahala apapun. Dengan kata lain segala amal ibadah yang kita lakukan tetapi tidak diiringi dengan niat maka amal tersebut akan sia-sia.

Niat juga membedakan kualitas pahala seseorang. Misalkan seseorang datang ke masjid pada saat sebelum waktunya sholat. Ia memutuskan duduk di serambi masjid sambil menunggu waktu sholat. Apabila ia duduk dan tidak melakukan niat apapun maka duduk orang tersebut dianggap hanya duduk biasa dan tidak mendapatkan pahala. Beda jika orang tersebut duduk dan berniat untuk i'tikaf maka orang tersebut akan mendapatkan pahala.

Jangan-jangan kita sudah salah niat selama ini, jangan-jangan niat ikhlas kita sudah tercemar dengan keinginan dipuji (riya). Kalau begitu, kita akan termasuk orang yang merugi di akhirat nanti. Kita mungkin sudah mendapatkan tujuan beribadah itu di dunia, tetapi di akhirat Allah SWT melemparkan kita ke api neraka karena kita berdusta dengan niat itu. Inilah hadist Qudsi yang mengingatkan kita agar selalu beribadahj itu semata-mata ikhlas karean Allah:

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun membenarkannya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata kerana Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau berdusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (bertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang dihisab) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah kerana engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau berdusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang dihisab) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata kerana Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Niat ikhlas sebenarnya mudah dilakukan.  Namun tidak sedikit yang tergelincir di tengah jalan lantaran menemui cobaan dan rintangan hidup.  Akhirnya, niat ikhlas itu terasa sukar untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Alangkah baiknya jika segala sesuatu yang kita lakukan didasari dengan niat ibadah supaya yang kita lakukan mendapat nilai lebih dari pahala yang kita dapatkan.

Amal yang salih adalah amalan yang kamu tidak menginginkan pujian dari siapapun atasnya kecuali dari Allah.

(Ali Ibn Abi Thalib)





______________________________________
MUHAMMAD ALI RIDWAN JUNAEDI
Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat

Muhammad Ali Ridwan Junaedi 1186936125963360003

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan