Loading...

Belajar Dari Generasi Terbaik

Prolog: Ikhlas dalam Ibadah Misi kehidupan manusia di muka bumi ini sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Seluruh perkataan, perbu...

Prolog: Ikhlas dalam Ibadah
Misi kehidupan manusia di muka bumi ini sudah jelas, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Seluruh perkataan, perbuatan, dan lintasan hati manusia sehari-hari hendaknya bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Selanjutnya, dalam melaksanakan ibadah, manusia diperintahkan untuk bersikap ikhlas, yaitu memurnikan segala perbuatan dari hal-hal selain Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…(Al Bayyinah: 5)”.

Menurut Hasan Al Banna, orang yang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang mengorientasikan ibadahnya hanya untuk Allah SWT semata dengan mengharapkan keridhoan-Nya tanpa memperhatikan keuntungan materi, pangkat, dan popularitas. Allah SWT berfirman, “Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Dalam beramal, seorang mukhlis tidak akan terpengaruh terhadap pujian atau ancaman dari manusia, sebagaimana perkataan Fudhail bin Iyadh, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

Ikhlas Saja Tidak Cukup
Tanpa adanya keikhlasan, segala amal ibadah yang telah dilakukan oleh manusia akan sia-sia dan tidak memiliki nilai apa-apa. Namun, ikhlas saja tidak cukup untuk mengantarkan amal kita diterima oleh Allah SWT. Selain ikhlas, syarat lain diterimanya ibadah adalah mengikuti (ittiba’) sunnah Rasulullah SAW. Setiap ibadah hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tata cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan tidak boleh menambah-nambahi. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan yang tidak pernah aku perintahkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).

Sebagai seorang teladan bagi ummatnya, termasuk dalam hal beribadah, seluruh ibadah Rasulullah memiliki kualitas yang terbaik. Sholat beliau adalah sholat yang terbaik. Puasa beliau adalah puasa yang terbaik. Dzikir beliau adalah dzikir yang terbaik, dan infaq beliau adalah infaq yang terbaik. Dengan demikian, agar ibadah kita diterima oleh Allah SWT, kita harus siap memurnikan dan memberikan amalan terbaik kita kepada Allah SWT.

Pelajaran dari Generasi Terbaik
Di antara generasi Islam yang berhasil meneladani Rasulullah SAW secara paripurna adalah generasi sahabat radhiyallahu anhum. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Generasi terbaik adalah yang hidup pada zamanku. Kemudian generasi setelahnya. Dan setelahnya lagi.” Hadits ini menunjukkan bahwa sejarah kehidupan sahabat menempati urutan tertinggi dalam sejarah Islam yang harus diketahui dan dicontoh oleh generasi Islam sesudahnya. Generasi sahabat merupakan generasi pilihan yang dibimbing langsung oleh Rasulullah SAW. Mereka adalah orang-orang yang dengan ikhlas mengorbankan segala yang dimiliki, mulai dari waktu, pikiran, tenaga, harta, sampai dengan nyawa hanya untuk Allah SWT. Apapun amanah yang dipercayakan kepada mereka, mereka akan menunaikannya dengan cara yang terbaik. Untuk itu, sudah seharusnya jika kita belajar keikhlasan dan totalitas dalam beramal dari mereka.

Jika kita seorang pemimpin, kita dapat belajar dari Khalifah Umar bin Khattab yang dengan rasa bersalah memanggul sendiri karung makanan untuk dibagikan kepada warganya yang kelaparan tanpa ingin diketahui identitasnya. Beliau sangat takut kepada Allah SWT jika sampai menelantarkan rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Dikisahkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa ketika seekor unta sedekah lepas dari gerombolannya, Khalifah Umar sangat gelisah dan bergegas naik kuda untuk mencarinya. Ketika dikomentari oleh Ali bahwa Umar telah merendahkan jabatan seorang khalifah, Umar menjawab, “Wahai Abu al-Hasan, jangan mencelaku. Demi Dzat yang mengutus Muhammad sebagai nabi, jika saja seekor sapi tersasar di tepi sungai Eufrat, Umar akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak.”

Jika kita seorang yang berpunya, kita bisa belajar dari Utsman bin Affan yang membelanjakan 35.000 dirham miliknya untuk membeli sumur Rawmah dan mempersilakan siapa saja untuk memanfaatkan air sumur tersebut. Jika kita seorang pejabat, kita dapat belajar dari kelapangan dada Khalid bin Walid ketika dilengserkan jabatannya sebagai panglima militer pasukan Islam oleh Khalifah Umar bin Khattab. Jika kita seorang aparatur negara, kita dapat belajar dari kejujuran dan kegigihan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah yang dengan riang gembira melaksanakan tugas Rasulullah SAW meskipun sarana dan prasarananya sangat minim. Saat itu dalam sebuah ekspedisi, Abu Ubaidah ditugaskan untuk memimpin 300 prajurit menuju ke suatu tempat dengan perbekalan tidak lebih dari sebakul kurma. Ketika perbekalan sudah habis, sedangkan tempat yang dituju masih jauh, Abu Ubaidah tidak mengeluh dan tidak berputus asa. Ia dan pasukannya mencari daun kayu yang disebut Khabath, lalu ditumbuk dengan senjata hingga halus seperti tepung untuk dijadikan bahan makanan.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari para sahabat adalah mereka siap memberikan yang terbaik dalam kondisi apapun. Nikmatnya malam pertama sebagai pengantin baru tidak menghalangi Handzalah untuk memenuhi seruan jihad Rasulullah SAW hingga maut menjemputnya sebelum ia sempat mandi janabat. Keterbatasan fisik tidak mampu mencegah keinginan Amr Ibnul Jamuh yang pincang kakinya untuk ikut berperang di jalan Allah hingga ia menemui syahidnya di perang uhud. Keterbatasan persediaan makanan juga tidak mampu mencegah seorang sahabat di kota Madinah untuk menjamu tamunya meskipun ia harus pura-pura ikut makan dengan mengeri-ngerik piring kosong. Sang tuan rumah mematikan lampu agar sang tamu tidak tahu bahwa makan malam hanya cukup untuk satu orang.

Iman Adalah Kunci
Jika ada satu kata yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan apa rahasia para sahabat nabi sehingga mereka berhasil menjadi generasi terbaik, maka kata itu adalah iman. Keimanan para sahabat adalah keimanan menakjubkan yang di dalamnya terdapat kelezatan tiada tara. Kelezatan inilah yang menyebabkan para sahabat menempatkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai prioritas tertinggi mengalahkan kecintaan terhadap dunia dan seisinya.

Jika dikaji lebih lanjut, kekuatan iman generasi sahabat merupakan kunci yang mampu membangkitkan kekuatan terpendam yang ada pada diri mereka. Prof. Dr. Taufiq Yusuf al-Wa’iy dalam bukunya yang berjudul “Al-Iman Waiqazhu Al-Quwaa Al-Khafiyah” mengatakan bahwa kekuatan iman melahirkan keteguhan untuk tetap berada di atas kebenaran sekaligus mewariskan kesabaran untuk menghadapi berbagai macam krisis sampai datangnya kemenangan. Allah SWT berfirman, “Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak  (pula) menyerah (kepada musuh).” (Ali Imran: 146).

Dengan kekuatan iman, Abu Bakar As Shiddiq dengan tanpa keraguan sedikitpun menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah SWT. Begitu pula dengan Ali bin Abi Thalib yang berani tidur di tempat tidurnya Rasulullah SAW yang saat itu menjadi target pembunuhan para jawara Kuffar Quraisy. Dan, Kekuatan iman jualah yang menyebabkan keluarga Yasir tegar dalam penyiksaan yang keji dan biadab.

Begitulah dahsyatnya keimanan generasi sahabat yang menjadikan mereka generasi terbaik sekaligus generasi pemenang (the winning generation) yang tercatat dalam tinta emas sejarah. Menurut DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam kitabnya, “Min Akhlak an-Nashr fi Jil ash-Shahabah”, kemenangan dan kekuasaan sahabat setidaknya terjadi pada empat hal. Pertama, kemenangan dan kekuasaan atas nafsu amarah. Kedua, kemenangan dan kekuasaan ketika berhadapan dengan musuh di medan perang. Ketiga, kemenangan dan kekuasaan dalam melawan setan. Keempat, kemenangan dan kekuasaan dalam menundukkan pesona dan tipu daya dunia.

Epilog: Saatnya Memberikan Yang Terbaik
Dengan mempelajari episode kehidupan generasi terbaik ummat Islam, diharapkan kita bisa memperoleh ide besar tentang bagaimana memaksimalkan potensi terbaik yang kita miliki untuk kepentingan ummat. Sudah saatnya kita berhenti untuk mengeluh dan mengutuk keadaan. Apapun profesi kita, marilah kita perbaiki kualitas keimanan agar dapat membangkitkan kekuatan berkorban yang ada dalam diri kita. Bagi yang saat ini memiliki harta dan jabatan, jangan merasa rugi untuk “berjual beli” dengan Allah SWT. Bagi yang tidak berharta dan tidak bertahta, masih banyak hal terbaik lainnya yang bisa diberikan. Para sahabat nabi telah membuktikan bahwa ada sejuta alasan dan peluang untuk berbuat yang terbaik. Mereka percaya dan yakin sepenuh hati, kebaikan-kebaikan yang mereka tunaikan pada akhirnya akan kembali kepada diri mereka sendiri. Jadi, siapkah kita menjadi generasi terbaik selanjutnya?

REFERENSI:

  1. Al Qur’an dan terjemahnya
  2. Dr. Sayyid Muhammad Nuh. The Winning Generation (terjemah). Yogyakarta: USWAH (kelompok Pro-U Media), 2008
  3. Dr. Musthafa Murad. Kisah Hidup Umar Ibn Khattab (terjemah). Jakarta: ZAMAN, 2012
  4. Dr. Musthafa Murad. Kisah Hidup Ustman Ibn Affan (terjemah). Jakarta: ZAMAN, 2012
  5. Imam An-Nawawi. Hadits Arba’in An Nawawiyah (terjemah). Jakarta: Al I’tishom Cahaya Ummat, 2008
  6. Khalid Muh. Murad. Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah (terjemah). Bandung: CV.Penerbit Diponegoro, 2004
  7. Prof. Dr. Taufiq Yusuf al- Wa’iy. Iman Membangkitkan Kekuatan Terpendam (terjemah). Jakarta: Al I’tishom Cahaya Ummat, 2004
  8. Salim A. Fillah. Dalam Dekapan Ukhuwah. Yogyakarta: Pro-U Media, 2010
  9. http://muslim.or.id/aqidah/ikhlas-karunia-terbesar.html




_____________________________________
Moh. Luthfi Mahrus
Bagian Kepegawaian, Sekretariat Direktorat Jenderal

Moh. Luthfi Mahrus 2998750544436780729

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan