Loading...

Mencela

Secara bahasa, Cela adalah sesuatu yang membuat tak sempurna, aib, cacat, kekurangan, noda, hinaan, kritik, atau kecaman. Mencela memiliki a...

Secara bahasa, Cela adalah sesuatu yang membuat tak sempurna, aib, cacat, kekurangan, noda, hinaan, kritik, atau kecaman. Mencela memiliki arti mengatakan bahwa ada celanya, mencacat, mengecam, mengkritik, atau menghina.

Tidak ada alasan untuk mencela. Mencela adalah aktivitas yang dibimbing nafsu, ditemani setan, beralamat akhir ke neraka, dan ditatap dengan ketidaksukaanNya.

Kalau anda muslim, Allah telah menunjukkan ketidakberesan aktivitas mencela.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan  melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami
jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
(QS AL An'am:108)".

Allah melarang hambaNya mencerca, atau mencaci penyembahan orang lain. Allah swt. Jika kita berkeras hati untuk membenarkan keinginan dan kebiasaan mencela, mungkin kita perlu tuhan lain untuk membenarkan kesukaan mencela agama lain.


Jika soalnya tentang kebenaran, Islam jawabannya. Tapi Islam tak meminta kita memaksa orang lain untuk memeluk Islam. Islam adalah agama yang benar, tapi kewajibaan kita cuma menyampaikan,tidak dengan paksaan apalagi dengan celaan.

Ummat agama lainnya cuma perlu diajak kembali ke titik pertemuan yaitu kalimah persamaan; Menyembah Tuhan yang Maha Esa dan tidak mempersekutukannya dengan apapun juga.

Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". " (Q.S.al_Imran:64)

Tidak ada arahan mencela.

Akhirnya, "untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."  (Q.S. Al Kaafiruun: 6)

Jika pada ummat lain, tak ada celah untuk mencela, bagaimana kita membenarkan diri untuk mencela muslim lain yang ada di organisasi lain atau ada di pilihan yang berbeda?

Bagaimana kita akan membenarkan?

Lana a'maluna wa lakum a'malukum. Bagi kami, amal kami. Bagimu, amalmu.

Dunia sedang mempermudah olok-olok, mencela, atau menghina. Dunia menyediakan fasilitas untuk itu. Banyak ahli sedang bekerja agar aktivitas itu mudah, nyaman, efektif, dan efisien untuk dilakukan.

Cuma kita yang bisa melawan dengan serius. Tak perlu bangga jika cuma meng-upload ejekan. Ndak perlu berbesar hati jika makian kita dijempoli ribuan orang. Tak perlu pingsan jika hinaan kita di-share ratusan orang atau lebih.

Karena mencela tak pernah beranjak dari daftar aktivitas negatif. Itu saja.



________________________________
Eko Novianto Nugroho
Direktorat Potensi, Kepatuhan dan Penerimaan



Hikmah 6696086271815511404

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan