Loading...

Kata dan Hati

Dulu, untuk membuat para pengendara motor tidak ngebut di gang-gang kita, cukup dengan kata-kata atau teguran ringan, 'Mas, pelan-pela...

Dulu, untuk membuat para pengendara motor tidak ngebut di gang-gang kita, cukup dengan kata-kata atau teguran ringan, 'Mas, pelan-pelan aja. Jangan ngebut'. Lalu zaman berubah. Kata-kata tidak lagi efektif. Diganti dengan pengumuman. 'Hati-hati, banyak anak'. Atau, 'Jangan ngebut, banyak pemuda!!!'. Atau yang lebih mengancam, 'Ngebut benjut!!!'. Lalu zaman berganti lagi. Kata-kata dan papan-papan tak ada gunanya lagi. Berganti Polisi Tidur. Budaya verbal tidak lagi efektif, berganti budaya material.

Hal yang mirip dengan itu, mungkin, rambu-rambu dilarang parkir yang berganti atau didukung oleh cone atau rantai, rambu-rambu batas berkunjung diganti portal, rambu dilarang buang sampah di sini berganti pagar. Dan lainnya.

Budaya verbal melemah lalu diganti atau perlu didukung oleh budaya material.

Di Kebun Binatang, interaksi antara pengunjung dengan beberapa binatang harus dibatasi dengan pagar. Karena hewan tak memahami budaya verbal. Andai mereka faham, mungkin tidak harus dengan pagar, cukup komunikasi verbal atau papan pengumuman. Tapi tak mungkin. Maka pagar adalah keniscayaan.

Dunia verbal seperti merangkak naik dengan maraknya media sosial. Dunia jadi banyak kata. Dunia jadi banyak warna. Dunia berwarna-warna dengan kata-kata. Ada banyak kisah yang dibagikan. Ada banyak hikmah yang disajikan. Ada banyak seruan, ajakan, bimbingan, dan permintaan. Semua dengan banyak kata.

Tapi belum tentu itu budaya verbal.

Kadang itu adalah tumpukan kata yang tak ubahnya tumpukan material.

Yang bisa dibagikan cepat, masif, dan berjelajah layaknya kita membagikan material.

Dunia kata tanpa hati. Berbagi tanpa hati. Tanpa keterlibatan hati, kata-kata adalah material.

Di dunia maya, suami-istri berbagi kata. Orangtua - anak berbagi kata, teman-teman berbagi kata dan cerita, semua berbagi kata dan cerita di dunia maya. Tapi tanpa keterlibatan hati, kata-kata adalah tumpukan material.

Berlatihlah bertutur dengan keterlibatan hati. Berlatihlah terus bertutur untuk sebuah makna. Agar tumpukan kata tak menjadi tumpukan material semata.





__________________________________
Eko Novianto Nugroho
Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan

Keluarga 6963509226508027891

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan