Loading...

InsyaAllah, Allah Ta’ala Bakal Ngasi Jalan Lain ’tuk Kau.

”Nda apa-apa, Nak. InsyaAllah, Allah Ta’ala bakal ngasi jalan lain ’tuk kau. Yang sabar. Tetap shalat, tetap doa. Minta ke Yang Di atas, Ins...

”Nda apa-apa, Nak. InsyaAllah, Allah Ta’ala bakal ngasi jalan lain ’tuk kau. Yang sabar. Tetap shalat, tetap doa. Minta ke Yang Di atas, InsyaAllah pasti dikasi yang terbaik. Shalat lima waktu, jangan lupa ngaji. Tambah tahajud dan dhuha mu. Mamak dan Ayah selalu doakan yang terbaik ’tuk kau.”

Itulah obat penenang hati dan jiwaku. Ibu yang selalu tabah dan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Nilai itu yang selalu ditanamkan Ibu kepadaku.

Sering anak manusia tidak menyadari bahwa AllahTa’ala mengetahui apa yang terbaik untuk mereka, karena Dialah Yang Maha Mengetahui. Aku adalah salah satu anak manusia itu. Seorang anak desa yang mencoba peruntungan di ibu kota, dengan berbekal keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan selalu memberikan yang terbaik untuk aku, dan kita semua. Selalu ada pelajaran di balik semua cobaan, karena segala sesuatu pasti akan ada hikmahnya.

Sedari dini hingga menjelang masa remaja, bangku pendidikan ku enyam di kecamatan kecil yang berada paling timur di salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Sebagaimana ranah melayu di pulau lainnya, daerahku kental akan nilai-nilai Islam yang merasuk ke dalam nilai-nilai kebudayaan lokalnya. Pendidikan non formal inilah yang sedikit banyak berperan penting dalam membentuk pribadiku sebagai seorang makhluk.


Mengikuti keinginan orang tua, aku melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di ibu kota provinsi. Sekolah ini merupakan sekolah favofit, paling tidak dalam lingkup provinsi yang berada tepat di bawah garis khatulistiwa ini. Dengan sistem asrama, sekolah ini kental akan nuansa militer dan senioritas yang tinggi. Seragam yang membanggakan serta segudang prestasi yang turun temurun selalu diraih oleh siswa-siswi nya. Tak pelak lagi, dengan style pendidikan seperti itu, sebagian besar alumni SMA ini lebih condong melanjutkan pendidikan gratis (kedinasan) di kemiliteran.

Begitupun aku. Setelah diumumkannya kelulusan disertai dengan pembagian rapor dan nilai ujian nasional, kukerahkan segenap kemampuan untuk bisa bergabung dalam salah satu kesatuan yang bertugas untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersama teman-teman sealmamater, ku persiapkan otak dan otot guna mencapai gerbang masa depan yang lebih cerah. Tak lupa kupanjat doa pada Allah Ta’ala, semoga senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam berusaha.

Disinilah pelajaran itu bermula.

“Gimana hasilnya, Ton?”, tanyaku pada Tono yang merupakan teman sekamarku di asrama. Aku, dia dan beberapan teman sealmamater kami usai menjalani tes kesehatan untuk masuk ke kesatuan yang sering disebut dengan kacang hijau. Dengan wajah lusuh, langkah lunglai, sambil sebelah pundaknya membawa tas ransel angkatan SMA kami, dia menggelengkan kepala,”Belum rejeki, kawan.” Sekencang mungkin aku berlari mendekati papan pengumuman. Namaku pun tak tertulis di lembar kelulusan itu.

Sepekan berselang, aku bertemu dengan Wihelmus yang juga teman SMA. Tak disangka, kami berada pada gelombang yang sama dalam tes kesatuan penjaga ketertiban masyarakat dengan warna seragam coklat ini. Berbekal doa dan persiapan matang baik fisik maupun psikis, aku percaya diri. Namun  Allah Ta’ala menakdirkan lain. Jalanku tak semulus jalan temenku, Wihelmus. Dia turut berduka dengan kegagalanku. Namun sebaliknya, aku tetap menyemangatinya walau kecewa.
Keberuntungan sepertinya agak berpihak kepadaku, di jalur yang satu lagi. Aku mencoba mengadu nasib dengan mengikuti ujian masuk di sekolah tinggi yang mencetak aparatur sipil daerah. Wawancara awal, tes tertulis kemampuan umum, sampai dengan tes psikologi,  aku lulus. Orang tua di desa, senantiasa mendoakan yang terbaik untuk ku. Perkembangan kelulusanku selalu ku sampaikan kepada mereka. Karena aku ingin mereka bangga pada anaknya.

Tibalah aku pada tahap pengujian kesehatan dan kebugaran. Tahap inilah yang nanti selalu membuatku mengerti bahwa Allah Ta’ala memang sayang kepada hambaNya. Setelah semua peserta diuji, pengumumanpun disampaikan. ”Jleb!”, begitulah kira-kira gambaran rasa sakit itu menusuk hati. Namaku tak disebut dalam daftar peserta yang berhak melanjutkan ke tahap berikutnya. Kutanyakan kepada panitia, aku memang tidak lulus.

Sakadar informasi, sebelum pelaksanaan tes ini, aku sempat dikenalkan dengan salah satu orang penting di instansi yang menjadi panitian ujian ini. Kebetulan juga istrinya menjadi peserta panitia di dalamnya. Sebut saja dia Fulan. Pada saat kami bertemu di salah satu tempat makan, beberapa hari menjelang tes yang membuatku gagal, aku menceritakan kepadanya bahwa aku sebenarnya memiliki satu penyakit yang mungkin dapat menggagalkan ku dalam tes ini. Ya, tujuanku adalah meminta pertolongannya agar penyakit itu tidak dipertimbangkan untuk menilaiku dalam tes nanti. Namun apa yang terjadi? Sakit. Sakit!

Dengan sarkasmenya dia mengumpatku, menghujatku, merendahkanku dengan kata-kata yang tak pantas keluar dari mulut seorang pejabat, yang dikemudian hari kuketahui ternyata adalah keluarga jauh dari ayahku. Aku malu, aku sedih, marah bercampur menjadi satu. Tak tahu harus berbuat apa di hadapannya saat itu. Aku hanya terdiam, menerima. Walau sakit hati, kutahan sampai pertemuan itu selesai. Ya, akhirnya memang aku tidak lulus. Walau ini adalah jalur terakhir aku melanjutkan sekolah tinggi gratis.

”Ayah, Mamak, maaf. Maaf, aku gagal. Nda lulus tes kesehatan dan samapta.”, kuutarakan kalimat itu melalui pesawat telpon ke orang tua dikampung halaman. Dengan suara yang sedikit agak serak, dan tak terasa air mata ku mulai menetes. ”Nda apa-apa, Nak. InsyaAllah, Allah Ta’ala bakal ngasi jalan lain ’tuk kau. Yang sabar. Tetap shalat, tetap doa. Minta ke Yang Di atas, InsyaAllah pasti dikasi yang terbaik. Shalat lima waktu, jangan lupa ngaji. Tambah tahajud dan dhuha mu. Mamak dan Ayah selalu doakan yang terbaik tuk kau.” Itulah obat penenang hati dan jiwaku. Ibu yang selalu tabah dan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Nilai itu yang selalu ditanamkan Ibu kepadaku. Sedikit terobati hati ini.

Dua pekan terlewati. Hari-hari ku isi dengan mencari informasi, mencoba untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri di provinsi tempatku dibesarkan. Tak lupa, pesan yang disampaikan Ibu. Ku tambah intensitas pengabdianku pada Sang Ilahi. Aku yakin, ada hikmah dibalik semua ini. Karena ku yakin, keberhasilan pasti memerlukan pengorbanan. Pagi itu, setelah shoalt dhuha, hape ku berdering. Oloan, batak yang tidak terlihat ”batak” nya sama sekali karena sejak lahir ia tinggal di Kalimantan Barat. ”Lo, apa kabar kau? Ada apa?”, tanyaku. ”Baik, bro. Kau udah liat pengumuman belum? Kita lulus, bro....! Lulus!”, dengan suaranya yang memekakkan telingaku. ”Apaan?”, kembali kutanya. ”Aku lulus BC, kau lulus PBB, kawan kita ada dua lagi lulus Akun. Ada 4 yang lulus D1. STAN Jakarta, Bro!”, kembali dia berteriak.

Kabar tak terduga menyesakkan dadaku. Air mataku menetas. Aku tak pernah berfikir bisa lulus ke sekolah tinggi yang mencetak aparatur negara di bidang keuangan ini. Pasca menjalani ujian saringan masuk, aku tak pernah berharap bisa masuk. Konon kabar burung yang kudengar, masuk ke sekolah ini perlu ”orang dalam” dan tak sedikit uang yang harus disediakan. Namun tak demikian nyatanya. Aku, anak desa yang tak punya apa-apa, lulus dengan bekal prestasi dan ridho orang tua, yang merupakan ridho Ilahi.

Inilah, apa yang dipesankan Ibu kepadaku. Satu dari banyak pelajaran hidup yang dapat kupetik. Bukti bahwa segala sesuatu sudah direncanakan Allah Ta’ala, di luar rencana makhluk Nya.

Kegagalan yang kuhadapi selama ini, bukanlah akhir segalanya. Atas usaha yang telah dilakukan tersebut, aku harus ikhlas merelakannya. Ikhlas memberikan yang terbaik untuk mengharap ridho Allah Ta’ala. Karena sejatinya, apapun yang kita lakukan bukanlah untuk diri kita sendiri, tetapi untuk keharibaan Nya.

Dengan sayang Nya terhadap kita, maka apapun bentuk keikhlasan yang kita berikan dengan usaha terbaik yang kita lakukan, akan diganjar yang terbaik untuk diri kita kembali. Ingat, tidak ada istilah keberuntungan dalam hidup. Yang ada adalah, hasil dari usaha yang telah kita lakukan sebelumnya. Entah di waktu yang berdekatan, maupun tidak. Entah di bidang yang sama, atau usaha kita di tempat lain. Karena keberhasilan memerlukan pengorbanan. Ikhlas berkorban dengan cara yang terbaik yang dapat kita lakukan kepada Allah Ta’ala.





__________________________________________
Yudhistira
Direktorat Peraturan Perpajakan I

Yudhistira 4946160598555899787

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan