Loading...

Berjilbab Untuk Menikah

“Bagaimana dia bisa begitu mudah menutup aurat dan lebih memilih jilbab sebagai pakaian muslimah?” Pertanyaan semacam ini menari-nari...

“Bagaimana dia bisa begitu mudah menutup aurat dan lebih memilih jilbab sebagai pakaian muslimah?”

Pertanyaan semacam ini menari-nari dalam kepala saya, ketika suatu hari teman saya datang dengan jilbab yang menjuntai indah. Sebuah tampilan busana yang kerap kali membuat saya berdecak kagum, meski saya sendiri belum mengenakannya.

“Wah pakai jilbab, kok bisa?”, tanya saya menyelidik kepadanya.
Dia menyimpulkan senyum lantas berkata,

“Waktu itu aku mimpi, Vier. Di mimpi itu aku dalam posisi sujud, tetapi tidak bisa bangun lagi karna rambut aku tersangkut di lantai.”

Saya sejenak terdiam.

“Dari mimpi itu aku sadar kalau rambutku semestinya ditutupi”, lanjutnya sumringah.

Sebagai sesama perempuan, saya menyambut baik jika teman saya itu memilih menghiasi tubuhnya dengan jubah kemuliaan muslimah. Hanya saja saya tidak mengira, keputusannya itu berawal dari sebuah mimpi yang boleh jadi bagi sebagian orang hanyalah kembang tidur, tidak lebih.

Apakah itu adalah hidayah?

Ah, sungguh saya tidak mengerti. Sedangkan di sisi lain, saya lebih memilih untuk mengenakan jilbab nanti saja setelah menikah. Jujur, saya takut ketika saya belum menikah dan mengenakan jilbab tidak ada lelaki yang akan suka lagi kepada saya, alasan klasik bukan?

Bulan-bulan berlalu, dan perbincangan singkat saya dengan teman saya itu hampir terlupakan. Hingga suatu hari dia hadir menemani saya ketika lelaki yang saya sukai beserta keluarganya datang ke rumah untuk membicarakan prosesi lamaran yang sempat kami bicarakan sebelumnya.

“Akhirnya sebentar lagi saya akan pakai jilbab, Yan”, ujar saya kepada teman saya dengan penuh gembira.

Teman saya itu hanya tersenyum tanda mengiyakan, terlebih ia mengetahui bahwa saya akan mengenakan jilbab jika telah menikah. Hanya lagi-lagi, Allah ternyata punya rencana lain untuk saya.

“Apa tidak sebaiknya lamaran ini dipikirkan kembali?”, kata sang Ibu dari lelaki yang saya suka, tiba-tiba.

Saya dan keluarga tersentak dengan pertanyaan tersebut. Teman saya? Diam membisu seolah mengamini perasaan saya dan keluarga.

“Begini, dua kakaknya Ram adalah perempuan jadi tidak baik jika adiknya mendahului nikah kesannya jadi melangkahi, begitu”, tambahnya tanpa ragu-ragu.

Alhasil, rencana lamaran hari itu batal dan seketika menjelma nyanyian sendu dan menyayat hati bagi saya. Terlebih, niatan saya berjilbab pun ikut meluruh karna waktu menikah pun tidak tahu kapan pastinya.

Memang, suatu hari sang lelaki datang kembali ke rumah seorang diri.

“Aku datang untuk melamarmu, Vier”, pungkasnya berani.

“Menikah itu bukan hanya soal kamu dan Vier, Ram. Tetapi menyatukan dua keluarga dan itu keberkahan”, kata Ayah saya mantap.

Sang lelaki pujaan hati pun pulang dan lagi-lagi harapan saya untuk dilamar olehnya kembali sirna.
Waktu semakin berlalu, kabar sang lelaki yang saya sukai pun kian tak terdengar. Malahan yang terdengar merdu di telinga adalah seorang kawan yang menjadi mualaf karna sering berdiskusi dengan teman saya yang berjilbab itu. Yang lebih mengagetkan sekaligus membuat malu, teman saya yang mualaf tadi langsung memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sedangkan saya? Ah, ya Allah ampunilah saya.

Sering orang mengatakan bahwa hidayah itu bukan ditunggu dengan berdiam diri tanpa melakukan apapun. Ya, saya semakin menyadari akan hal itu. Bertolak dari kejadian-kejadian yang tidak mengenakan yang saya alami, akhirnya saya memutuskan untuk menjemput hidayah itu dan bukan menunggunya.

Hari itu, saya mencoba mengenakan jilbab untuk pertama kalinya di tempat kerja. Memang ada saja yang mengatakan kalau saya lebih cantik kalau tidak berjilbab. Namun, entah karna saya mulai menyadari akan sebuah kewajiban atau mengerti betapa perintah-Nya adalah yang terbaik bagi seorang hamba, maka saya berusaha tegar. 

Yang terbaik dari segalanya adalah kesendirian saya tidak bertahan lama. Beberapa minggu setelah saya memutuskan berjilbab, saya dilamar oleh seorang teman kerja yang begitu shalih dan baik serta memutuskan untuk menikah sesegera mungkin. Masyaallah, meski mungkin saya tidak pantas mengatakan ini, akan tetapi saya bersyukur karna jilbab saya membawa pada nikah, atas izin Allah.



_________________________________
Mas Mochammad Ramdhani
KPP Pratama Manokwari








Mas Mochammad Ramdhani 7552268958812449055

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan