Loading...

Kami Anak-Anak Abi Juga Ikhlas Memberikan Yang Terbaik

Namaku Muhammad Salman Abdullah Ayyasy, umur 14 tahun, dan saat ini duduk di kelas 3 di sebuah SMP Islam Terpadu di Bandung Barat. Aku in...

Namaku Muhammad Salman Abdullah Ayyasy, umur 14 tahun, dan saat ini duduk di kelas 3 di sebuah SMP Islam Terpadu di Bandung Barat. Aku ingin menceritakan pengalamanku dan adik-adikku mendukung pengabdian abi dalam bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Sejak aku lahir abiku sudah bekerja di DJP, artinya sejak itulah aku dan adik-adikku harus ikut kemanapun abi pindah bekerja dari satu ke kantor ke kantor lain. Tidak sesederhana yang dibayangkan untuk sekedar pindah rumah dan sekolah atau saat mendengar keputusan keluarga untuk berjauhan seminggu sekali dengan abi.

Menurut cerita umi, pengalaman pertamaku ikut pindah adalah sejak aku umur 3 tahun saat aku dan ummi harus ikut pindah ke Bandung di tahun 2003 karena abi mendapatkan tugas belajar di ITB selama 18 bulan. Saat itu gaji abi kurang lebih 1,5 juta rupiah per bulan dan tidak cukup untuk bisa membayar sewa rumah kontrakan di dekat kampus dengan harga rata-rata 10 juta-an per tahun. 

Akhirnya abi memutuskan untuk mengontrak rumah di daerah pinggiran kota Bandung dengan harga hanya 3,5 juta rupiah per tahun. Karena lingkungan rumah kontrakan adalah daerah sangat padat dan dekat anak sungai Cikapundung yang kadang meluap, konsekuensinya adalah kesehatan lingkungan yang harus dipertaruhkan. Akibatnya selama kami menghuni rumah kontrakan tersebut, aku jatuh sakit 2 kali dan dirawat di rumah sakit. Aku sakit muntaber dan typus, yang setelah aku duduk di SMP baru aku tahu bahwa kedua penyakit itu biasa berjangkit di daerah padat dengan lingkungan tidak sehat. 

Alhamdulillah abi bisa membayar biaya rumah sakit karena separohnya ditanggung asuransi Askes abi sebagai PNS. Untuk bisa bertahan di sisa waktu kuliah, abi memutuskan untuk memberikan suntikan imunisasi anti typus untukku dan alhamdulillah sakitku tidak kambuh lagi. Kami bersyukur karena dari 18 bulan waktu yang disediakan kantor abi ternyata oleh abi hanya ditempuh 15 bulan dan kami bisa lebih cepat meninggalkan rumah kontrakanku. 

Hal itu didukung oleh karena abi berhasil lulus kuliah pertama kali dari 25 orang teman abi dari DJP yang dikirim DJP di angkatan pertama di ITB. Meski lingkungannya kumuh ternyata tetangga sekitar rumah kontrakan sangat baik. Abi dan umi menjalin hubungan bermasyarakat cukup baik. Abi mendirikan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di masjid dekat rumah dengan murid tidak kurang dari 60 anak. Di antara para murid TPA adalah anak-anak jalanan yang biasa ngamen, berjualan dan mengemis di perempatan Jl. Gatot Subroto Bandung. 

Menurut umi, abi juga aktif di lingkungan RT dan RW untuk membantu masyarakat. Tercatat abi pernah menjadi anggota KPPS saat Pileg 2004 di lingkungan tempat tinggalku. Abi juga pernah ditawari untuk menjadi ketua RT setempat tetapi abi menolaknya karena sudah mau pindah rumah ke Bekasi lagi. Abi juga pernah dua kali memfasilitasi kegiatan bakti sosial di lingkungan RW dengan program sunatan masal untuk 100 orang, pemeriksaan kesehatan gratis dan sembako murah. Saat kami pindahan rumah, Alhamdulillah banyak sekali tetangga yang mengantar dan membantu kami. Mereka ikhlas membantu abi berkemas baran-barang yang mau dibawa pindah. Belakangan aku tanya ke abi mengapa abi harus repot terjun aktif di lingkungan padahal abi hanya ngontrak rumah dan dijawab oleh abi bahwa di manapun langit dipijak, disitu langit dijunjung dengan ikhlas. Akupun jadi mengerti makna ikhlas untuk mendampingi abi termasuk di Bandung meski harus sakit beberapa kali. 

Awal tahun 2005 alhamdulillah kami bisa kembali lagi ke rumah Bekasi dan meneruskan sekolah TK Nol Besar-ku di Bekasi. Artinya aku punya dua almamater TK, di Bandung dan Bekasi. Di rumah sendiri di Bekasi aku serasa kembali ke habitatku. Lingkungan komplek cukup sehat dan pergaulan teman-teman pun cukup baik. Setelah lulus TK Nol Besar aku masuk SDIT di komplekku. Di sekolah itu aku merasa nyaman belajar. Lagi-lagi abi menerapkan prinsipnya, dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung dengan ikhlas. Abi menjadi pengurus bermacam-macam organisasi sosial antara lain sekretaris RW merangkap sekretaris RT dan sekretaris DKM. Abi juga menjadi ketua paguyuban 9 DKM masjid se-komplek perumahanku. Abi juga membimbing karang taruna dan menjadi ketua paguyuban perantau asal kampungnya Klaten di Jabotabek. Masya Alloh, abi begitu sibuknya jika sudah di rumah sepulang kerja. Kami harus ikhlas dan memakluminya karena jika tidak, maka kerja abi akan sia-sia tanpa memperoleh pahala dari alloh SWT. 

“Mimpi buruk” datang lagi seusai ujian semester pertama duduk di kelas dua SD dengan terbitnya SK kepindahan tugas abi ke Cimahi. Waktu itu aku sudah punya komunitas yang baik di antara teman di sekolah dan di lingkungan rumah, sehingga untuk pindah dan penyesuaian di sekolah dan rumah yang baru terasa sulit kami terima sebagai anak-anak abi. Akupun terpaksa ikut pindah ke Cimahi dan didaftarkan di SDIT baru di kota itu. Tidak sesederhana yang dibayangkan orang lain, ternyata aku agak sulit menyesuaiakan dengan lingkungan sekolah yang baru. Tercatat selama 2 bulan aku tidak aktif sekolah di Cimahi. Yang aku rasakan adalah hanya rasa enggan ke sekolah. Saat pagi hari aku malas bangun tidur. Jika sudah bangunpun aku malas untuk mandi meski umi harus pusing mengejar-gejar aku untuk sekolah. Sehabis mandi pun aku malas untuk berangkat dan harus ditarik-tarik untuk diantar umi ke sekolah. Aneh memang, saat itu aku memang merasa malas, enggan, dan takut untuk sekolah. Sesampai di sekolah pun aku mogok masuk halaman sekolah dan setelah sampai di depan kelaspun aku ngotot tidak mau masuk kelas. Kejadian itu berulang tiap pagi dan berkesudahan dengan harus pulang lagi alias tidak bersekolah. Masya Alloh, apa yang terjadi saat itu ya, aku sendiri tidak habis pikir. Setelah aku beranjak agak besar baru menyadari bahwa inilah resiko anak seorang PNS yang harus pindah-pindah tugas dan rumah. Aku harus iklhas menerimanya.

Alhamdulillah di bulan ketiga aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan rumah di Cimahi. Singkat cerita sampai dengan aku menginjak kelas 2 SMP dan ujian itu datang kembali, abi pindah tugas lagi ke Jakarta di tahun 2013. Kata abi Alhamdulillah rumah Bekasi belum dijual sehingga masih bisa ditempati lagi. Kepindahan abi lagi-lagi di pertengahan tahun ajaran sehingga kepindahan sekolah agak sulit. Tidak seperti waktu pindah ke Cimahi, abi memutuskan untuk memindahkan sekolah kami (aku dan adikku) di awal tahun ajaran baru. Abi mencarikan sekolah SDIT untuk adikku dan SMPIT yang berokasi tidak jauh dari rumahku di Bekasi dan bisa ditempuh dengan jalan kaki saja. Akan tetapi sampai pada jatuh tempo masuk sekolah ternyata aku dan adikku berubah pikiran dan memutuskan untuk tetap bersekolah di Cimahi saja. 

Aku sudah besar sekarang dan aku semakin banyak hal yang harus aku pertimbangkan untuk pindah lagi Bekasi. Akhirnya abi mencabut pendaftaran sekolah di Bekasi dan harus kehilangan jutaan rupiah atas uang pendaftaran dan uang sekolah yang telah dibayarkan. Wah aku bayangkan seandainya uang itu tidak perlu dibayarkan ke sekolah di Bekasi, maka bisa aku minta untuk dibelikan motor yang sudah aku idam-idamkan. Yaah, aku harus ikhlas menunda mendapatkan motor baru. Apalagi satu-satunya motor di rumah kami saat itu ternyata dibawa abi ke Jakarta untuk transportasi PP kerja di Jakarta. 

Kini kami harus berpisah dengan abi setiap Senin sampai Jumat. Hari Senin dini hari adalah hari yang terasa ilfil bagi kami karena harus mengantar abi berangkat ke Jakarta. Ada seremoni rutin setiap Senin dini hari saat abi biasa membisikkan kata-kata pamitan ke kedua adikku : dik, abi berangkat ke Jakarta, doain ya, dan adikku yang paling kecil pasti langsung bangun dan menangis. Uniknya abi suka menggoda adikku yang paling kecil saat ia masih tertidur di hari libur pagi hari dengan membisikkan kata-kata pamitan sebagaimana Senin pagi dan lagi-lagi adikku langsung terbangun dan menangis. Kami tiga bersaudara, aku lahir di Jakarta, adikku pertama lahir di Bekasi, dan adikku kedua lahir di Cimahi. 

Ya, kami sekarang sudah terbiasa dalam dua tahun terakhir untuk berjauhan dengan abi. Setiap hari libur kami manfaatkan untuk menjaga kebersamaan di antara keluarga. Kami harus ikhlas demi tugas yang harus diemban oleh abi. Aku tahu bahwa tugas abi berdampak pada nasib bangsa dan negara karena pajak merupakan komponen terbesar penerimaan negara dalam APBN. Kami berdoa terus untuk abi semoga selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemampuan untuk bisa menjalankan tugas di kantor dengan baik, meski harus berjauhan seminggu sekali. Kami yakin, jauh di mata, dekat di hati. Semoga Aloh selalu bersama kita.

Ditulis oleh Muhammad Salman Abdullah Ayyasy, dengan bantuan informasi dari umi.



______________________________
Muhammad Salman Abdullah Ayyasy
Anak Pegawai DJP
Cita-Cita : Menjadi Pilot






Muhammad Salman Abdullah Ayyasy 4723907606586763166

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan