Loading...

Ayat-ayat Kepiluan

Dini hari yang masih alpa dari fajar pagi, kota mungil itu digemparkan oleh lengkingan pilu suara orang membaca Al-Qur’an. Tak ada yang ta...

Dini hari yang masih alpa dari fajar pagi, kota mungil itu digemparkan oleh lengkingan pilu suara orang membaca Al-Qur’an. Tak ada yang tahu asal-usul suara. Semuanya telah diperiksa. Semuanya telah mengaku tidak ada yang membaca ayat-ayat suci itu.

“Apakah ini suara Tuhan?”

“Betul. Ini suara Tuhan!”

“Apakah Tuhan bisa bersuara? Bahkan dengan nada sepilu ini?” ungkap seorang mahasiswa yang baru saja tes skripsi.

“Bisa jadi.”

“Ah, tidak mungkin. Ini jelas-jelas suara manusia. Kita harus bersungguh-sungguh mencari orangnya. Mengganggu orang tidur saja.” teriak kepala desa.

Namun ketika hendak dicari kembali, suara itu pelan-pelan luruh. Pelan-pelan hilang seperti kesiur angin. Dan fajar di ujung timur muncul dengan warna kuning.

**

Ji Saleh sering sekali menemukan botol-botol bekas minuman keras di teras masjid bila menjelang subuh. Botol-botol itu berserakan tak karuan. Kalau tidak empat ya tiga botol. Tidak jarang pula ada kulit kacang yang sangat banyak jumlahnya. Sehingga tidak memungkinkan untuk dihitung. Putung rokok, plastik-plastik jajan, dan lain-lain sebagainya.

Sebagai ta’mir masjid yang baik, Ji Saleh membersihkan serakan sampah-sampah itu dengan segenap hati. Tanpa dendam apa-apa. Sesekali menggumam, tapi tetap tanpa dendam.

“Anak muda jaman sekarang. Sudah tidak lagi memikirkan agama Tuhan.” Suara itu terdengar lirih. Sebagaimana lirihnya ia berdo’a kepada Tuhannya.

Nah, kisah ini benar-benar dimulai ketika Ji Saleh terlambat berangkat ke masjid. Padahal jarak antara rumahnya dekat sekali. Sekitar seratus limapuluh meter kalau dikalkulasi secara rinci. Entah kenapa. Waktu itu memang Ji Saleh tidak seperti biasanya. Matanya bengkak dan merah. Tubuhnya kelihatan semakin ringkih seperti gubuk yang sudah terlalu lama dipanggang matahari diterjang hujan. Tetapi Ji Saleh tidak sakit. Jalannya masih cepat dan cekatan seperti biasa. Barangkali saja ia terlalu lama tidur. Sudah itu saja.

Sampai di masjid, Ji Saleh bingung melihat kerumunan banyak orang. Dan ia kenal betul orang-orang itu. Ada apa? Pikir Ji Saleh. Apa karena ada kabar bahwa masjid ini akan digusur untuk dipindahkan ke dekat persawahan?

Saking ributnya orang, kehadiran Ji Saleh bahkan tidak ada yang menggubris. Ia mendengar gumaman banyak orang. Astagfirullah… astagfirullahaladzim… innalillah… innalillahi wainnailaihirooji’uun…. Orang-orang  banyak yang geleng-geleng kepala dan tanganya mengelus dada. Bahkan ada yang menitikkan air mata. Sesungguhnya, ini memang sudah keterlaluan.

Di sana. Ya, di sana. Botol-botol minuman keras berserakan. Kulit kacang, putung rokok, plastik jajan dan sebagainya berserakan tak karuan.

“Orang-orang biadab! Ini masjid. Ini tempat suci. Tidak pantas sama sekali digunakan mabuk-mabukan. Pasti ini ulah Khufy si keparat itu!” Terdengar suara keras Beddig. Orang yang jarang sekali berjamaah, dan mungkin saja jarang sekali sholat itu matanya melotot. Ia marah. Seolah-olah hatinya terbakar bara yang terpercik dari neraka.

“Ya, orang jaman sekarang. Sudah jarang mau diajak berjama’ah, malah tingkahnya kayak begini. Ini sudah keterlaluan!” Surowiti menimpali. Perempuan lansia sekaligus rajin berjama’ah akhir-akhir ini itu muntab. Badannya gemetar seperti saat melihat kilat.

“Kalau terus-terusan seperti ini, bisa-bisa dunia cepat kiamatnya. Pendidikan di negeri ini memang jarang sekali yang mengajarkan moral. Paling-paling cuma menggelapkan sejarah saja. Benar-benar keterlaluan!” ucap seorang mahasiswa yang baru selesai skripsi dan sering numpang tidur di masjid tapi jarang jama’ah itu.

Ji Saleh mengelus dada. Bukan karena melihat sampah-sampah berserakan itu. Tetapi karena kesal dengan orag-orang yang tak lekas membersihkannya. Malah cuma marah-marah sambil memuntahkan sumpah serapah tak karuan. Seperti serakan sampah itu, tak karuan.

Sebagai imam masjid, sekaligus ta’mirnya, Ji Saleh maju dan membersihkan tanpa bicara apa-apa.

“Ji Saleh?” pekik salah satu orang terkejut.

“Kenapa Ji Saleh baru datang? Masjid ini sudah najis. Masjid ini sudah dikotori orang-orang biadab. Kenapa Ji Saleh terlambat?” orang yang diajak bicara itu hanya diam. Memunguti botol-botol, menyapu putung rokok, kulit kacang, plastik bungkus jajan, dan sebagainya dengan tenang. Lalu berjalan dan semua itu ia buang.

“Ayo, kita shalat!” kata pertama pagi hari itu dari mulut Ji Saleh. Semua orang terdiam. Terdiam dengan sedikit keheranan. Keheranan dengan sedikit kebingungan. “Sudah ada yang adzan?” tambahnya. Semua orang kini menggelengkan kepala. Akhirnya, Ji Saleh masuk ke dalam masjid. Mengumandangkan adzan yang sama sekali belum pernah orang mendengarnya seperti itu. Sungguh-sungguh pilu. Kau pernah dengar lengkingan biola Idris Sardi dalam instrumen Gugur Bunga? Ya, seperti itulah kira-kira lengkingannya.
 **

Kalaulah Ji Saleh tidak terlambat hari itu, mungkin saja nasib jama’ahnya tak akan seperti ini. Orang-orang semakin sepi. Di hari demi hari. Dan Ji Saleh tahu betul apa yang tengah terjadi.

“Sudahlah Ji. Ini bukan semata-mata salahmu, kok.” Desis pak tua yang akrab sekali dengan panggilan Tad Soheb itu di pagi yang biasa. Artinya pagi yang masih menyisakan embun, memanggil matahari, menyejukkan tempat tidur, dan menyambut kokok ayam.

“Masalahnya bukan itu, Tad. Orang-orang sebelumnya tidak ada yang tahu kalau masjid ini hampir tiap hari digunakan mabuk-mabukan.” Ji Saleh dengan daya upaya akan menjelaskan.

Ya, memang sebelumnya orang-orang tidak pernah tahu kalau masjid itu sering digunakan mabuk-mabukan. Karena sebelum orang-orang datang untuk menunaikan shalat subuh, Ji Saleh sudah membersihkan semuanya. Semuanya tanpa sisa. Tanpa dendam, tanpa kata-kata.

Hanya, ia sering sekali bercengkrama dengan para pemabuk itu. Bahkan saking seringnya, ia kenal nama-nama mereka. Dul Goleb, pemabuk akut yang usianya melampaui batas muda. Cok Pintal, pemabuk kelas teri. Ia baru saja memulai kehidupan kelam itu. Yang paling parah adalah Khufy. Selain karena putra seorang kiyai, ialah yang sering membiayai. Dan tiga orang lainnya yang tidak perlu panjang lebar diterangkan semuanya.

Ji Saleh tidak langsung melarang mereka. Tetapi pelan-pelan dengan pendekatan. Ia kadang mengajak mereka berjama’ah. Tetapi mereka menolak dengan memilih pergi sebelum subuh tiba. Ji Saleh tak mengapa. Ia masih punya asa tanpa menyakiti hati mereka.

“Surowiti tak ingin lagi shalat di masjid ini. Katanya di sini sudah najis. Sudah tidak bisa digunakan tempat shalat.”

Ji Saleh memilih diam dan merenungi—yang menurut dirinya sendiri sebagai—kesalahan. Kesalahan yang sangat-sangat fatal.

“Beddig malah kini tak nampak sama sekali batang hidungnya. Dan orang-orang kebanyakan juga seperti Beddig.”

“Ya, sekarang yang subuh berjama’ah tinggal lima orang. Itu pun tua renta semua. Entah esok hari sudah tidak lagi menghirup udara atau masih.” Tad Soheb terus dan terus berbicara hingga matahari hampir tiba. Hingga Ji Saleh pun merasa lelah mendengarnya.

Ji Saleh tampak pucat wajahnya. Konon, di zaman seperti ini seruan tentang iman akan jarang dihiraukan ketimbang pasar malam. Dan malangnya, Ji Saleh hidup pada zaman seperti ini.

“Kita bakar saja masjid ini. Gimana?”

Ji Saleh tercekat.
**

Sudah sepuluh hari lebih suara pilu itu melengking tiap dini hari. Mengganggu orang tidur, orang berkencan, orang berpelukan, orang yang pokoknya hendak menuai kenikmatan. Lengkingannya bahkan semakin hari semakin pilu. Seperti biola tensi tinggi.

Orang-orang sekarang sebenarnya tahu pusat suara itu dari arah masjid. Tetapi mereka tak hendak ke sana. Sama sekali tak hendak ke sana. Mereka khawatir dikecewakan lagi. Mengingat setiap kali masjid di datangi, lengkingan ayat-ayat pilu itu jadi sepi.

“Adakah itu suara Ji Saleh?”

“Mungkin saja. Ia sudah meninggal sepuluh hari yang lalu. Barangkali itu rintihan hatinya.”

“Ya, mungkin saja.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Ji Saleh kan sudah tua. Ini suaranya masih anak muda. Suara Ji Saleh tak sehalus ini.”

“Benar juga kamu. Lantas ini suara siapa?”

“Ya, ini suara siapa kalau begitu?”

“Ah, peduli amat. Yuk, kita tidur lagi.”

Maka, seiring berjalannya waktu. Suara lengkingan pilu ayat-ayat Al-Qur’an itu mulai tidak dihiraukan. Orang-orang membiarkan semuanya terjadi ya terjadi begitu saja. Kemarin memang terasa mengganggu. Tetapi lama-lama sudah tidak lagi. Suara itu dianggap angin lalu.

Sampai kini, di kota mungil itu masih terdengar lengkingan pilu. Orang-orang tidak tahu kalau itu suara Khufy, si pemabuk berat, yang kehilangan Ji Saleh. Ia terus mengumandangkan Al-Qur’an dengan nada pilu sambil menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa. Memang seperti ada sebuah satir yang menghalangi. Jika orang-orang hendak melihatnya, suara Khufy berhenti dan tubuhnya tidak terlihat sama sekali.

Khufy sungguh-sungguh seperti orang yang sangat menyesal di dunia. Ia sebenarnya ingin mengajak orang-orang kembali berjama’ah shalat. Tetapi…

**



__________________________________________
*Daruz Armedian, adalah nama pena dari Ahmad Darus Salam santri Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari ini lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Jejak Imaji. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media massa lokal maupun nasional sekaligus tubuhnya pernah berjualan koran lokal maupun nasional.

Hikmah 2385593167416123440

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan