Loading...

Terimakasih Kakak

Namaku Aya alisia. Usiaku lima belas tahun. Aku anak kedua, perempuan. Kakakku bernama Ahmad zuhdi, usianya duapuluh tiga tahun, bisa dibil...

Namaku Aya alisia. Usiaku lima belas tahun. Aku anak kedua, perempuan. Kakakku bernama Ahmad zuhdi, usianya duapuluh tiga tahun, bisa dibilang kakakku adalah kakak yang super sibuk. Aku suka membaca dan memasak. Untuk remaja sepertiku, tidak ada yang special dariku. Kedua orang tuaku meninggal karena tragedi pesawat jatuh ketika usiaku sebelas tahun. Aku tinggal bersama Bi Ulan, Pak Mulya dan kakakku tercinta. Ayahku seorang pengusaha. Perusahaan yang beliau dirikan cukup terkenal dan sudah memiliki cabang di tiga Negara.

Dikelas, aku dikenal sebagai anak yang aktif. Bahkan disetiap acara, aku selalu ditunjuk untuk menjadi panitia. Hari ini kami sedang mempersiapkan diri untuk acara besar yang diadakan sekolah. Sinar matahari disore hari sangat membuatku mulai mengantuk, suara-suara klakson tidak terlalu terdengar dari dalam mobil. Aku melihat, banyak anak sekolah mulai menyerbu angkutan umum disore ini. Kemacetan dijalan mulai terjadi.

Tak sadar aku sudah berada didepan rumah, aku turun dari mobil dan berjalan dengan wajah yang begitu lelah. Bi Ulan menyambutku dengan senyuman. Ngantukku masih menyerang, aku menuju kamar dan mulai memejamkan mata. Membayangkan sesuatu yang luar biasa.


Malam telah tiba, sang raja siang sudah tak nampak lagi, tetapi tetap memberikan beberapa cahayanya untuk sang bulan, agar sinarnya dapat menemani para penghuni bumi di malam hari. Sudah hampir larut, malam terdengar suara ketukan pintu kamarku. “Non bangun, mas Zuhdi udah pulang non.” Aku terbangun dan melihat jam sejenak, 11:48 kakakku baru pulang? Aku keluar dari kamar, melihat kak Zuhdi memasuki kamarnya. “Ka…” Aku berjalan menuju kamarnya. “Kak Zuhdi.” Diam, ia masih berusaha membuka dasinya. Aku mencoba memasuki kamarnya. “Ka Zuhdi, Aya mau ngomong, sekolah mau ngadain acara, Aya nanti mau nampil speech di sekolah, kakak..” Mulai ada rasa takut. “Kakak bisa ga dateng?” Aku mulai diam, menunggu jawaban dari ka Zuhdi. Ka Zuhdi menghela nafas, berjalan dan berdiri dihadapanku. “Iya, in sha Allah kakak usahain." Ka Zuhdi memegang kedua pundakku. Aku tersenyum.

Pagi ini kami harus bergerak cekatan, mengecek kembali agar tidak terjadi kesalahan. Aku dan Agny sedang berada di kantin, bukan, bukan untuk makan, Agny ingin aku mengetesnya. Aku bahagia sekali, hari ini ka Zuhdi akan melihatku tampil di atas panggung. Aku sudah mengganti pakaian sejak pagi tadi dan meminta teman membantu untuk memberi sedikit sentuhan pada wajahku. Acara akan segera dibuka, tapi..aku sama sekali belum melihat ka Zuhdi datang dengan mobilnya. “Aya tunggu di belakang panggung ya.” Kata salah seorang panitia. Aku berjalan kebelakang panggung, tinggal dua penampilan lagi, setelah itu aku tampil tapi, kenapa ka Zuhdi belum datang? Apa kakak lupa kalau ia sudah berjanji? Menyebalkan.

Saatnya giliranku. “Semangat aya!” Agny menyemangatiku, kakiku mulai menginjak tangga panggung, saat di depan panggung aku melihat sejenak para penonton. Ka Zuhdi! Ada ka Zuhdi duduk paling belakang. Aku mengambil nafas sejenak dan mulai berpidato diatas panggung. Saat bibirku masih terus berbicara, tiba-tiba mataku mengarah pada Ka Zuhdi, ia seperti mencari sesuatu. Handphone, sepertinya ia harus menerima panggilan, tanpa banyak berfikir ka Zuhdi mengangkat telfonnya dan pergi dari kursi penonton. Aku berhenti bicara, semua penonton menatapku kebingungan. “Aya semangat!!” Teriak Agny, haah.. Aku hanya bisa menghela nafas.

Aku turun dari panggung. Aku melihat kearah ka Zuhdi yang selesai menerima telfon tapi, ia tidak kembali ke kursi penonton, ia berlari menuju mobilnya. Aah… sudahlah, ka Zuhdi memang orang sibuk, tak seharusnya aku mengajaknya kesini. Pukul 20:17 aku selesai dengan tugas ku, suasana malam kali ini, tak dapat ku simpulkan, jujur hari ini benar-benar tidak bejalan sesuai yang ku inginkan.

Pagi ini aku bangun pukul 2:30 sengaja aku memasang alarm, walau masih mengantuk aku tetap berusaha bangun dari kasur dan selimut yang nyaman ini. Aku membuka pintu kamarku, terlihat semua lampu dibawah sudah dinyalakan, aku segera turun menuju ruang makan.

“Bi! Bi Ulan!!” teriakku, berharap bi Ulan segera datang.

“Iya non, ada apa pagi-pagi sudah panggil bibi? Tumbenan non?” Suara bi Ulan yang sedikit terengah-engah.

“Bibi lagi ngapain?”

“Ngurusin taneman non bareng pak Mulya, emang kenapa non?” wajah bi Ulan terlihat kebingungan.

“Bibi kan seharusnya masak buat ka Zuhdi, sarapan bi.. bentar lagi ka Zuhdi kan berangkat, kok malah ngurusin taneman dihalaman ?? “

“Lho non? Tapi..”

“Oia bi, untuk pagi ini masaknya dua porsi ya bi, soalnya aku mau ikut sarapan bareng ka Zuhdi.” Aku memotong perkataan bi Ulan.

“Non, mas Zuhdi ga pulang… kayaknya nginep dikantor deh, tadi malem bibi sama pak Mulya udah nungguin sampe malem, terus mas Zuhdi nelfon masih banyak kerjaan, jadi ga bisa pulang ke rumah, gitu non..” bi Ulan bicara pelan-pelan. Aku menghela nafas, kepalaku menunduk, kedua tanganku tetap berada di atas meja, tiba-tiba air mataku jatuh, tak dapat kutahan. “Oh, yaudah bi, maaf kalo ganggu, silahkan lanjutkan.” Aku berdiri, berjalan menaiki tangga dengan perlahan, masuk dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Yaah.. mungkin belum saatnya aku sarapan dengan ka Zuhdi, mungkin lain waktu. Lain waktu.

Pagi ini kujalani seperti biasa, tak ada yang baru. Sarapan yang ditaruh diatas meja makan terlihat lengkap, serba ada. “Bi..” bi Ulan terlihat sedang membuat susu untukku. “Lain kali ga usah buat sarapan  sebanyak ini kalo intinya cuma satu orang yang makan.” Dengan segera aku bejalan cepat menuju mobil. Tak satupun makanan yang kusentuh pagi ini. “Non makan dulu atau enggak bawa bekel.” Bi Ulan mengejarku tapi, aku lebih dulu sampai, aku menutup pintu mobil. “Jalan pak.” Aku menyuruh pak Mulya menjalankan mobilnya, pak Mulya segera menyalakan mobil dan menjalankannya.

Sesampainya disekolah, aku disambut oleh teman dekatku, Agny. “Aya hari ini mau ga dateng kerumah? Kakakku baru dapet kerja di restoran bintang lima Jakarta, kakakku ngundang kamu buat nyobain masakan dia, mau ga?”  Aku berfikir sejenak. “Boleh.” Itu jawabanku. Bel pulang berbunyi, aku pulang bersama Agny menaiki mobil pribadinya.

Rumah Agny cukup luas, rumah berwarna putih dan abu, dihiasi dengan tanaman hijau, bewarna warni. Aku dan Agny segera masuk. Suasananya membuatku mengantuk, rumahnya berbau khas, seperti di tempat SPA. Aku dan Agny menaruh tas di sofa dan menuju ruang makan, terlihat ka Dian sedang sibuk membuat makanan. Aroma makanan sudah dapat tercium, sangat menggoda. Selesai memasak ka Dian menyuruh kami segera menyantapnya, aku tak bisa memberikan comment, aku sangat menikmatinya. Malam ini hujan turun sangat deras, terpaksa aku harus menunggu sampai hujan sedikit reda. Ketika hujan mulai reda, aku diantar pulang oleh supir pribadinya Agny. Pukul 9:35 aku sampai dirumah, aku berlari kecil agar hujan tidak terlalu membasahiku, aku membuka pintu.

“Dari mana saja kamu?” terdengar suara ka Zuhdi.

“Ka Zuhdi kapan pulang?” suaraku terdengar bahagia, mataku membulat.

“Kakak tanya, darimana kamu? Perempuan jam segini baru pulang masih pakai seragam?” nada suara ka Zuhdi mulai naik. “Kamu itu anak perempuan, ga pantes pulang semalem ini, kamu itu kalau mau pergi bilang-bilang dulu, izin dulu, kalau ada apa-apa sama kamu gimana??!! Siapa yang mau bantuin?! Emang diluar sana banyak yang kenal kamu??!” suasana menjadi sunyi. Aku diam, mencoba menahan tangisan. “Aku juga capek dibohongin mulu sama kakak.” Aku berlari menuju kamar, menutup pintu dengan kencang.

Pagi ini aku berangkat seperti biasa, ketika aku turun menuju ruang makan, aku melihak ka Zuhdi sedang menikmati sarapannya. Sedikit bingung, aku duduk, baru saja ingin menyantap sesendok nasi. “Hari ini kakak yang antar jemput.” Ka Zuhdi selesai dengan sarapannya dan pergi keluar menyiapkan mobil. Aku mengganti sarapanku menjadi roti dan segera menaiki mobil. Hening, hanya terdengar suara radio. “Menyebalkan, emang kakak ga pernah pulang malem, lebih malem dari pada aku! Terserah aku lah, aku udah SMA bukan anak kecil lagi.” Fikirku dalam hati yang masih terus mengomel. Sesampainya disekolah, aku mulai merenungkan hal yang tadi malam terjadi. Benar juga sih, seharusnya aku izin dulu, terus ga main terlalu malem, terus minta pak Mulya aja yang jemput. Ini semua salah ku, aku harus minta maaf terlebih dahulu.Pulang sekolah aku dijemput ka Zuhdi kembali. Maaf, itu yang sedang aku coba katakan, tapi… susah sekali! Bahkan sampai tiba didepan rumah, sama sekali tak bisa ku katakan, kata yang paling sulit diucapkan adalah kata “Maaf.”

Sudah tiga hari ini ka Zuhdi tidak masuk kerja, membuatku bertanya pada bibi, aku turun kebawah, melihat bi Ulan sedang sibuk menyapu.

“Bi Ulan kakak kemana?”

"Lho emang non ga tau? Tadi mas Zuhdi pamit keluar negri, ada kerjaan disana. Mas Zuhdi tiga hari ga kerja itu dapet waktu istirahat dari kantor, biar gak terlalu kecapean disana.” Aku terdiam. Aku.. benar-benar kesal, berlari, kembali kekamar. Bagaimana ini? Kami masih bermusuhan.

Sebulan telah berlalu, besok ka Zuhdi kembali ke Indonesia. Aku harus menyambut kedatangannya. Malamnya aku berusaha keras membuat pudding, makanan kesukaan kakak. Pukul 9:25 aku selesai. “Pudding coklat, rainbow, roti, siap!!.” Aku menaruh semua pudding tersebut kedalam kulkas. Sudah tak sabar untuk hari esok.

Pagi ini aku sangat bersemangat, sambil menunggu, aku membaca novel dikamar. Pukul 10:17 ka Zuhdi belum pulang juga, aku turun dan menyalakan TV. “Aduuh.. mau ke kamar mandi.” Aku berlari menuju WC terdekat. “Non Aya!! Non Aya sini cepetan!!!” Teriakkan bi Ulan mengisi seluruh ruangan. “Pasti ka Zuhdi.” Aku segera keluar berlari menuju bi Ulan. “Bi.. kenapa?” aku berhenti berkata ketika mataku mulai menuju Televisi. “Seorang pemuda ditabrak oleh pemuda yang sedang mabuk, keduanya dilarikan kerumah sakit citra Jakarta dan diduga keduanya telah tewas, belum ada kabar dari pihak keluarga, berikut ciri-cirinya.” Kakak.. itu ka Zuhdi, tubuhku bergetar, airmataku benar-benar tak bisa ku tahan. Aku segera menuju RS citra Jakarta. Sesampainya di RS aku melihat wajah kakakku, putih bersinar, menampakkan senyumnya. Kakak.. kenapa secepat ini??

Usai sudah pemakaman kakakku. Sepi… sunyi. Aku berjalan menuju kamar ka Zuhdi, duduk dikasurnya, melihat sekeliling kamarnya, aku menidurkan diri diatas kasur, memejamkan mata. Aku melihat ka Zuhdi disampingku, bermain bersamaku, membelikanku es krim, merayakan hari ulang tahunku, mengantarku kesekolah, mencium keningku, mengajariku matematika, menjahiliku, sekarang.. ka Zuhdi didepanku, ia memegang tanganku, kakak.. aku ingin mengatakan sesuatu. “Aya kakak udah maafin Aya, Aya ga perlu khawatir lagi, Aya ga perlu takut kehilangan kakak, masih banyak orang yang peduli sama Aya. Jaga kesehatan yaa, turutin nasehat yang Aya dapat. Ka Zuhdi selalu ada dihati Aya.” Kakak memelukku, dengan erat, tangisan tak dapat dihentikan. Kakak maafin Aya yang tidak mengerti keadaan kakak, Aya akan senantiasa mendoakan kakak. Terimakasih kakak, untuk semua.



_____________________________________
Shofwah Mu'dhomah









Shofwah Mu'dhomah 2410761212737950571

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan