Loading...

Dalamnya Laut Dapat Diukur, Dalamnya Hati Siapa Tahu

Ikhlas.. mudah bagi lisan untuk mengucapkannya namun terkadang sulit bagi qalbu kita untuk mengakui dan menyadarinya. Ikhlas.. sangat ringa...

Ikhlas.. mudah bagi lisan untuk mengucapkannya namun terkadang sulit bagi qalbu kita untuk mengakui dan menyadarinya. Ikhlas.. sangat ringan ketika sesuatu yang kita berikan adalah sesuatu yang kurang atau bahkan tidak begitu berarti. Namun sebaliknya, ikhlas terasa berat ketika yang kita berikan adalah sesuatu yang berarti, sesuatu yang terbaik yang Allah Swt anugerahkan kepada kita.
Ikhlas berasal dari kata akhalasa yang artinya bersih, murni, jernih. Ikhlas berarti menjadikan segala amalan dengan bersih tanpa sedikit pun noda ada padanya. Ikhlas berhubungan erat dengan niat. Niat merupakan tujuan utama amalan seseorang dan bergantung pada niat lah amalan kita diberikan pahala ataupun sebaliknya. 

Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khatab ra, ia telah berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ” Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niyatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasulnya [mencari keridhoannya] maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasulnya [keridhoannya]. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.” (HR Mutafaq ‘alaih). Berdasarkan hadist tersebut, sangat jelas bahwa kita akan memperoleh balasan atas amal yang kita kerjakan bergantung pada niat, apakah niat karena Allah Swt ataukah niat karena selain Allah Swt atau niat duniawi saja. Allah Swt berfirman,“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15). Pada hakikatnya, tujuan utama semua amalan seseorang adalah mardhotillah, mendapatkan ridho Allah, lillaahita’ala. Sebagaimana Allah Swt berfirman yang artinya “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-an’am: 162). 

Niat karena selain Allah Swt salah satunya yakni riya’. Menurut bahasa, riya’  berasal dari kata ru'yah yang artinya menampakkan. Riya adalah menampakkan atau memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia agar orang lain bisa melihatnya kemudian memujinya. Riya’ sangat berbahaya bagi amalan kita, Rasulullah Saw bersabda, “ Maukah kuberitahukan kepadamu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “(HR. Ahmad, hasan). 

Ada sebuah hadist yang patut kita ambil hikmah. Dari Abu Hurairah ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Allah Swt berfirman: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Orang tersebut menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau yaa Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah Swt berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah Swt berfirman: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah Swt berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah Swt berfirman: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya? ‘ orang tersebut menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridhai." Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim no. 3527, an Nasa’i no.3086)

Kita bisa petik hikmah dan jadikan riwayat Nabi Ibrahim as sebagai pelajaran berharga bagi kita berupa sikap keikhlasan memberikan yang terbaik. Nabi Ibrahim as meninggalkan Ismail as ketika masih bayi dan istrinya, Siti Hajar di lembah yang kering yang sangat jarang orang berlalu lalang di sekitar lembah itu. Karena keikhlasan Nabi Ibrahim as dan istrinya, Allah Swt memberikan jalan keluar dan keni’matan yang besar yaitu air zam-zam. Kemudian, setelah sekian lama baru berjumpa dengan anak kesayangannya, tak lama kemudian Nabi Ibrahim as diuji lagi yaitu melalui mimpinya. Nabi Ibrahim as melaksanakan perintah Allah Swt untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Pada akhirnya, Allah Swt tebus Nabi Ismail as dengan sembelihan yang besar, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS As-shaffat:106). Subhanallah, inilah teladan bagi kita dalam belajar untuk menerapkan rasa ikhlas dalam memberikan yang terbaik. Segala sesuatu yang kita punyai di dunia merupakan titipan Allah Swt, Jangan sampai titipan tersebut melalalaikan kita kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS:Al-Munafiquun:9).

“Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu”. Itulah sebuah peribahasa yang sering kita dengar sehari-hari. Manusia tidak pernah tahu apakah amalan si A ikhlas semata-mata karena Allah Swt. Kita pun mungkin belum “tersadar” bahwa amalan kita selama ini belum kita dasari dengan rasa ikhlas lillaahita’ala. Hanyalah Allah Swt dan malaikat pencatat amal kita lah yang mengetahui. Allah Swt berfirman “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya; (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan (seseorang) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 16-18). 

Semoga kita dapat  mengambil hikmah dari tulisan ini, mari kita menanamkan rasa ikhlas dan niat lillaahita’ala dalam setiap amalan kita. Marilah kita memberikan sesuatu yang terbaik dalam setiap amalan kita, baik hablumminallah maupun hablumminannas. Marilah kita berlomba-lomba berbuat kebaikan, fastabiqul khoirot, lillaahita’ala. Semoga bermanfaat. Mohon maaf apabila ada kesalahan.. Wassalamu’alaikum wr wb.


_______________________________
Ali Miftahudin
KPP Pratama Pandeglang






Dakwah 2219734172324101570

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan