Loading...

Ada Masanya

Ketika kita dilahirkan dulu, mungkin semua hal kita menarik bagi ayah dan ibu kita. Semua menjadi perhatian. Mata, hidung, pipi, tangan, kak...

Ketika kita dilahirkan dulu, mungkin semua hal kita menarik bagi ayah dan ibu kita. Semua menjadi perhatian. Mata, hidung, pipi, tangan, kaki, jari-jari lentik kita, kedipan dan gerakan kita, dan hampir semua. Semua jadi cerita. Lalu juga tentang cara kita berbalik untuk tengkurap, merangkak, atau berjalan. Semua jadi cerita.

Lalu soal belajar. Rangking dan juara. Lomba-lomba dan piala. Menang ini dan menang itu. Sekolah di sana dan kuliah di sana. Semua jadi cerita.

Perlahan, seiring pergerakan zaman, kita juga mulai membuat cerita. Masih juga soal juara tapi ditambah soal perempuan. Masih soal piala tapi juga mulai soal keturunan. Semua jadi cerita.

Lalu soal menjadi ini, menjabat itu, memegang itu, duduk di sana, punya itu, sering ke sana, beberapa kali ke situ. Komparasi. Si anu belum punya anu dan si fulan belum ke situ. Semua jadi cerita.

Gegap gempita.

Wajar. Begitulah. Semua ada masanya.

Maka terbayangkah obrolan ahli surga? Mereka akan melihat, bersyukur atas pilihan-pilihan mereka, bersyukur atas determinasi mereka, lalu mereka menceritakan semua. Sambil duduk-duduk penuh keridhaan.

Para pecundang masih punya masa. Tapi mereka yang tak di surga cuma punya sesal. Tapi tak berguna.

Semua ada masanya.

Jakarta, 1 Juli 2015























____________________________________
Eko Novianto Nugroho
Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan
Hikmah 3595021626844940585

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan