Loading...

Batubata

Seseorang menulis, 'Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam; bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk menj...

Seseorang menulis, 'Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam; bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantunkan kebaikan di antara bunga; menebar keindahan pada dunia'.

Dia melanjutkan 'Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri; bercecabang mengapai langit, membagi buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi'.

Bagi saya, belum pantas kita menyebut semua ini bak kupu-kupu. Atau pohon tinggi. Terlalu cepat. Ini masih kepompong. Ini masih biji yang masih dekapan sunyi. Belum apa-apa dalam konteks kebangkitan Islam. Masih pendek dalam tatapan sebuah peradaban.

Presiden, menteri,dirjen, direktur, kepala anu, pesohor anu, atau penggusaha anu itu sama sekali bukan kupu-kupu.

Katakan bukan, agar panjang pandangan kita. Agar selalu masih tersisa cita-cita. Agar tetap terus mengerti bahwa masih banyak yang harus dilakukan atau diperbaiki.

Bukan kita yang harus mendefinisikan.

Kalau kita sebut ini kupu-kupu dan dunia harus bertepuktangan yang meriah, generasi setelah kita akan kebingungan. Anak-anak kita tak punya banyak ruang, kecuali memulai perjuangan dari awal lagi. Kalau kita genit dan menganggap kitalah sang kupu-kupu itu, jangan heran jika anak-anak akan kebingungan karena tidak ada ruang lagi menuju kesempurnaan. Dan perjuangan dimulai lagi dari awal.

Padahal, perjuangan ini harus terus dan berlanjut.


Batu bata.
Memang tak seindah kupu-kupu. Mungkin.

Kita cuma meneruskan yang terdahulu. Dan kita cuma meletakkan arah dan pola untuk generasi dakwah yang akan datang.

Bukan kupu-kupu dan bukan pohon tinggi. Cuma batubata.

Mohon maaf. Anggap saja ini penyeimbang. Anggap saja sudut pandang yang lain. Yang mungkin ada benarnya. Agar tak melankolis dan mendefinisikan kesempurnaan. Agar tidak mudah tercipta generasi yang takjub pada pencapaiannya sendiri. Agar tidak mudah tercipta generasi yang mudah berpuas diri dan berbangga diri.

Nafas panjang. Perjuangan Islam adalah perjuangan bernafas panjang.

Aspek-aspek Islam telah terurai satu per satu dalam rentang waktu yang lebih lama dari umur biologis kita. Merangkainya lagi, rasanya, membutuhkan masa yang panjang.

Tidak ada yang benar-benar keluar bak kupu-kupu, kecuali atas pertimbangan untuk mengangkat moral kita.

Tak perlu terlalu merasa kupu-kupu. Jangan cepat merasa pohon tinggi. Agar generasi setelah kita tetap tertatap indah. Dan agar mereka masih punya ruang menuju kesempurnaan. Mungkin, sesekali, pandanglah kita seperti batubata.

Mungkin.




___________________________________________
Eko Novianto Nugroho
Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan





Inspirasi 3118452423308308404

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan