Loading...

Kesabaran Rasulullah

Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, maka ujian yang dia hadapi akan semakin berat. Ujian itu disesuaikan dengan tingkat keimanan, s...

Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, maka ujian yang dia hadapi akan semakin berat. Ujian itu disesuaikan dengan tingkat keimanan, sehingga Nabi teladan kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mempunyai derajat tinggi di sisi Allah Azza wa Jalla, mendapatkan ujian yang sangat berat dalam mengemban misi kerasulannya.

Rasulullah adalah teladan kita dalam segala hal. Akhlaknya yang mulia telah tercatat dalam catatan sejarah, sehingga bukan hanya kaum muslimin yang merasa kagum dengan kemuliaannya, bahkan orang yang kafir pun percaya dengan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, kaum Arab yang mengenalnya telah memberi gelar Al Amin yaitu orang yang terpercaya.

Beliau terkenal sangat teguh memegang amanat. Tentu saja hal itu merupakan bagian dari kesabaran yang besar, kesabaran untuk melanggar kepercayaan orang lain. Banyak orang yang menitipkan barang kepada Beliau, dan dengan penuh amanah beliau menjaga titipan orang lain tersebut. Beliau juga sangat mempertahankan kejujuran dalam segala hal, sehingga dalam bidang perdagangan beliau juga seringkali dipercaya untuk membawa barang dagangan.

Beliau yang di masa mudanya di gelar al-amin, atau seseorang yang terpercaya, bahkan harus mendapatkan hinaan sebagai pendusta, bahkan orang gila oleh kaum kafir yang tidak mempercayai apa yang dia sampaikan. Bagaimana mungkin seseorang yang dulu dianggap sebagai seorang yang terpercaya, berbalik gelar menjadi pendusta dan orang kafir? Hal ini adalah ujian bagi seseorang yang menyampaikan risalah yang mulia itu.

Ujian-ujian kepada Beliau sesungguhnya bukan hanya itu. Sedari kecil, kisah hidup lelaki mulia yang kita cintai itu sudah diliputi dengan ujian. Abdullah, ayahnya meninggal sebelum beliau lahir, dan Aminah, ibundanya meninggal ketika beliau masih membutuhkan kasih sayang. Beliau menjalani kehidupan sebagai yatim piatu, namun Allah mengganti ujian beliau dengan kasih sayang yang lain. Beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthallib yang sangat menyayanginya. Kemudian asuhan itu dilanjutkan oleh paman beliau yang juga sangat menyayanginya, Abu Thalib.

Kita dapat membayangkan, bagaimana perasaan seorang anak manusia yang kehilangan kedua orang yang dikasih sayanginya yaitu orang tuanya. Betapa banyak kesedihan yang tercurah namun Nabi Muhammad tetap menjalaninya dengan kesabaran yang besar. Beliau tidak menjalaninya dengan berkeluh kesah, tidak pula merasa rendah diri, bahkan beliau ketika remaja terus berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal, baik dalam akhlak maupun profesi beliau sebagai seorang pedagang.

Ketika usia beliau 13 tahun, beliau mulai berdagang ke Syam, menemani paman beliau. Dalam usia muda, beliau menempa diri untuk mandiri dan berusaha sekuat tenaga mendapat rezeki yang halal. Walaupun jauh jarak yang ditempuh, betapa besarnya pun kesulitan yang dihadapi, namun Beliau terus menempa jiwa profesionalisme beliau, bekerja dengan ikhlas dan jujur. Ujian dalam kehidupan dianggap sebagai bagian dalam kehidupan yang harus dihadapi dengan hati yang lapang.

Rasulullah tetap bersabar dalam kebaikan dengan menjaga amanah dalam berdagang. Tak pernah sekalipun beliau berbuat curang, beliau menjaga integritasnya sehingga semakin lama sifat amanah dan profesionalisme dalam berdagang menjadi hal yang identik dengan beliau.

Sebagai rahmat dari Allah, beliau akhirnya dipercaya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid. Dalam perkenalan tersebutlah, Bunda Khadijah Rhadiyallahu ‘anha mengetahui betapa mulia akhlak Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hingga akhirnya kedua pasangan yang mulia diperjodohkan oleh Allah Azza Wa Jalla.

Akhlak mulia Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam yang lainnya adalah beliau tak mudah marah bila menyangkut aspek duniawi. Dalam kitab Zaadul Ma’ad yang dikarang oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dikisahkan berapa kisah tentang kesabaran Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.

Suatu saat beliau pernah meminjam seekor unta. Lalu pemiliknya mendatangi beliau untuk mengambil kembali untanya, namun dibarengi dengan perkataan yang kasar dan keras. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang mendengar perkataan tersebut sontak marah dan hendak bertindak terhadap orang tersebut. Namun kemarahan sahabatnya dicegah oleh beliau. Beliau bersabda,
“Biarkan dia, karena orang yang mempunyai hak berhak untuk berkata.”

Dalam kisah yang lain, ada seorang Yahudi yang menjual barang kepada beliau. Sebelumnya telah diatur jangka waktu tertentu yang sudah disepakati bersama. Tapi batas waktu jatuh tempo belum tiba, Yahudi itu mendatangi beliau untuk menagih pembayaran.

  “Sekarang belum jatuh tempo.” Rasulullah berkata.

“Kalian orang-orang Bani Abdul-Muthallib memang suka mengulur-ulur waktu.” Kata Yahudi tersebut.

Para sahabat yang mendengarnya menjadi marah, dan hendak melakukan sesuatu kepada Yahudi tersebut. Namun Rasulullah melarang mereka, bahkan beliau menjadi bertambah lemah lembut kepada Yahudi tersebut.

Ternyata orang tersebut hanya ingin membuktikan ciri kenabian Nabi. Dia berkata, “Segala sesuatu dari tanda-tanda kenabian yang ada pada diri beliau seudah kuketahui, dan tinggal satu saja yang belum kuketahui, yaitu kekerasan orang yang tidak tahu tentang diri beliau, justru membuat beliau menjadi bertambah lemah lembut. Karena itu aku ingin mengetahuinya.”

Kemudian orang Yahudi tersebut memeluk agama Islam setelah merasakan sendiri kesabaran dan akhlak Nabi Muhammad.

Bisakah kita menuruti akhlak junjungan kita?




_______________________________________________________
Andi Zulfikar
KPP Pratama Maros






Kisah 5817166834758907599

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan