Loading...

Beralas Keyakinan Beriring Keikhlasan

Alhamdulillah sudah waktunya untuk pulang. Lelah, tapi tetap bersyukur diberi nikmat kelancaran bekerja hari ini. Masih ada tugas berikutnya...

Alhamdulillah sudah waktunya untuk pulang. Lelah, tapi tetap bersyukur diberi nikmat kelancaran bekerja hari ini. Masih ada tugas berikutnya menunggu, harus mengikhlaskan hati menunda rindu pada sambutan ceria anak-anakku..

Selintas kadang ingin saja menolak tugas-tugas tambahan seperti ini, bukan bagian dari tugas kantorku. Bisa saja aku menolak, agar bisa segera pulang bermandikan tawa riang anak-anakku yang sejenak bisa meluruhkan lelah. Tetapi tidak untuk kutolak tugas ini, bukan karena takut dimarahi, bukan pula untuk cari muka. Tapi biarlah kucoba menikmati tugas ini.
Motor ini tak lagi segagah dulu, tapi biarkan tetap setia mengiringi tetesan keringatku
Sinar matahari tak lagi muda, sebentar lagi juga terkubur gelapnya langit.
Perjalanan tak melelahkan seharusnya tetapi mungkin badan ini sudah terlalu lelah bekerja seharian sehingga punggung serasa tertimpa bejana.

Laju roda ini berhenti di sebuah halaman luas. Di depan pandangan terlihat bangunan yang tidak terlalu istimewa, sederhana tapi bersih dan sejuk, Di bagian belakang berdiri kokoh masjid besar yang menunjukkan pesonanya di tengah kampung yang masih sederhana,
‘Assalamu’alaikum’ sesaat masih saja sepi ‘Assalamu’alaikum...’
“Wa’alaikumsalam, monggo mas masuk. Monggo monggo silahkan duduk.”
Bapak berkumis, dengan tubuh tinggi besar kulit sawo matang menyambutku dengan ramah. Wajahnya sudah tak muda lagi tapi terpancar kekuatan yang masih mendominasi raganya.
“Saya Sandiman Mas, pimpinan pesantren ini”
***

“Baik kami terima mas, tolong sampaikan ucapan terimakasih kami. Mudah-mudahan yang kami terima ini dapat bermanfaat buat kami.” Sesaat beliau terdiam..

 “Saya yakin Mas sama Alloh, sebelum Mas datang, hari ini saya cuma punya uang 70 ribu, tadi yang 50 ribu diminta santri saya buat bayar sekolah. Tinggal sisa 20 ribu untuk kehidupan saya dan santri-santri ini ke depan. Alhamdulillah rezeki Alloh selalu datang di saat yang tepat”

MasyaAlloh...tenang terlalu tenang. Saya bisa menangkap orang-orang seperti beliau pasti memiliki keyakinan yang teramat besar kepada Alloh dan juga keikhlasan yang dalam dalam setiap keadaan yang dijalani. Sehingga beliau bisa memiliki sikap yang tenang dalam keadaan yang menurut saya sangat sulit. Kalau saya yang berada di posisi beliau pasti sudah panik kesana kemari cari utangan, gelisah dan mungkin malah sibuk mengkufuri nikmat.

 “Dulu keluar dari penjara saya memutuskan untuk pulang kampung Mas” hah penjara?...ingin sekali bertanya kisah dibalik pernah dipenjara, tapi nggak enak, lagipula kalau beliau ingin cerita pasti nanti akan beliau sampaikan juga.

”Dulu desa ini kondisinya masih sangat buruk Mas, tidak banyak warga yang mau sholat, jalan kampung masih sangat jelek. Bahkan masjid juga belum ada”
Hmmm menjadi tertarik dengan pembicaraan ini

Langit semakin gelap, tapi badan ini masih enggan beranjak dari tempat duduk, masih ingin mendengar lagi dan lagi
Masya Alloh gemetar kaki tangan ini mendengar kisah dalam kesederhanaannya.

Pak Sandiman sosok yang luar biasa. Dibalik kisah kelamnya masa lalu, kini dia menjelma menjadi insan yang menggadaikan hidupnya untuk Alloh dan Islam. Setelah keluar dari penjara ia perlahan menata hidupnya untuk sepenuhnya kembali kepada jalan Alloh. Untuk diterima kembali di masyarakatpun tidak bisa dia dapatkan dalam hitungan hari, Perjalanan hidupnya mencari kebenaran hingga mengantarkannya membangun pondok pesantren inipun tak lepas dari cibiran orang di sana-sini, Kini santrinya sudah sekitar tiga puluh orang yang tentu tidak mudah mendidik dan  mengasuhnya, anak-anak itu memiliki latar belakang hidup yang berbeda-beda.

Namun keinginannya menciptakan generasi muslim yang lebih baik, membuat ia menempatkan santri-santrinya ini menjadi rekan perjuangan yang kompak.. Disaat diluar sana banyak orang-orang yang bertebaran meminta shadaqoh atas nama pesantren, dari yang asli hingga tipu-tipu, pesantren milik Pak Sandiman memilih tidak membuat proposal ataupun menyuruh santrinya keliling cari sumbangan. Semua tempat ini dibangun sedikit demi sedikit dari sumbangan donator yang datang, Merekapun tetap berusaha memiliki kemandirian finansial dengan usaha pembuatan batako dan beternak, meskipun hasilnya belum tentu cukup. Namun keyakinan dan keikhlasan mereka pada Alloh mengantarkan mereka pada kecukupan. Keyakinannya akan kekuatan Alloh dan keikhlasan menjalankan membuat Pak Sandiman tidak lelah dan bosan mewujudkan impiannya untuk menjadi pribadi yang baik dan memperbaiki. Desa ini perlahan menjadi terang, dari pancaran cahaya keyakinan dan keikhlasan pondok pesantren ini.

Saya tidak bisa berlama-lama, gelap sudah memenuhi hingga kesudut-sudut ruang ini. Masih enggan rasanya untuk berdiri, semakin lama makin larut dengan kekaguman akan kekayaan jiwa orang luar biasa ini. Tapi tetap harus pamit,…

‘Mohon maaf Pak, saya mau pamit dulu, mudah-mudahan lain waktu bisa silaturahim kembali ke sini. Mudah-mudahan pesantren ini bisa semakin maju dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar’
“Njih mas maturnuwun sudah mampir kesini, Hati-hati ya Mas, sekali lagi minta tolong disampaikan terimakasih kami”

Di dalam sepatu usangku, kaki ini masih saja gemetar. Ya Rabb serasa ingin segera kutaruh wajah ini tersungkur di tanahMu, agar bisa mengalirkan kesejukan dalam raga ini. Ingin kutanggalkan kesombongan ini dan kutitip untuk dikubur di halaman tempat barokah ini.
Senyum tulus Pak Sandiman mengantarkankan ku sampai ke ujung perpisahan
Fuh…tiba-tiba batin ini terasa berat dan lelah, ingin kutumpahkan dalam air mata dan sujud panjangku,

Kutinggalkan pandanganku pada papan itu,  tidak terlalu kokoh bukan dari besi atau baja, hanya dari kayu yang mungkin juga hampir lapuk. “Al Ghifary” disematkan nama itu oleh Pak Sandiman sebagai tanda puncak penghambaanNya kepada Alloh. Bahwa dalam kelamahan dan kekotoran jiwa hanya Ampunan Alloh yang akan mengembalikan kita bersih sehingga bisa bangkit meraih keridho’anNya.
***

Perjalanan masih beberapa waktu…
Sejenak beristighfar atas lintasan malas untuk menyampaikan titipan tadi. Bisa jadi perjalanan ini tadi memang tugas yang Alloh berikan padaku agar bisa mengerti tetang sisi lain keyakinan dan keikhlasan seorang hamba kepada Tuhannya.Ya Rabb terimakasih hari ini Kau izinkan hamba bertemu dengan orang yang jiwanya istimewa. Kelelahannya dalam dunia kriminal membuatnya kini Ikhlas memberikan yang terbaik untuk Alloh dan sesama. Begitupun dengan santri-santri beliau dengan keikhlasan mereka mau meletakkan waktu dan diri mereka menimba ilmu di Al Ghifary Sedangkan saya, betapa banyak aktivitas yang tak dilandasi keyakinan akan hadirnya Alloh dan tanpa diiringi keikhlasan, bekerja hanya sekedar menghabiskan waktu, beribadah hanya sekedar menunaikan kewajiban. Padahal ketika tak dilandasi keyakinan kepada kekuatan Alloh semua hanya akan terasa sulit . Dan ketika tak diiringi keikhlasan semuanya hanya akan berbuah kelelahan dan berujung kekufuran.
***

“Ayaaaaaaaaah…”lari-lari kecil anak-anakku sedetik menegakkan lelah ini.
Seperti biasa tanpa buah tangan, mereka tetap menyambutku dengan keceriaanya meskipun pulang terlambat hari ini. Ya Alloh bahkan anak-anak pada fitrahnya tetap mengiringi keikhlasan dalam menyambut ayahnya pulang, tanpa menagih apapun.
 Ya Alloh mudahkan hamba untuk belajar ikhlas beribadah kepadaMu tanpa menagih dan mengharap balas apapun. Ringankan hati hamba untuk ikhlas menerima setiap rizki dan ketentuan yang Kau anugerahkan.
Kupeluk mereka bersamaan, anak-anakku semoga tidak kalian warisi rasa kufur dan sombong ini.
***

Dalam wajah polos mereka yang tertidur lelah kubisikkan cinta dan harapan.
‘Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang peka terhadap lingkungan sekitar, Agar syukur senantiasa terhatur meskipun sedang tersungkur .Bahwa masih banyak di tempat lain yang dengan keterbatasan mampu berjuang memberikan yang terbaik untuk Tuhannya. Hari ini Ayah belajar kepada seseorang yang dengan keikhlasannya memberikan waktu dan tenaga terbaiknya untuk mengabdikan diri kepada Alloh. Dan keyakinannya akan pertolongan Alloh membuatnya semakin mantab menatap masa depan. Terbang di ujung sana betapa saudara-saudara kita di Palestina mengikhlaskan yang terbaik mereka punya, anak, suami, dan kerabatnya untuk syahid di pangkuan Alloh karena mereka memiliki keyakinan pada janji kemenangan dari Alloh. Dan Kini biarkan Ayah mengikhlaskan kalian tumbuh menjadi hamba-hamba yang tulus mengabdi pada Rabbnya karena Ayah yakin itu yang akan membawa kalian dalam keselamatan. Dan semoga kalian ikhlas menghabiskan perjalanan hidup kalian hanya  untuk Alloh dan yakinlah Alloh yang akan menjadikan perjalanan hidup kalian bertabur indahnya syukur.
Anak-anakku ragu-ragu, kesombongan dan kekufuran hanya akan mengantarkanmu pada kekayaan sejauh matamu memandang.
Tetapi keyakinan, keikhlasan dan syukur akan mengantarkanmu pada kekayaan seluas dan sedalam hatimu mengembara. Luas tak terbatas, dalam tak terukur.’
Ya Alloh kututup lembar hari ini dalam lantunan tahmid dan istighfar yang menghujam dalam sajadah rindu dan taubat kepadaMu.


Inspirasi sederhana dari perjalanan kecil AsKa (AR Wates)
Inspirasi istimewa dari perjuangan besar saudara-saudara muslim di Palestina, semoga Alloh anugerahkan kemenangan di dalam keikhlasan berjuang yang terbaik untuk agama ini.

------23 Ramadhan 1435H-----




__________________________________________________________
Dwi Erlina Wati
KPP Pratama Bantul

Ramadhan 6709577986661511136

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan