Loading...

Promosi dan Mutasi, Perwujudan Makna Hijrah Pegawai DJP

Promosi dan mutasi adalah hal yang selalu menjadi momok bagi Pegawai Negeri Sipil, begitu pula bagi pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Mana...

Promosi dan mutasi adalah hal yang selalu menjadi momok bagi Pegawai Negeri Sipil, begitu pula bagi pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Manakala waktu promosi dan mutasi mulai mendekat, rasa di hati masing-masing pegawai bercampur aduk, senang, gembira, sedih, was-was dan khawatir menjadi satu. Senang dan gembira, mungkin dirasakan oleh pegawai yang merasa sudah akan pindah (apalagi mendekati home base), karena sudah berada di wilayah tertentu dalam periode yang cukup. Kondisi ini mungkin dirasakan oleh pegawai yang telah berada di remote area dalam jangka waktu yang cukup. Sedih, mungkin dirasakan oleh pegawai yang merasa harus keluar dari daerah tertentu karena sudah terlalu lama berada di daerah dekat home base. Sementara perasaan was-was dan khawatir, mungkin dirasakan oleh pegawai yang pertama kali promosi, karena belum ada kepastian dimana akan ditempatkan.

Secara bahasa, hijrah artinya berpindah. Sementara itu dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Jika memperhatikan hal tersebut, sebenarnya, promosi dan mutasi ini tidak begitu beda dengan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat empat belas abad yang lalu. Jika Rasulullah dan para sahabat hijrah karena atas perintah Allah SWT dan bertujuan mempertahankan serta menegakkan risalah Allah SWT, hijrahnya pegawai melalui promosi dan mutasi ini juga salah satu implementasi pelaksanaan perintah Allah SWT melalui tangan para pimpinan DJP. Adapun tujuan dari promosi dan mutasi juga tidak kalah mulia yaitu berusaha mewujudkan kemandirian bangsa melalui usaha pencapaian penerimaan negara dari sektor pajak. Tujuan ini merupakan salah satu wujud rasa syukur kita atas seluruh rizki yang Allah SWT limpahkan kepada bangsa Indonesia.

Jika kita mau mendalami makna promosi dan mutasi yang ada di DJP, ada beberapa hal yang bisa kita selami makna yang ada, diantaranya:

1. Meningkatkan iman dan rasa syukur kita terhadap Allah SWT

Kenapa promosi dan mutasi mampu meningkatkan iman dan rasa syukur kita terhadap Allah SWT? Di dalam Surat al-Ankabut [29]: 2-3, Allah SWT berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Jika dikaitkan dengan ayat di atas, kondisi secara umum manusia akan mengatakan telah beriman, manakala berada di zona nyaman (confort zone), begitu pula pegawai DJP. Mereka akan merasa nyaman, makanala berada di tempat yang mendekati home base atau berada di kota besar yang mudah terjangkau. Namun, manakala mengalami mutasi ke daerah yang beda dari home base dan relatif sulit terjangkau, inilah sesungguhnya ujian keimanan yang akan dialami. Sebagai contoh, seorang pegawai DJP yang hampir 10-15 tahun berada di home base atau kota besar, pada suatu saat dia diberikan kesempatan promosi ke remote area. Dia tidak akan pernah/jarang menemui banyak hal yang pernah dirasakan di tempat lama, namun tidak akan pernah/sulit untuk dirasakan di tempat baru. Misalnya kemudahan menjalankan ibadah, kemudahan untuk mendapatkan akses informasi, murahnya harga barang, lengkapnya sarana pendidikan dll. Kondisi ini, bagi seorang muslim idealnya akan menambah rasa syukur nya kepada Allah SWT, karena pernah diberikan kesempatan untuk menikmati limpahan rizki dari Allah SWT, dibandingkan dengan saudara-saudara yang lainnya di tempat baru.
Kondisi lain yang yang bisa meningkatkan rasa iman kita kepada Allah SWT dari proses promosi dan mutasi ini adalah, pegawai DJP diberikan kesempatan untuk melihat dan mengakui ciptaan Allah SWT di tempat lain. Kondisi ini dapat dimaknai sebagai perwujudan atau implementasi dari tauhid rububiyah yaitu keimanan terhadap seluruh hasil ciptaan Allah SWT.

2. Distribusi agen perubahan (agent of change)

Tidak dapat dipungkiri, bahwa pegawai DJP yang mendapat kesempatan promosi dan/atau mutasi merupakan pegawai-pegawai terbaik dari pegawai yang ada di DJP. Pegawai yang memiliki kesempatan tersebut rata-rata memiliki kinerja yang lebih dari pegawai yang lain, atau memiliki ide-ide dan/atau terobosan di kantor lama yang bermanfaat bagi organisasi atau memiliki ijazah dan pernah mengenyam pendidikan yang tinggi, baik di dalam negeri atau di luar negeri. Artinya mereka itu merupakan aset dan potensi yang dimiliki DJP dan menjadi agent of change dimanapun berada.
Dengan adanya  promosi dan/atau mutasi ini merupakan salah satu langkah dalam upaya agent of change ke seluruh instansi vertikal (Kanwil, KPP, dan KP2KP) yang dimiliki DJP. Diharapkan dengan knowledge (pengetahuan), skill (keahlian), dan ilmu yang dimiliki, agent of change tersebut mampu melakukan perubahan dan memberikan warna yang baru dan berbeda di kantor baru, mungkin dari sisi budaya kerja, disiplin, ide atau terobosan dalam pelaksanaan pekerjaan, motivasi bekerja dsb. Jika dikaitkan dengan ajaran Islam, diharapkan agent of change tersebut diharapkan mampu men-shibgah (memberikan celupan atau warna) bagi kantor baru sebagaimana Allah SWT firmankan dalam dalam QS Al Baqarah 138 : Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah”.
Jikalau celupan terbaik hanyalah milik Allah SWT, tidak ada salahnya jika sebagai hamba-Nya kita memberikan warna atau celupan terbaik yang kita miliki kepada  saudara kita yang lain di kantor baru sebagai upaya untuk menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana Rasulullah SAW ajarkan yaitu
للناس أنفعهم الناس خير
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi manusia lainnya”

3. Membentuk karakter pemimpin yang kuat.

Firman Allah SWT dalam QS AL Qasas:26    إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya manusia terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat dan amanah.”. Sementara Syaikhul Islam dalam karyanya as-Siyasah as-Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik. Beliau menjelaskan “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal, itu memilikidua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah.”

Dari ayat dan penjelasan di atas, ada 2 hal yang dapat dijelaskan yaitu terkait dengan kuat (profesional) dan amanah.  Bagi pegawai DJP yang mengalami proses promosi dan/atau mutasi, khususnya pejabat, mereka akan menjadi pemimpin di unit masing-masing, baik di level eselon IV, eselon III, eselon II atau eselon I. Sifat ‘kuat’ (profesional) untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Jika dia menjadi Kepala KPP, dia harus mampu menguasa strategi pencapaian penerimaan dan kemampuan manajerial SDM, jika menjadi seorang Kepala KP2KP harus memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi ketika berkomunikasi dengan Pemda atau Wajib Pajak, jika menjadi pemimpin di bidang kepegawaian dia harus menguasai teori, kondisi riil, dan kebutuhan dari seluruh pegawai DJP. Apalagi jika diberikan amanah menjadi eselon II atau I, dia harus memiliki seluruh strategi yang ada secara berjenjang mulai dari pengalaman di lapangan serta kepemilikan teori dan knowledge yang cukup. Sifat amanah, itu kembali kepada kesungguhan orang untuk takut kepada Allah, tidak memperjual belikan ayat Allah untuk kepentingan dunia, dan tidak takut dengan ancaman manusia. Tiga kriteria inilah yang Allah jadikan standar bagi setiap orang yang menjadi penentu hukum bagi masyarakat.

Jabatan yang ada di DJP secara umum merupakan  jabatan karir, artinya siapapun memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mendudukinya. Sehingga, manakala kesempatan itu ada, seorang yang memiliki pengalaman yang lebih di lapangan ditopang dengan ketrampilan di bidang komunikasi dan negosiasi serta dicukupkan dengan teori ilmu, dia akan lebih memiliki nilai tambah dan nilai lebih daripada seorang yang hanya  memiliki ilmu yang cukup serta ketrampilan di bidang komunikasi dan negosiasi tapi minim pengalaman strategi di lapangan (instansi vertikal).

Tiga hal itu, makna tersirat dari sebuah proses promosi dan mutasi yang ada di DJP. Momentum promosi dan mutasi ini adalah media yang tepat untuk mendata secara mendetail siapa sebenarnya diri kita. Apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini, apakah yang paling sering kita pikirkan dalam hidup ini, dan apa yang sebenarnya ingin kita raih dalam kehidupan dunia ini.
Oleh sebab itu marilah segala potensi dan kemampuan yang kita miliki sebagai pegawai DJP, kita dayagunakan semaksimal mungkin, agar hidup dan kehidupan kita akan lebih bermakna bagi diri, kantor, DJP dan bangsa Indonesia yang pada akhirnya di akhirat kelak akan beroleh kebahagiaan yang lebih hakiki, dan lebih permanen. Wallahu ‘alamu bishawab.



__________________________________
S. Sentot Wardoyo
KPP Pratama Muara Teweh


S. Sentot Wardoyo 8729584732845545695

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan