Loading...

Perceraian Orang Tua Jadi Inspirasi Hidupku

Sering kali kondisi selalu menjadi kambing hitam atas ketidakberdayaan seseorang dalam menggapai cita – cita. Salah satu kondisi yang serin...

Sering kali kondisi selalu menjadi kambing hitam atas ketidakberdayaan seseorang dalam menggapai cita – cita. Salah satu kondisi yang sering dijadikan kambing hitam oleh kebanyakan orang adalah broken home.

Ternyata menjadi anak korban broken home tak seburuk dan sejelek yang ada pada benak orang – orang pada umumnya, hidup hancur, pengagangguran, pergaulan bebas, merusak hidup orang lain, jauh dari agama dan dibenci tetangga.  Broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua yang  tak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Broken home bisa juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera. Faktanya hal tersebut sangat berbeda dengan yang aku alami. Namaku Bella Candita seorang mahasiswi prestatif lulusan dari salah satu Universitas ternama di Indonesia. Bella merupakan nama panggilanku yang sering dipakai sehari – hari. Aku seorang gadis remaja yang ramah, cerdas, santun dan baik hati. Belajar dari pengalaman itulah yang membawaku dalam sebuah kesuksesan hidup. 

Sejak kecil aku dibesarkan oleh seorang nenek berprofesi Pembantu Rumah Tangga (PRT). Kedua orang tua bercerai diusia aku yang masih bayi. Kedua orang tua kini telah memiliki keluarga baru masing-masing. Ayahku kini menikah dengan seorang wanita berdarah Sumatera dan tinggal bersama kedua anaknya tanpa mengingatku dan memberi nafkah sedikitpun. Ibuku menikah dengan seorang lelaki berkebangsaan Taiwan. Berbeda dengan ayah, ibulah yang selalu memberiku materi untuk dapat memenuhi hidup serta dapat bersekolah hingga kini. 

Saat duduk di bangku SD, kata orang – orang aku tergolong anak yang cerdas dan pintar. Setiap akhir semester selalu mendapat rangking 3 besar di kelas, semua guru bangga kepadaku, banyak teman yang menyukaiku. Tetapi hal itu tidak cukup untuk membuatku bahagia karena tepat saat mengambilan raport dimana semua orang tua mengambil rapot anaknya, ada seorang ayah yang bangga kepada anaknya. 

“ Kamu sangat pintar nak, kamu dapat ranking 5 besar” puji ayah itu.
Hatiku berkata“ itu mah belum seberapa di banding rangkingku yang masuk 3 besar”.
Tetapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, aku sangat sedih lantaran jauh dari orang tua.
“Apa gunanya pintar tapi tidak ada orang tua disini” gerutu hati ini.

Akhirnya tiba juga pada pengumuman hasil kelulusan SD. Tidak dipungkiri aku mendapat nilai terbaik di sekolah. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Seluruh anggota keluarga tidak ada yang memaksakan kehendaknya padaku untuk melanjutkan sekolah. Bahkan ketika lulus dengan nilai terbaik, tidak ada yang istimewa bagiku maupun keluarga sebab hal itu sudah terbiasa. Tekat yang sangat kuat membuatku mengikuti ujian tulis masuk SMP yang letaknya tidak jauh dari rumah. Hal ini dilakukan agar nenek tidak hidup seorang diri. Keluarga tidak ada yang tahu kalau aku mengikuti ujian tulis masuk SMP. Hanya selisih satu minggu antara ujian tulis dengan pengumuman hasil.

Satu minggu setelah ujian tulis, pengumuman hasil lolos masuk SMP telah di tempel di mading depan sekolah. Alhamdulillah, aku menduduki posisi kelas unggulan, karena di SMP tersebut memakai system kelas unggulan (siswa pandai dikumpulkan menjadi satu kelas dengan siswa pandai). Hati ini sangat senang dengan hasil tersebut. Lalu memutuskan pulang ke rumah untuk memberitahukan kepada nenek, tetapi apa daya nenekku memang kurang mengetahui terkait pendidikan bahkan tidak faham terkait baca tulis. Nenek hanya tersenyum dan berkata “Alhamdulillah, kamu lolos”. 

Dihari pertama sekolah aku merasa asing seakan – akan berada di tengah hutan yang tidak berpenghuni. Hal itu tidak berlangsung lama. Setelah itu, aku menjalani hari – hari bersama teman – teman baru. Kata orang disekitarku, aku tergolong anak yang pintar dan berhati baik sehingga aku sangat mudah untuk mencari dan menambah teman di SMP tercintaku yang letaknya di tengah – tengah sawah. Wajar, rumahku berada di tengah pedesaan. 

Usia SMP adalah usia puber remaja dimana saat itu proses menyukai lawan jenis. Kebanyakan temanku tergolong siswa yang pintar dan supel. Aku pun terikut hal tersebut. Saat kelas 2, aku merasa butuh perhatian dari seorang laki – laki. Hal ini wajar terjadi kepada wanita usia remaja yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Sehingga menyebabkanku masuk ke dalam pergaulan yang kurang baik. Dalam kurun waktu yang singkat, prestasi menurun sampai semester akhir. Kelulusan pun tiba, berbeda dengan saat kelulusan SD, pada kelulusan ini aku mendapat ranking 7 besar. Hasil tersebut tidak dapat mepupuskan tekad untuk melanjutkan sekolah ke jenjeng yang lebih tinggi. Akhirnya, telah kuputuskan untuk melanjutkan ke SMA Negeri yang ada di Kota Jember. Waktu yang dibutuhkan dari rumah menuju SMA Negeri Jember adalah ±1jam, hal ini menyebabkanku harus in the Kost. 

Kost yang tepati saat dekat dengan SMA tempaku  menimba ilmu, hanya membutuhkan waktu 5 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kostnya tergolong bagus, tetapi pergaulan disana kurang baik sehingga inilah penyebab aku terperosok ke dalam jurang pergaulan bebas. Segala puji syukur bagi Allah yang selalu saying kepada hamba-Nya, aku tidak terlalu jauh melakukan kesalahan seperti yang teman –teman kost lakukan. Aku menjalani belajar di SMA tidak ada prestasi ataupun organisasi yang diikuti. Aku hanya menjalani SEPU-SEPU (SEkolah PUlang), hal ini terus dilakukan sampai kelulusan terjadi. Setelah lulus SMA, kuputuskan untuk ikut SNMPTN dan ujian STAN. Akan tetapi, Allah berkehendak lain, semua ujian yang ku ikuti  tidak ada satu pun yang lolos. Akhirnya kuputuskan untuk kerja, tetapi nasib kurang baik diterima. Selama itu tidak pernah mendapatkan pekerjaan yang cocok.

Dia bertanya pada Allah “ Ya Allah, mungkinkah ini adalah akibat dari perbuatanku dahulu yang sering melupakan-Mu, masuk dalam pergaulan bebas, dan tidak melakukan aktivitas yang positif?”

Hampir satu tahun berlalu, telah kuputuskan untuk ikut SNMPTN kembali. Aku berjanji dengan diriku, jika kelak lolos SNMPTN, akan aktif dalam organisasi yang ada di Kampus. Waktupun berjalan dan Segala puji syukur bagi Allah, pengumuman menunjukan bahwa aku lolos diterima di perguruan Tinggi ternama yang ada di Indonesia yaitu Universitas Negeri Malang jurusan Pendidikan. Janji adalah hutang yang akan di tagih di akhirat, sehingga kupenuhi janjiku untuk aktif mengikuti organisasi yang ada di Kampus. Dua organisasi yang kupilih yaitu organisasi kerohanian dan keilmiahan. Maksud dari mengikuti organisasi kerohanian bertujuan agar menjadi manusia yang dekat dengan Allah SWT. Sedangkan organisasi keilmiahan bertujuan untuk meningkatkan skill, minat, dan bakat yang dimiliki. 

Ditahun kedua kuliah, Alhamdulillah lagi dapat lolos dalam ajang lomba LKTI yang diselenggarakan oleh universitas Negeri Yogyakarta dan memperoleh juara 2. Di semester berikutnya mengikuti ajang – ajang lomba yang sama dan hasilnya lolos menjadi finalis. Tidak ketinggalan juga, mengikuti lomba PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) yang diadakan oleh DIKTI, dan hasilnya lolos pendanaan. Prestasi demi prestasi terus kuperoleh. Uang demi uang pun berdatangan. Hikmah demi hikmah terus diperoleh, tidak ada kejadian satupun yang hikmahnya tidak diperoleh. Kini diriku tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Memang benar orang – orang bijak mengatakan “ pengalaman merupakan guru yang luar biasa”. Kedewassanku tumbuh dari pengalaman yang perih kemudian bangkit karena melihat secercah cahaya Allah SWT. 

Di malam penuh bintang di bawah sinar bulan purnama, aku berdoa “ Ya Allah, terima kasih atas semua yang telah Engkau berikan. Saya memohon ampun atas semua kesalahan yang dulu telah kulakukan. Kini kusadar bahwa Utamakan Agama, Dunia akan ikut”. “Perceraian orang tua inspirasi hidupku  ” itulah kata – kata yang sering terngiang dalam pikiranku. Karena dari perceraian orang tua dan ijin Allah, menjadikan hidupku menjadi seperti saat ini. Jika tidak pernah merasakan perihnya kehidupan, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kondisi tidak akan mengubah kita, tetapi kitalah yang mengubah kondisi. 

Saat ini aku sedang berjuang untuk menjadi Sarjana Teknologi Pertanian sangat bersyukur bisa menikmati perjalanan ini, perjalanan dari pelosok desa menuju hiruk pikuknya Kota Malang, perjalanan dari gadis pinggiran Kota Jember sampai menjadi Mahasiswi di Universitas yang unggulan, perjalanan seorang anak TKW dibesarkan tanpa ayah hingga menjadi Sarjana, perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Betapa tidak, semua ini tidak pernah dibayangkan ketika anak – anak korban perceraian orang tua menjadi seseorang yang sukses.



___________________________________________
Elivi Sofi Salafiah
Penulis dilahirkan di Jember pada tanggal 28 Juni 1990. Pada tahun 2014 penulis telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Brawijaya Malang di Jurusan Keteknikan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. Pada masa pendidikannya, penulis aktif sebagai asisten Praktikum Kimia Dasar, Mekanika Fluida, Teknik Irigasi dan Drainase, Kekuatan Bahan, dan Elektronika. Penulis aktif dalam ajang kepenulisan seperti lolos pendanaan PKMP 2012 dan 2014, juara 2 LKTI PIF UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Juara 1 essay Univesitas Veteran Yogyakarta, Juara 3 Lomba Design Produk Universitas Brawijaya, Finalis LKTI LUMBA – LUMBA Universitas Jember, Finalis MUN Universitas Indonesia, dan Finalis UNICEF Universitas Negeri Yogyakarta. Email : elivisofi@gmail.com








Kisah 1321664564153317837

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Populer 7 Hari Terakhir

Random Posts

@salahuddinDJP

Kunjungan