Loading...

Lima Jari

Sosok Kantor Pelayanan Pajak duduk menyepi. Teriknya kota tak mampu membuat keringat keluar dari tubuhnya. Senyum mengembang. Siulan pun te...

Sosok Kantor Pelayanan Pajak duduk menyepi. Teriknya kota tak mampu membuat keringat keluar dari tubuhnya. Senyum mengembang. Siulan pun terdengar riang. Lalu lalang kendaraan tak membuatnya mengalihkan pandang. Pada satu titik yang selalu bisa ia banggakan kepada sesama rekan pejuang. Kelima jari tangan yang selalu bisa menyempurnakan puzzle terserak yang berkeping. 
Menjadi goresan utuh penuh makna. 

Sarkedi, Sarkeju, Sarkeris, Sarkeson, dan Sarkejar. Begitulah ia memberi nama kelima jarinya. Nama yang mungkin tak jamak terdengar. Tapi nama-nama itulah yang seringkali disebut dalam ceracau ketika ia terjaga. Sungguh beruntungnya kita, karena dalam kesempatan ini, ia ingin berbagi kisah nyata tentang lima jarinya itu. 


Kaki Sarkedi melangkah. Menuju beberapa ruang ‘anak-anak’nya. Mendengarkan kisah yang kebanyakan malu untuk diutarakan. Bukan karena topik yang tak pantas, tapi lebih karena struktur sungkan yang secara tak sadar muncul. Maklum Sarkedi, mempunyai jabatan paling tinggi dalam tubuh Kantor Pelayanan Pajak. Namun, semakin lama rasa sungkan itu semakin terkikis. 
Sarkedi pun hanya menganggap jabatannya sebagai amanah, bukan sebagai penghalang yang bisa membatasi interaksinya. Curahan yang Sarkedi dengar, beberapa kali menjadi pertimbangan keputusan, terutama jika terkait keharmonisan antara anggota tubuh Kantor Pelayanan Pajak. Tak hanya itu, Sarkedi juga beberapa kali memberikan kontribusi nyata untuk tercapainya tujuan kantor. Beberapa kali berupa materi, beberapa kali berupa kebijakan, beberapa kali berupa sikap yang ia teladankan kepada anak-anaknya. 


Sketsa lain, Sarkeju duduk di kursi petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Beberapa mata memandangnya heran. Maklum ia adalah atasan langsung dari para petugas TPT. Kesediaannya untuk bisa membantu dan berbaur dengan para ‘bawahannya’ merupakan contoh yang patut ditiru oleh para ‘atasan’ lain. Sarkeju tak sungkan menerima surat wajib pajak bahkan memberikan konsultasi kepada wajib pajak ketika para petugas TPT –yang tak terlalu banyak jumlahnya, kewalahan memberikan layanan kepada Wajib Pajak. 

Meskipun demikian, Sarkeju tak lantas melupakan pekerjaan utamanya sebagai seorang kepala seksi. Tentang fungsi koordinasi, tentang fungsi delegasi, tentang fungsi evaluasi, hingga fungsi keteladanan. Tentang keteladanan, baginya keteladanan mampu diberikan dengan memberikan contoh nyata laku yang diharapkan bisa menjadi kebiasaan sikap setiap stafnya. 


Ruang yang berbeda, Sarkeris sibuk memberikan layanan kepada anak-anak berpakaian putih abu-abu. Beragam pertanyaan yang kadang berulang kali ditanyakan, dijawabnya dengan sabar. Menjelaskan satu-persatu hingga nampak anggukan mantap dari sekelompok bocah yang beranjak dewasa itu. Melayani pertanyaan anak-anak SMA merupakan hal yang seringkali dihindari oleh kebanyakan Account Representative. Maklum, ada target yang lebih diutamakan, mencapai target penerimaan pajak. 

Disamping menjalankan kewajiban utamanya, Sarkeris juga acapkali diberikan tugas untuk menunjang kegiatan insidentiil kantor. Desain grafis bukanlah keahlian yang umum dimiliki oleh pegawai pajak. Amanah membuat desain back drop, stand up banner, poster, kaos, pin, mug, hingga piagam penghargaan, pun dilakukan dengan senang hati, tanpa lembar rupiah sebagai imbalan. Setelah jam kerja usai. Kisah unik lain dari Sarkeris adalah setelah ia pindah kantor, ada beberapa wajib pajak yang tetap berkonsultasi padanya. Meskipun bukan menjadi wilayah kerjanya, Sarkeris tetap melayani dan tetap meneruskan informasi kepada Account Representative dari wajib pajak tersebut. 


Di tempat lain, sebuah meja kerja terlihat berantakan. Kertas berserakan. Tak teratur. Sarkejar sibuk dengan tuts-tuts komputer yang bergantian mengeluarkan suara. Tugasnya sebagai salah satu ‘pelayan’ bagi pegawai lain memang tidak bisa dikatakan mudah. Bagian tempat ia bekerja adalah tempat dimana kepuasan internal pegawai menjadi tujuan. Pengadaan barang-barang kebutuhan kantor hingga masalah gaji dan tunjungan pegawai adalah pekerjaan sensitif yang harus segera diselesaikan. 
Sarkejar pun tak jarang lembur untuk menyelesaikan beragam pekerjaan yang menumpuk. Lembur yang tak ingin disebut lembur pun sering dilakukan. Pulang dini hari bahkan menginap di kantor pun pernah sesekali dilakukan. Demi menyelesaikan kepentingan kantor. Sarkejar melakukannya dengan senyum. Baginya semua itu adalah amanah. 


Kantor Pelayanan Pajak lalu terbesit pada kisah lama. Pada sosok yang lama tak menjadi bagian tubuh, namun begitu berarti karena kontribusinya. Sarkeson sudah lama pindah ke kantor lain. Sosoknya sebagai petugas front liners menjadi wajah bagi kantor. Front liners bukan lah posisi favorit bagi para pelaksana di lingkungan kerjanya. Maklum, disamping dituntut memberikan layanan pertama kepada wajib pajak yang datang, para petugas pun dihimbau untuk mempunyai pemahaman pajak yang memadai. 

Waktu istirahat yang kadang hanya 15 menit pun menjadi rutinitas. Tak seperti pegawai lain yang bisa pulang sejenak, atau sekedar ‘ngadem’ di mushola hingga waktu istirahat usai. Sarkeson harus stand by di tempat. Rasa iri sempat terbesit. Sarkeson juga manusia. Perlahan perasaan itu hilang, karena ia berusaha memahami bahwa ini adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan semua upaya maksimal yang ia miliki..


Ibarat sebuah tangan, mereka –Sarkedi, Sarkeju, Sarkeris, Sarkejar, dan Sarkeson–  adalah jari-jari yang mau bekerja di luar kebiasaan para pegawai lainnya. Lalu apa yang mereka dapatkan? Mengeluhkah mereka? Mereka melakukan dengan senyum. Membiarkan Dzat yang Maha Adil menilai apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka amanah merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan ikhlas. Sikap ikhlas yang ditujukan dengan kerja nyata, kontributif, dan penuh inisiatif, sebagai bentuk rasa syukur telah diberi kesempatan bekerja pada institusinya. 

Sosok Kantor Pelayanan Pajak merenung, menyimpuhkan badan diatas batu. Teringat firman-Nya. 
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Sesembahan semesta alam” (Q.S Al-Muthaffifin: 1-6) 

Tidak malukah jika kita termasuk dalam golongan orang curang diatas? Apalagi jika kita sering tidak memanfaatkan waktu kerja secara maksimal, dengan melakukan aktivitas yang tidak seharusnya dilakukan di saat jam kerja. Kita pun perlu meniru apa yang dilakukan lima jari luar biasa yang dimiliki sosok Kantor Pelayanan Pajak, dengan bertanya pada diri. Benarkah, jumlah rupiah yang masuk dalam rekening pribadi tiap bulan, pantas kita dapatkan? Bagaimana dengan kerja kita? Sudahkah mengabdi dengan penuh rasa syukur? 





________________________________________
Hasan 
KPP Pratama Mempawah 

Hikmah 3527894997653425712

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan